TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Bagi Suparno, beternak kambing bukan sekadar untuk mendapatkan keuntungan finansial.
Lebih dari itu beternak kambing baginya ada kepuasan batin.
Di satu sisi, lelaki 45 tahun ini sengaja beternak kambing sembari untuk mengingat masa kecilnya yang acap mendapatkan tugas dari orangtuanya untuk menggembala kambing.
Kandang dari kayu beratap seng memanjang di lahan yang dikelilingi pagar beton. Kandang itu berisi penuh oleh kambing berbagai jenis.
Di sela-sela kandang itu, Suparno tampak sibuk.
Dia memberikan pakan fermentasi untuk kambing-kambingnya tersebut.
“Ya begini keseharian saya memberi pakan kambing, selain dibantu oleh dua orang pekerja, saya lebih sering di kandang,” ujar lelaki yang juga seorang guru di sekolah swasta di Kudus.
Kandang kambing milik Suparno itu terletak di RT 5 RW 7 Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
Kandang panggung milik Suparno ini terbagi atas beberapa bagian.
Satu bagian memanjang diisi sekitar 60 ekor kambing sapera atau kambing saanen peranakan etawa. Kambing ini bisa menghasilkan susu.
Setiap hari, di antara kambing-kambing itu diperah dan susunya dijual.
“Memang tidak semua kambing bisa diperah, karena ada yang sedang bunting. Untuk saat ini, per hari bisa menghasilkan 15 liter susu,” ujar bapak dua anak.
Di satu sisi terdapat kandang yang memanjang berisi kambing peranakan etawa. Orang Kudus biasa menyebutnya sebagai kambing jawarandu.
Di kandang ini terdapat 40 ekor kambing jawarandu berbagai ukuran.
Di kandang itulah kambing-kambing jawarandu ini dipelihara oleh Suparno. Kambing ini disiapkan untuk keperluan hewan kurban Hari Raya Iduladha.
“Kambing ini memang saya siapkan untuk keperluan Iduladha, karena saat itulah banyak warga yang mencari hewan kurban,” kata Suparno.
Sebagian kambing jawarandu milik Suparno sudah laku terjual untuk keperluan Iduladha.
Harga pasarannya berkisar antara Rp 2,5 juta sampai Rp 5 juta.
Harga ini ditentukan oleh besar atau kecilnya ukuran fisik kambing.
Kemudian di sudut paling ujung terdapat kandang yang berisi 20 ekor cempe atau anak kambing.
Di kandang ini antara cempe sapera dan jawarandu dijadikan satu. Sebelum akhirnya kambing ini akan dipisah di kandang berbeda setelah besar nanti.
Keberhasilan Suparno dalam beternak kambing ini bukan hal yang ujuk-ujuk. Selain berangkat dari kesukaannya memelihara kambing yang telah dilakukan saat dia masih kecil, dia juga terbilang tekun. Untuk kembali memulai memelihara kambing, Suparno hanya memiliki 16 ekor pada 2021.
Saat itu, dia sengaja memilih beternak kambing di sisa waktu luangnya.
Seiring berjalannya waktu, rupanya beternak kambing membuatnya nyaman. Dan hasilnya bisa dirasakan.
“Hasil yang bisa saya rasakan dari beternak kambing ini selain pendapatan harian dari penjualan susu, juga hasil tahunan dengan menjual kambing untuk keperluan kurban,” kata Suparno.
Setiap hari, kata dia, susu yang dihasilkan dari kambing sapera miliknya bisa mencapai 15 liter.
Setiap liter dikemas dalam empat botol berukuran 250 mililiter.
Setiap botol dijual dengan harga Rp 8 ribu. Susu kambing hasil dari peternakannya tersebut selalu habis terjual setiap harinya.
Pelanggannya yaitu langsung dari konsumen.
“Karena ada tren hidup sehat, salah satu pilihan dalam tren ini yaitu dengan mengonsumsi susu setiap hari. Dan susu kambing ternyata menjadi pilihan,” kata Suparno.
Kini di balik keberhasilannya, Suparno tidak lelah untuk terus mengembangkan usaha peternakannya.
Dia siap berbagi pengalaman kepada para peternak pemula.
Sebab baginya ketertarikan dengan dunia peternakan saja tidak cukup untuk mengawali usaha ternak.
Lebih dari itu, harus diimbangi dengan ketelatenan dan kecakapan dan mengolah pakan dan merawat kambing. (Rifqi Gozali)