Oleh: Yusran
Pendidik SMA Islam Athirah 1 Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, peran guru justru semakin penting.
Hari ini murid hidup di era media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas.
Mereka bisa belajar dari mana saja, menonton video pembelajaran kapan saja, bahkan bertanya kepada teknologi dalam hitungan detik.
Namun di balik semua kecanggihan itu, ada satu hal yang tetap tidak bisa digantikan mesin, yaitu keteladanan seorang guru.
Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan “digugu lan ditiru”.
Guru dipercaya sekaligus diteladani.
Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan makna yang sangat dalam.
Menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, melainkan menghadirkan contoh hidup yang bisa dilihat langsung oleh murid setiap hari.
Apa yang diucapkan guru, bagaimana cara guru bersikap, bahkan bagaimana ia memperlakukan orang lain, semuanya diam-diam direkam oleh murid.
Banyak orang mungkin lupa rumus matematika yang pernah diajarkan gurunya dulu.
Banyak juga yang tidak lagi mengingat detail teori-teori sosial yang pernah diajarkan di sekolah.
Tetapi hampir semua orang masih mengingat guru yang pernah memotivasi mereka, guru yang sabar mendengarkan keluh kesah, atau guru yang menegur dengan penuh kasih.
Di situlah letak besarnya pengaruh seorang pendidik.
Guru meninggalkan jejak bukan hanya di kepala murid, tetapi juga di hati mereka.
Karena itu, menjadi guru sebenarnya bukan pekerjaan biasa.
Guru adalah pekerjaan yang menyentuh masa depan.
Apa yang dilakukan guru hari ini bisa menentukan seperti apa karakter generasi mendatang.
Tidak berlebihan jika banyak negara maju sangat menghormati profesi guru.
Jepang misalnya, sering dijadikan contoh bagaimana pendidikan menjadi fondasi kebangkitan bangsa.
Setelah tragedi bom Hiroshima dan Nagasaki, ada kisah yang sangat terkenal tentang bagaimana Jepang memikirkan pendidikan untuk membangun negaranya kembali.
Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, satu hal yang pasti: Jepang memang menempatkan pendidikan dan guru sebagai unsur penting dalam pembangunan bangsa.
Hal itu sejalan dengan kondisi sekarang.
Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi pendidikan karakter tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Murid tidak cukup hanya pintar secara akademik.
Mereka juga harus belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, dan cara menghargai orang lain.
Semua nilai itu lebih mudah dipelajari melalui contoh nyata dibanding sekadar teori di buku pelajaran.
Di sinilah keteladanan guru menjadi sangat penting.
Guru yang datang tepat waktu tanpa sadar sedang mengajarkan disiplin.
Guru yang berbicara sopan sedang mengajarkan adab.
Guru yang mau meminta maaf ketika salah sedang mengajarkan kerendahan hati.
Bahkan cara guru menghadapi masalah di sekolah bisa menjadi pelajaran hidup bagi murid.
Namun keteladanan saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan ketegasan.
Ada anggapan bahwa guru yang baik adalah guru yang terlalu dekat dengan murid, terlalu longgar aturan, atau selalu menuruti keinginan murid agar dianggap menyenangkan.
Padahal dalam dunia pendidikan, kedekatan tetap harus memiliki batas.
Guru tetaplah guru, bukan teman sebaya.
Ada etika, ada jarak profesional, dan ada wibawa yang harus dijaga.
Ketegasan guru justru menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter murid.
Murid perlu memahami bahwa setiap aturan memiliki konsekuensi.
Guru yang tegas mengajarkan tanggung jawab.
Ketika guru menindak keterlambatan secara adil, murid belajar tentang disiplin.
Ketika guru tidak membiarkan kecurangan saat ujian, murid belajar tentang kejujuran.
Ketegasan seperti ini bukan bentuk kekerasan, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan murid.
Kadang guru terlalu takut dianggap galak sehingga membiarkan banyak pelanggaran kecil terjadi terus-menerus.
