TRIBUNJATIM.COM – Pintu Air Jagir menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Surabaya yang masih berfungsi hingga sekarang.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini dikenal sebagai pengendali banjir sekaligus penyuplai air bersih bagi warga Kota Pahlawan.
Pintu Air Jagir berada di kawasan Jagir Wonokromo, tepat di dekat aliran Sungai Jagir dan jalur rel kereta api Wonokromo. Lokasi tersebut sejak lama menjadi bagian penting dalam sistem tata air Surabaya.
Pintu Air Jagir juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya Kota Surabaya. Selain memiliki fungsi penting dalam pengaturan debit air, kawasan Jagir juga menyimpan sejarah panjang sejak era Kerajaan Majapahit.
Dalam catatan sejarah, daerah ini pernah menjadi lokasi bersandarnya pasukan Tar-Tar dari Tiongkok pada tahun 1293.
Armada Tar-Tar yang hendak menyerang Kediri saat itu berhasil dihancurkan dan diusir oleh pasukan Raden Wijaya pada 31 Mei 1293.
Kini, keberadaan Pintu Air Jagir bukan sekadar infrastruktur pengairan, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah Surabaya dari masa kerajaan hingga era kolonial Belanda.
Dibangun untuk Kendalikan Banjir Surabaya
Pintu Air Jagir dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan selesai pada tahun 1917. Pembangunan pintu air tersebut dilakukan untuk mengendalikan banjir yang kerap melanda Kota Surabaya.
Selain itu, pintu air juga difungsikan untuk menahan intrusi air laut agar tidak masuk ke wilayah sungai dan sumber air bersih warga. Fungsi tersebut sangat penting karena Surabaya berada di kawasan pesisir.
Dalam perkembangannya, Pintu Air Jagir juga digunakan untuk menampung pasokan air yang kemudian diolah menjadi air minum bagi masyarakat Surabaya.
Air dari Sungai Jagir menjadi salah satu sumber utama kebutuhan air bersih kota, sebagaimana dikutip dari laman jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id.
Bendungan Dam Jagir mulai dioperasikan pada era 1920-an dan memiliki peran besar dalam mengontrol aliran sungai di Surabaya sehingga genangan banjir dapat berkurang.
Bangunan pintu air tersebut memiliki tiga pintu utama. Masing-masing pintu mempunyai panjang sekitar 8 meter, lebar 8,3 meter, dan tinggi mencapai 5 meter sebagaimana dijelaskan dalam laman pemerintahan.surabaya.go.id.
Hingga kini, sistem pintu air itu masih digunakan dan dijaga secara bergantian oleh petugas pintu air agar fungsi pengendalian debit sungai tetap berjalan dengan baik.
Baca juga: Sejarah Panjang Sawah Lamongan, dari Kerbau Bajak Sawah hingga Jadi Jalur Dagang Majapahit
Sungai Jagir dan Tata Kota Era Belanda
Sungai Jagir merupakan sungai buatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.
dari budaya-indonesia.org, sungai tersebut dibuat untuk menata Kota Surabaya agar memiliki sistem tata kota menyerupai Amsterdam di Belanda.
Aliran Sungai Jagir mengarah ke timur dan membentang di sepanjang Jalan Jagir Wonokromo. Sungai ini juga menjadi salah satu anak Sungai Mas yang terhubung dengan aliran Sungai Brantas.
Pada masa lampau, Sungai Jagir dikenal memiliki air yang jernih. Banyak warga memanfaatkan sungai tersebut untuk mandi, mencuci, hingga berenang.
Namun seiring perkembangan kota dan meningkatnya pencemaran, kondisi air Sungai Jagir berubah menjadi keruh.
Pemerintah Kota Surabaya kemudian melakukan berbagai upaya pembersihan sungai untuk menjaga kualitas lingkungan.
Keberadaan Pintu Air Jagir di atas Sungai Jagir menjadi bagian penting dalam sistem pengaturan debit air kota.
Air sungai yang dialirkan melalui pintu air kemudian dimanfaatkan PDAM sebagai bahan baku air bersih.
Letak Pintu Air Jagir juga cukup strategis karena berada tepat di dekat Stasiun Wonokromo dan jalur rel kereta api, sehingga bangunan tersebut mudah dikenali masyarakat Surabaya.
Baca juga: Istana Gebang Blitar, Rumah Masa Remaja Bung Karno yang Jadi Museum Sejarah
Pernah Direnovasi Bergaya Belanda
Pintu Air Jagir pernah mengalami perombakan besar pada tahun 1978. Dalam renovasi tersebut, bentuk ornamen bangunan diubah mengikuti gaya arsitektur Belanda.
Meski demikian, bentuk asli bangunan tetap dipertahankan agar tidak menghilangkan nilai sejarah yang dimiliki pintu air tersebut. Gaya kolonial masih terlihat jelas pada bagian struktur bangunan hingga sekarang.
Setelah direnovasi, sejumlah lampu hias juga dipasang di area sekitar pintu air untuk memberikan pencahayaan pada malam hari.
Bangunan Pintu Air Jagir sendiri menghadap langsung ke jalur rel kereta api dan berada di tepi jalan raya Jagir Surabaya.
Posisi tersebut membuatnya menjadi salah satu bangunan tua yang mudah ditemukan di tengah kota.
Selain berfungsi sebagai pengendali air, keberadaan bangunan ini juga menjadi simbol keberhasilan sistem pengairan peninggalan Belanda yang masih digunakan hingga sekarang.
Banyak masyarakat Surabaya mengenal kawasan Jagir melalui keberadaan pintu air ini. Tak sedikit pula warga yang menjadikannya sebagai penanda kawasan Wonokromo.