TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Hujan lebat melanda sebagian wilayah Kota semarang, Jawa tengah, Jumat (15/5/2026) sejak sore hingga malam hari.
Dampak hujan langsung terlihat.
Jalan di Tanjakan Silayur, Ngaliyan, langsung rusak. Aspalnya mengelupas parah.
Tanjankan Silayur ini dikenal ekstrem dimana kasus kecelakaan dengan korban jiwa berkali-kali terjadi.
Baca juga: Kondisi 2 Korban Kecelakaan Motor Terjun ke Jurang di Jepara, Ditemukan di Pinggir Sungai
Ada pula temuan mayat seorang perempuan yang diduga terseret arus air.
Berikut rangkumannya.
Seusai dilanda hujan deras sejak ruas Jalan Prof Dr Hamka tepatnya di tanjakan Silayur mendadak dipenuhi lubang besar dan dalam yang dinilai membahayakan pengguna jalan.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 21.00 WIB menunjukkan kerusakan cukup parah berada di jalur antara Richeese Factory Ngaliyan hingga SMPN 16 Semarang, menuju arah Mijen.
Aspal jalan tampak mengelupas, menyisakan bebatuan tajam dan lubang-lubang menganga di sejumlah titik.
Genangan air yang menutupi sebagian lubang membuat pengendara harus ekstra hati-hati saat melintas.
Arus kendaraan di lokasi terpantau cukup padat.
Sebagian besar pemotor terlihat memperlambat laju kendaraan, bahkan beberapa harus bermanuver zig-zag untuk menghindari lubang dalam di tengah tanjakan.
Kondisi itu dinilai sangat berbahaya karena berada di jalur tanjakan Silayur yang selama ini dikenal rawan kecelakaan, terutama bagi kendaraan berat maupun pengendara motor saat cuaca hujan.
Ramona (18), seorang pemotor asal Boja, Kendal, mengaku terkejut melihat kondisi jalan yang mendadak rusak parah.
Padahal, dia setiap hari melintas di jalur tersebut untuk bekerja di kawasan Ngaliyan.
“Ini baru rusak sekarang. Sebelumnya masih aman,“ kata Ramona saat hendak melintas.
Dia mengatakan hujan deras yang turun sejak sore diduga menjadi penyebab aspal tiba-tiba ambles dan berlubang.
“Padahal tiap hari lewat sini. Ini bolong-bolong parah kayak gini baru sekarang,” katanya.
Sebagai pengguna jalan harian, Ramona berharap perbaikan segera dilakukan sebelum memicu kecelakaan.
“Harapannya cepat diperbaiki sih,” pungkas dia.
Keluhan serupa disampaikan warga Bringin, Ngaliyan, Restu Dwi.
Dia menyebut kerusakan jalan di kawasan Silayur sebenarnya sudah berulang kali terjadi.
“Jalan rusak parah itu baru muncul setelah hujan petang tadi.
Tadi saya lewat sana,” kata Restu.
Menurut dia, ruas jalan tersebut sebelumnya pernah mengalami kerusakan berat akibat sering dilalui truk bermuatan besar yang mengakses kawasan galian C di sekitar lokasi.
“Dulu itu pernah rusak parah juga.
Setelah itu ditambal, sekarang rusak lagi,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan darurat, mengingat jalur Silayur merupakan akses utama yang setiap hari dilalui ribuan kendaraan dari arah Kota Semarang menuju Ngaliyan, Mijen hingga Kabupaten Kendal.
Warga Kampung Sriyatno RT 02 RW 04 Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang digegerkan dengan penemuan jenazah perempuan muda di aliran Sungai Silandak, Jumat (15/5/2026) malam.
Jenazah ditemukan dalam posisi tengkurap di area sempit dekat kandang ayam, di antara dua rumah warga.
Ketua RT setempat, Heri, mengatakan awalnya warga melihat bagian tangan korban muncul di lokasi banjir usai hujan deras mengguyur kawasan Ngaliyan.
“Awalnya warga bilang ada tangan. Terus dilihat ternyata jenazah,” ujar Heri di lokasi.
Korban diduga bukan warga sekitar. Hingga malam hari identitas perempuan tersebut masih belum diketahui.
“Kayaknya bukan warga sini. Kemungkinan pengendara yang melintas,” katanya.
Heri menyebut korban diperkirakan berusia sekitar 25 tahun.
Saat ditemukan kondisi tubuh korban membiru dan membengkak akibat lama terkena air.
“Perempuan, rambut panjang. Kondisinya sudah biru-biru kena air,” imbuhnya.
Menurut warga, banjir sempat menggenangi kawasan tersebut dengan ketinggian bervariasi.
