BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Puluhan mahasiswa dari berbagai Unit Kegiatan Khusus (UKK) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) antusias menghadiri acara nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang digelar Mapala Meratus UIN Antasari Banjarmasin di Aula Student Center (SC). Kamis (14/5/2026) pukul 14.00 Wita.
Agenda yang semula diperkirakan hanya diikuti sekitar 20 hingga 30an orang ternyata menarik lebih banyak peserta, termasuk komunitas luar kampus.
Suasana nobar berlangsung kondusif, dengan penonton serius menyimak film investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang menyoroti deforestasi cepat, kerusakan alam, serta konflik agraria akibat ekspansi agribisnis di tanah Papua.
“Tujuan kita menonton ini agar mahasiswa tidak diam dan tidak bersuara, atau bahkan tidak melihat keadaan saudara kita di Papua. Makanya kita adakan nobar ini untuk UKM dan UKK, ternyata di luar prediksi banyak yang hadir pula dari komunitas-komunitas luar,” ujar Ketua Umum Mapala Meratus UIN Antasari, Shihabuddin Khatami.
Baca juga: 214 Jemaah Haji Asal Balangan Resmi Berangkat, Bupati Balangan Sampaikan Pesan Mendalam
Tak hanya nobar, usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan berdiskusi singkat membahas isu-isu yang diangkat dari film yang baru saja selesai ditonton.
“Hari ini mahasiswa antusiasnya luar biasa, rasa penasaran mereka karena film ini memang luar biasa. Aman, karena mahasiswa mampu memilah mana yang baik dan tidak baik,” kata Pemantik diskusi dari Komunitas Gemar Belajar, Gaga Andrus
Hadir pula Ketua Umum IMAPA (Ikatan Mahasiswa Papua) Kalsel, Rikardo Holombau, yang memberikan perspektif langsung di depan puluhan mahasiswa dan anggota komunitas, setelah menonton film sebagai seorang mahasiswa asli warga Papua.
Dengan suasana aman dan kondusif, nobar ini tidak hanya menjadi ajang tontonan, tetapi juga ruang refleksi dan solidaritas mahasiswa terhadap isu lingkungan dan sosial di Papua.
“Sebagai warga Papua, film ini sangat bagus karena menceritakan apa yang memang terjadi di Papua sekarang. Sekiranya dari film ini masyarakat luar tahu kondisi papua sebenarnya,” ungkap Rikardo Holombau. (Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)