TRIBUNNEWS.COM - Sa’i merupakan salah satu rangkaian ibadah dalam haji dan umrah yang tidak hanya menuntut ketepatan gerakan, tetapi juga menghadirkan kedalaman makna spiritual yang sangat kuat bagi setiap muslim yang melaksanakannya.
Di antara dua titik bersejarah, yakni Bukit Shafa dan Bukit Marwah, jutaan jamaah dari seluruh dunia menapaki perjalanan bolak-balik yang tampak sederhana, namun sesungguhnya sarat dengan nilai ketundukan, perjuangan, dan pengharapan kepada Allah SWT.
Sa’i bukan sekadar berjalan, melainkan sebuah pengingat abadi tentang ikhtiar manusia yang selalu diiringi dengan tawakal, sebagaimana jejak perjuangan Siti Hajar yang berlari mencari air untuk putranya di tengah padang pasir yang sunyi dan tandus, hingga akhirnya Allah menghadirkan mata air Zamzam sebagai jawaban atas doa dan kesungguhannya.
Dalam konteks ibadah, sa’i menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dari rangkaian haji dan umrah, dilaksanakan setelah thawaf dengan tata cara tertentu yang telah ditetapkan dalam syariat.
Ia dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah, dilakukan sebanyak tujuh kali perjalanan bolak-balik yang masing-masing memiliki ketentuan dan adab tersendiri.
Di balik gerakan yang berulang itu, tersimpan pesan mendalam bahwa hidup manusia sejatinya adalah perjalanan panjang antara usaha dan harapan, antara ikhtiar yang tak pernah berhenti dan doa yang tak pernah putus.
Lebih dari sekadar ritual, sa’i juga menjadi ruang refleksi spiritual bagi setiap jamaah untuk mengingat kembali bahwa setiap langkah dalam hidup, sekecil apa pun, memiliki nilai di sisi Allah SWT.
Karena itu, memahami tata cara sa’i secara benar bukan hanya soal menjalankan kewajiban ibadah, tetapi juga tentang menghayati makna penghambaan yang sesungguhnya, bahwa di balik setiap usaha, selalu ada pertolongan Allah yang datang pada waktu terbaik-Nya.
Mengutip dari Instagram @kantorurusanhaji, dalam pelaksanaannya, sa’i memiliki ketentuan rute yang jelas dan tidak boleh diubah:
Baca juga: 18 Doa-Doa Sai Haji 2026/1447 H: Bacaan di Bukit Sofa Marwah, Setelah Sai hingga di Antara Pilar
Cara menghitungnya adalah sebagai berikut:
Dengan demikian, perjalanan pertama selalu dimulai dari Shafa, dan putaran terakhir harus berakhir di Marwah.
Mengutip dari laman bpkh.go.id, berikut tata cara melakukan sa'i yang benar:
Ketika sampai di Bukit Shafa, jamaah dianjurkan membaca firman Allah:
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
Artinya:
“Kami memulai dengan apa yang Allah mulai.”
Kemudian menghadap kiblat, bertakbir, berdzikir, dan berdoa.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”
Lalu membaca:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
“Tiada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Setelah berdoa di Shafa, jamaah mulai berjalan menuju Marwah. Selama perjalanan dianjurkan memperbanyak:
Bagi jamaah laki-laki, disunnahkan melakukan raml (berlari kecil) di area tertentu yang ditandai lampu hijau.
Jamaah perempuan tetap berjalan biasa.
Setiap kali berada di Shafa atau Marwah, jamaah dianjurkan berdoa sesuai hajat masing-masing, karena tempat tersebut termasuk lokasi mustajab.
Sesampainya di Marwah, jamaah membaca doa dan dzikir sebagaimana di Shafa.
Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu putaran.
Kemudian jamaah kembali lagi menuju Shafa hingga mencapai tujuh putaran.
اللّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا وَعَافِنَا وَاعْفُ عَنَّا وَعَلَى طَاعَتِكَ وَشُكْرِكَ أَعِنَّا وَعَلَى غَيْرِكَ لاَتَكِلْنَا وَعَلَى اْلإِيْمَانِ واْلإِسْلاَمِ الَكَامِلِ جَمِيْعًا تَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا اللّهُمَّ ارْحَمْنِيْ أَنْ أَتَكَلَّفَ مَالاَ يَعْنِيْنِيْ وَارْزُقْنِيْ حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّيْ يَاأَرْحَمَ الرَّا حِمِيْنَ.
Artinya:
"Ya Allah, terimalah amalan kami, sehatkanlah kami, maafkanlah kesalahan kami dan tolonglah kami untuk taat dan bersyukur kepada-Mu. Jangan Engkau jadikan kami bergantung selain kepada-Mu. Matikanlah kami dalam iman dan Islam secara sempurna dan Engkau ridha. Ya Allah rahmatilah kami sehingga mampu meninggalkan segala maksiat selama hidup kami, dan rahmatilah kami sehingga tidak berbuat hal yang tidak berguna. Karuniakanlah kami pandang yang baik terhadap apa-apa yang membuat-Mu rida terhadap kami, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Sa’i dilaksanakan setelah thawaf, sehingga tidak berdiri sendiri tanpa rangkaian sebelumnya.
Dalam ibadah haji, sa’i dilakukan setelah thawaf ifadhah atau thawaf qudum (untuk kondisi tertentu), sedangkan dalam umrah dilakukan setelah thawaf umrah.
Mengutip dari Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah 2026, para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya:
Meskipun terjadi perbedaan, seluruh ulama sepakat bahwa sa’i merupakan amalan penting yang tidak boleh diabaikan oleh jamaah haji maupun umrah.
Agar sa’i dianggap sah, beberapa syarat berikut harus dipenuhi:
Islam memberikan kemudahan bagi jamaah yang sakit, lanjut usia, atau tidak mampu berjalan.
Mereka diperbolehkan melakukan sa’i dengan:
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Muslim bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan tawaf dan sa’i dengan kendaraan agar mudah dilihat oleh para sahabat.
Meski demikian, bagi orang yang sehat dan mampu, berjalan kaki tetap lebih utama.
Beberapa ketentuan penting yang perlu dipahami jamaah antara lain:
Ketentuan ini menunjukkan bahwa sa’i memiliki aturan yang jelas, namun tetap memberikan kemudahan bagi jamaah dalam kondisi tertentu.
Sa’i bukan sekadar perjalanan antara dua bukit, tetapi perjalanan spiritual yang penuh pelajaran kehidupan.
Sa’i mengabadikan perjuangan Siti Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah dalam keadaan penuh ketidakpastian.
Dari kisah ini, lahir pelajaran tentang kasih sayang seorang ibu, keteguhan hati, dan tawakal yang luar biasa kepada Allah SWT.
Sa’i mengajarkan bahwa keberhasilan tidak datang tanpa usaha.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah mencintai hamba yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.
Gerakan bolak-balik sa’i mencerminkan bahwa hidup penuh usaha dan harapan.
Tidak ada keadaan yang benar-benar buntu selama manusia masih mau berusaha.
Dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah mengajarkan bahwa setiap perjalanan hidup harus dimulai dengan niat yang baik dan diakhiri dengan hasil yang baik pula.
Sa’i menjadi simbol bahwa kebahagiaan tidak datang dengan diam, tetapi dengan usaha yang terus-menerus diiringi doa dan tawakal.
(Tribunnews.com/Farra)