Di titik rendah genangan mencapai setengah meter, sementara di beberapa lokasi lain mencapai sekitar 1,5 meter hingga akses jalan tidak bisa dilalui.
Komandan Tim Rescue Kantor SAR Semarang, Nur Mustofa, mengatakan proses evakuasi berlangsung sekitar pukul 19.00 WIB.
Korban ditemukan tersangkut di dekat kandang ayam dengan akses yang cukup sempit sehingga petugas harus melakukan evakuasi secara estafet.
“Posisinya tengkurap. Aksesnya sempit, jadi kami evakuasi bersama secara estafet,” ujar Mustofa.
Dari ciri-ciri fisik, korban diketahui berjenis kelamin perempuan dengan rambut panjang ikal dan tubuh agak gemuk.
Saat ditemukan, pakaian luar korban sudah terlepas dan hanya tersisa pakaian dalam.
Tim SAR menduga korban terseret arus banjir dari kawasan KIC Ngaliyan hingga terbawa aliran Sungai Silandak sejauh kurang lebih dua kilometer menuju Kelurahan Purwosari.
“Sore tadi hujan deras di Kecamatan Ngaliyan. Informasinya korban terseret arus sampai Sungai Silandak,” katanya.
Selain jenazah, petugas juga menerima informasi adanya sepeda motor Honda Supra ditemukan tergeletak di kawasan Candi.
Namun hingga kini belum dipastikan apakah kendaraan tersebut berkaitan dengan korban.
Usai dievakuasi, jenazah menunggu proses identifikasi oleh tim Inafis sebelum dibawa ke kamar jenazah untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Hujan lebat yang melanda sebagian wilayah Kota Semarang juga memicu ambrolnya talud Sungai Bringin di Jalan Mega Raya, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.
Sebuah mobil milik warga yang sedang terparkir bahkan nyaris tercebur ke sungai setelah pondasi garasi tergerus arus banjir.
Dari pantauan di lokasi pada Jumat malam, pagar talud sepanjang sekitar 40 meter runtuh dan ikut terjun ke aliran sungai.
Mobil yang berada tepat di tepi talud tampak menggantung di bibir longsoran dan nyaris jatuh ke dasar sungai sedalam sekitar tiga meter.
Mobil MPV itu masih tertahan pohon di sekitar lokasi.
Petugas dari Basarnas Semarang bersama Pemadam Kebakaran Kota Semarang datang untuk melakukan evakuasi.
Sebuah truk crane, mobil pemadam kebakaran, hingga truk towing dikerahkan agar kendaraan dapat diangkat perlahan tanpa jatuh ke sungai.
Anggota Rescue Basarnas Semarang, M Alhadad, mengatakan proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati karena posisi mobil sudah berada di tepi longsoran akibat pondasi garasi yang terkikis arus banjir.
“Basarnas bersama Damkar melakukan evakuasi mobil yang hampir saja masuk ke sungai karena pondasi garasinya tergerus banjir.
Jadi mobil masuk ke arah kali, lalu kami menggunakan crane supaya mobil tidak jatuh ke sungai,” kata Alhadad di lokasi.
Dia menjelaskan, proses pengangkatan mobil tidak hanya menggunakan crane, tetapi juga dibantu sling penahan dari kendaraan pemadam kebakaran untuk menjaga kestabilan mobil saat dievakuasi.
“Pakai crane, tapi juga ditahan dengan sling dari mobil pemadam,” imbuh dia.
Tidak ada korban maupun penumpang di dalam kendaraan tersebut.
Mobil diketahui hanya sedang diparkir di garasi yang berada tepat di pinggir sungai.
“Kebetulan mobil hanya terparkir. Garasinya memang berada di pinggir sungai dan pondasinya tergerus arus banjir,” lanjutnya.
Selain menangani kejadian di Bringin, Basarnas Semarang pada malam yang sama juga menerima sejumlah laporan bencana lain akibat cuaca ekstrem di beberapa wilayah Kota Semarang.
“Untuk malam ini ada banyak kejadian. Terdapat laporan orang hanyut juga yang ditangani tim lain, ada di Purwoyoso dan Mangkang,” ucap Alhadad.
Sementara itu, warga setempat, Junaidi (54), mengatakan talud ambrol terjadi sesaat setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Taludnya longsor semua. Mobil itu diparkir di situ,” katanya.
Menurut dia, tidak ada rumah warga yang roboh akibat kejadian tersebut.
Kerusakan hanya terjadi pada talud dan bagian bedengan di tepi sungai.
Proses evakuasi kendaraan akhirnya selesai dilakukan dengan pengamanan ketat dari petugas guna mengantisipasi longsoran susulan di sekitar aliran Sungai Bringin. (*)