Sejarah Taman Nasional Baluran, dari Hutan Lindung hingga Dijuluki Africa van Java
Mujib Anwar May 14, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Taman Nasional Baluran menjadi salah satu kawasan konservasi paling terkenal di Jawa Timur. 

Kawasan yang berada di Kabupaten Situbondo ini dikenal luas karena memiliki hamparan savana yang eksotis hingga dijuluki Africa van Java.

Secara administratif, Taman Nasional Baluran berada di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki luas sekitar 25.000 hektare hingga 29.706,59 hektare.

Dikutip dari tnbaluran.ksdae.kehutanan.go.id, Taman Nasional Baluran merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dan dikelola menggunakan sistem zonasi.

Kawasan ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, budidaya, hingga pariwisata dan rekreasi alam. 

Pengelolaannya juga mengacu pada prinsip konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.
Secara geografis, kawasan Baluran berada di koordinat 114° 29’ 10” – 114° 39’ 10” BT dan 7° 29’ 10” – 7° 55’ 55” LS. 

Di bagian utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah timur berbatasan dengan Selat Bali, sementara sisi selatan dan barat berbatasan dengan sejumlah desa dan aliran sungai.

Baca juga: Rekomendasi Tujuh Pantai di Situbondo, Pesona Africa van Java yang Memikat Mata

Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo
Savana Bekol Taman Nasional Baluran Situbondo (KOMPAS.com)

Awal Sejarah Baluran

Sejarah kawasan Baluran bermula sejak masa pemerintahan Hindia Belanda.

Pada awalnya, kawasan ini dikenal sebagai lokasi berburu dan area hutan yang memiliki potensi besar bagi perlindungan satwa liar.

Dilansir dari Kompas.com, sebelum tahun 1928 seorang pemburu berkebangsaan Belanda bernama A.H. Loedeboer pernah singgah di kawasan Baluran.

Loedeboer disebut memiliki perhatian besar terhadap kekayaan alam Baluran. Ia menilai kawasan tersebut sangat penting untuk perlindungan satwa, khususnya mamalia besar.

Pada tahun 1920, eksistensi kawasan Baluran diawali dengan usulan pencadangan Hutan Blitoksa seluas 1.553 hektare untuk dijadikan areal hutan produksi tanaman jati atau jati bosch.

Kemudian pada tahun 1928, upaya konservasi mulai dirintis oleh Kebun Raya Bogor. Langkah itu menjadi awal perlindungan kawasan Baluran sebagai habitat alami satwa liar.

Status Konservasi 

Perjalanan Baluran sebagai kawasan konservasi terus berkembang pada dekade 1930-an. 

Pemerintah Hindia Belanda mulai menetapkan status perlindungan terhadap kawasan tersebut.

Pada 29 Januari 1930, Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Surat Keputusan Nomor 89 yang menetapkan Baluran sebagai Hutan Lindung atau Boschreserve.

Masih pada tahun yang sama, Direktur Kebun Raya Bogor, K.W. Dammerman, juga mengusulkan agar kawasan Baluran dijadikan kawasan hutan lindung untuk menjaga kelestarian satwa dan ekosistemnya.

Selanjutnya pada 26 September 1937, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan Baluran sebagai Suaka Margasatwa melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 9 Tahun 1937.

Penetapan tersebut membuat kawasan Baluran memiliki status resmi sebagai wilayah perlindungan satwa liar dengan luas sekitar 25.000 hektare.

Setelah Indonesia merdeka, status Suaka Margasatwa Baluran kembali diperkuat melalui keputusan Menteri Pertanian dan Agraria Republik Indonesia pada tahun 1962.

Baca juga: Dari Panarukan ke Situbondo, Kisah Panjang Sejarah di Pesisir Utara Jawa Timur

Panorama Taman Nasional Baluran,
Panorama Taman Nasional Baluran (KOMPAS.com/Caroline Saskia Tanoto)

Resmi Menjadi Taman Nasional

Baluran kemudian resmi menyandang status taman nasional pada 6 Maret 1980. 

Penetapan itu diumumkan bertepatan dengan Hari Strategi Konservasi Dunia oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia.

Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah kembali memperkuat status kawasan tersebut melalui Surat Pernyataan Menteri Pertanian Nomor 736/Mentan/X/1982 tertanggal 14 Oktober 1982.

Lalu pada 23 Mei 1997, Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 279/Kpts-VI/1997 yang mengukuhkan kawasan Taman Nasional Baluran dengan luas 25.000 hektare.

Saat ini, kawasan Baluran dibagi ke dalam beberapa zona, mulai dari zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan intensif, zona pemanfaatan khusus, hingga zona rehabilitasi.

Pengelolaan kawasan dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung aktivitas penelitian, pendidikan, dan wisata alam berkelanjutan.

Dijuluki Africa van Java

Taman Nasional Baluran dikenal luas dengan julukan Africa van Java

Julukan itu muncul karena kawasan Baluran memiliki bentang savana yang luas dan menyerupai padang rumput di Afrika.

Salah satu lokasi paling terkenal adalah Savana Bekol. Area ini kerap menjadi tempat wisata favorit karena pengunjung bisa melihat hamparan rumput luas dengan latar Gunung Baluran.

Selain savana, Baluran juga memiliki berbagai tipe ekosistem lain seperti hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hingga pegunungan.

Kawasan tersebut juga menyimpan kekayaan flora dan fauna yang sangat tinggi. 

Berdasarkan data pengelola kawasan, terdapat sekitar 444 jenis tumbuhan dan ratusan jenis satwa liar di Baluran.

Beberapa satwa yang hidup di kawasan ini antara lain banteng Jawa, rusa, kijang, ajag, lutung, monyet ekor panjang, hingga macan tutul.

Baca juga: Wisata Situbondo Dinilai Mampu Dongkrak Kesejahteraan Warga, Yoyok Mulyadi Tekankan Peran Perawatan

Akses jalan masuk Taman Nasional Baluran menuju Pantai Bama melalui Savana Bekol.
Akses jalan masuk Taman Nasional Baluran menuju Pantai Bama melalui Savana Bekol. (TribunJatim.com/Nur Ika Anisa)

Potensi Wisata dan Tantangan

Selain dikenal sebagai kawasan konservasi, Baluran juga menjadi destinasi wisata alam favorit di Jawa Timur. 

Beberapa lokasi wisata yang populer antara lain Pantai Bama, Savana Bekol, Evergreen Forest, hingga Gua Jepang.

Pantai Bama menjadi salah satu titik wisata paling ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kawasan pantai ini terkenal dengan pasir putih dan hutan mangrovenya.

Namun di balik keindahan alamnya, Taman Nasional Baluran juga menghadapi sejumlah tantangan konservasi. 

Salah satunya adalah penyebaran tanaman invasif Acacia nilotica yang mengganggu ekosistem savana.

Tanaman tersebut diketahui mulai diperkenalkan pada tahun 1969 sebagai sekat bakar. Namun pertumbuhannya yang sangat cepat membuat area padang rumput alami semakin menyempit.

Kondisi itu berdampak pada habitat satwa liar, termasuk banteng Jawa yang menjadi ikon utama Taman Nasional Baluran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.