Padahal pelanggaran kecil yang dibiarkan bisa berkembang menjadi kebiasaan buruk.
Misalnya murid dibiarkan bermain gawai saat pembelajaran, berbicara kasar, atau tidak menghormati guru.
Jika terus dibiarkan, murid akan menganggap perilaku itu sebagai sesuatu yang biasa.
Di sisi lain, guru juga harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam sikap yang kontradiktif antara ucapan dan perbuatan.
Sebab murid sangat peka melihat ketidaksesuaian tersebut.
Akan sulit mengajarkan disiplin jika guru sendiri sering terlambat masuk kelas.
Sulit menanamkan budaya membaca jika guru jarang menunjukkan kebiasaan membaca.
Tidak mudah meminta murid bersikap sopan jika guru masih sering berbicara dengan nada merendahkan atau emosional.
Contoh lain yang sering terjadi adalah guru melarang murid bermain ponsel saat pelajaran, tetapi di saat yang sama guru justru sibuk membuka media sosial ketika proses belajar berlangsung.
Ada juga guru yang meminta murid menjaga kebersihan kelas, tetapi dirinya sendiri membuang sampah sembarangan.
Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap cara murid memandang nilai-nilai yang diajarkan di sekolah.
Murid hari ini tidak hanya mendengar perkataan guru, mereka mengamati konsistensinya.
Ketika ucapan dan tindakan guru tidak sejalan, wibawa guru perlahan akan berkurang.
Murid mungkin tetap diam, tetapi mereka menyimpan penilaian sendiri.
Karena itu, keteladanan yang paling kuat sebenarnya lahir dari konsistensi antara perkataan dan perbuatan.
Ki Hajar Dewantara sejak dulu sebenarnya sudah mengingatkan tentang pentingnya posisi guru sebagai teladan.
Filosofi “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” masih sangat relevan hingga hari ini.
Ketika di depan, guru memberi contoh.
Ketika di tengah, guru membangun semangat.
Ketika di belakang, guru memberi dorongan dan kepercayaan.
Filosofi itu bukan sekadar slogan yang dipasang di dinding sekolah.
Itu adalah prinsip hidup seorang pendidik.
Guru tidak harus menjadi manusia sempurna, tetapi guru harus terus berusaha menunjukkan nilai-nilai baik dalam kesehariannya.
Sebab murid belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat.
Keteladanan guru juga terlihat dari cara memperlakukan murid.
Guru yang tidak pilih kasih akan mengajarkan keadilan.
Guru yang mendengarkan murid dengan sabar sedang mengajarkan penghargaan terhadap orang lain.
Guru yang tidak mempermalukan murid di depan umum sedang mengajarkan rasa hormat terhadap martabat manusia.
Hubungan emosional seperti inilah yang sering kali membuat murid merasa nyaman di sekolah.
Mereka tidak hanya datang untuk belajar mata pelajaran, tetapi juga mencari sosok yang bisa dipercaya.
Tidak sedikit murid yang lebih terbuka kepada gurunya dibanding kepada orang lain.
Karena itu, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendamping dalam proses tumbuh kembang murid.
Di tengah berbagai tuntutan administrasi dan tekanan pekerjaan, guru memang sering berada dalam posisi yang tidak mudah.
Namun sebesar apa pun tantangan itu, keteladanan tetap menjadi hal utama yang tidak boleh hilang dari dunia pendidikan.
Sebab, murid akan lebih mengingat bagaimana gurunya bersikap dibanding seberapa banyak materi yang selesai diajarkan.
Guru yang baik adalah guru yang kehadirannya dirindukan.
Guru yang mampu membuat murid merasa dihargai, dibimbing, dan dipercaya.
Guru yang hangat tetapi tetap tegas.
Guru yang dekat tetapi tetap menjaga batas.
Guru yang mampu menasihati sekaligus memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.