Kisah Revanno Dobrak Batas Perbedaan Lewat Prestasi Gemilang
Hari Susmayanti May 16, 2026 12:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, PEKALONGAN – Bukti nyata indahnya toleransi umat beragama mewarnai kelulusan SMK Muhammadiyah Pekalongan tahun ajaran 2025/2026.

Revanno Adrian Prasetyo, seorang siswa beragama Katolik, tidak hanya berhasil belajar dengan nyaman tanpa diskriminasi di sekolah berbasis Islam tersebut, namun juga sukses mengukir prestasi gemilang sebagai salah satu lulusan terbaik yang meraih beasiswa magang ke Jepang.

Revanno menjadi siswa non muslim yang pertama kali menjadi salah satu lulusan terbaik SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Adapun pelepasan siswa kelas XII lulusan 2025-2026 dilaksanakan di Hotel Dafam Pekalongan pada Selasa (12/5/2026).

Selama menimba ilmu jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM), Revanno mengaku tidak pernah mengalami perlakuan berbeda karena keyakinannya.

“Selama di sekolah tidak ada diskriminasi apapun, paling teman bercanda masih normal,” ucapnya seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Revanno mengungkapkan dirinya memilih untuk bersekolah di SMK Muhammadiyah Pekalongan karena tertarik dengan kualitas jurusan otomotif yang dimiliki sekolah tersebut. 

“Memilih di SMK ini karena yang ada jurusan teknik sepeda motor di Pekalongan kan ada dua, SMK Dwija Praja dan SMK Muhammadiyah. Yang bagus kan SMK Muhammadiyah, saya pilih di sini,” ujar Revanno dikutip dari laman Suara Muhammadiyah, Kamis (14/5/2026).

Selama mengenyam pendidikan, Revanno mengaku mendapatkan perlakuan yang sama dengan siswa lainnya.

Tiada ada diskriminasi sama sekali meski dirinya berbeda keyakinan.

Bahkan rekan-rekan di sekolah dan pihak guru menerimanya dengan baik.

“Kesannya baik, teman-teman dan guru semuanya baik-baik,” ungkap Revanno. 

Untuk pendidikan agama selama bersekolah, Revanno mengaku tetap mendapatkan pelajaran agama Katolik.

Pihak sekolah menyediakan guru agama Katolik untuk mendampingi proses pembelajaran.

 Sementara untuk praktik kegiatan keagamaan, Revanno mengikuti pembelajaran di SMAN 3 Pekalongan.

“Di sini pembelajarannya enak. Setelah lulus mau berangkat ke Jepang,” kata Revanno.

Baca juga: Cerita Adik Ipar Dr Sardjito Tak Berani Buka Lima Almari Peninggalan Kakaknya Selama 46 Tahun

Keraguan Orangtua Sirna

Sementara ibu Revanno, Silvia mengaku dirinya sempat ragu saat pertama kali anaknya mau masuk ke SMK Muhammadiyah Pekalongan.

Sebab, dirinya khawatir kalau anaknya akan mendapatkan perlakuan berbeda karena beragama non muslim.

Namun, keraguan itu perlahan hilang setelah mendapat penjelasan langsung dari pihak sekolah mengenai sistem pembelajaran dan toleransi yang diterapkan.

“Saya percayakan ke SMK Muhammadiyah karena keinginan anak sendiri. Anak saya itu lebih suka praktik, penginnya otomotif jurusannya teknik sepeda motor,” katanya.

Silvia menyebut dirinya sempat memastikan kesiapan putranya sebelum akhirnya memilih SMK Muhammadiyah Pekalongan. “

Saya tanya ke anak saya bagaimana, kamu bersedia tidak, karena kita ada di lingkungan muslim. Dia jawab tidak apa-apa,” ujarnya.

Penjelasan pihak sekolah soal pelajaran agama membuat Silvia semakin yakin menyekolahkan anaknya di sana.

“Kebetulan dari kepala sekolah menyambut baik, nanti pelajaran agama menyesuaikan. Ya sudah saya tambah mantap menyekolahkan anak saya di SMK Muhammadiyah,” imbuh Silvia.

Tak Beda-bedakan Siswa

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK Muhammadiyah Pekalongan, Musthofa, mengatakan sekolah memang memberikan kebebasan kepada siswa non-Muslim dalam mengikuti pelajaran agama. 

“Saat pembelajaran agama Islam, siswa dibebaskan atau tidak diwajibkan mengikuti pembelajaran. Dijadwalkan waktu dan guru khusus untuk mendapat pembelajaran agama yang dianutnya,” jelas Musthofa saat dihubungi Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, seluruh siswa tetap mendapatkan materi yang sama terkait toleransi dan keberagaman.

“Revanno mendapat materi yang sama dengan siswa yang lainnya. Ada Pembelajaran Pendidikan Pancasila yang mengajarkan menghargai keberagaman beragama, toleransi dan juga penerapan P5,” lanjutnya.

Musthofa menegaskan, SMK Muhammadiyah Pekalongan tidak membeda-bedakan latar belakang dan agama. Menurutnya, Revanno juga mengalami perubahan selama bersekolah di lingkungan Muhammadiyah.

Revanno awalnya dikenal sebagai anak yang pendiam dan pemalu serta kurang semangat belajar ketika SMP.

Setelah menempuh pendidikan di SMK Muhammadiyah Pekalongan, ia mulai bisa berbaur dengan teman-temannya dan memiliki semangat tinggi dalam belajar.

"Revanno hobi modifikasi sepeda motor. Predikat peringkat terbaik ke-2 pada jurusan TSM diberikan atas dasar nilai akademik tertinggi ke-2. Bahkan keterampilan praktiknya pun baik," kata Musthofa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.