TRIBUNMANADO.CO.ID - Renungan harian keluarga kristen Sabtu 16 Mei 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada 1 Korintus 2:1-5.
2:1 Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
2:2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
2:3 Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
2:5 supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
Tema perenungan adalah Iman Yang Berdiri Di Atas Kekuatan Allah.
Khotbah:
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Mengapa? Karena ia tahu bahwa kuasa Injil bukan terletak pada kefasihan, melainkan pada Roh Kudus dan salib Yesus Kristus.
Ia datang dalam kelemahan, ketakutan dan gentar, bukan karena kurang percaya diri, tetapi karena ia sadar bahwa Injil bukan tentang manusia, melainkan tentang Tuhan Allah.
Tujuan Paulus jelas, agar iman jemaat tidak berdiri di atas kehebatan manusia, melainkan berakar dalam kekuatan Tuhan Allah.
Ini sangat penting untuk gereja masa kini karena gaya, kharisma dan kepandaian sering lebih dikagumi daripada kuasa Roh dan salib Yesus Kristus.
Meskipun Paulus sangat berpendidikan dan fasih berbicara, ia memilih untuk tidak mengandalkan kata-kata indah atau logika canggih.
Ia menyampaikan Yesus Kristus yang disalibkan, mati dan bangkit menang mengalahkan maut.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Itulah panggilan untuk keluarga kita juga. Bukan soal seberapa banyak ayat yang kita hafal, atau seberapa aktif pelayanan kita, tapi apakah Yesus Kristus yang disalibkan menjadi pusat kehidupan keluarga kita ?
Apakah percakapan harian kita menyebut kebaikan-Nya?
Apakah cara kita memperlakukan satu sama lain mencerminkan kasih salib?
Apakah anak-anak melihat Yesus Kristus bukan hanya di gereja, tetapi juga di ruang tamu, di ruang makan atau di kamar?
Keluarga Kristen bukan hanya keluarga yang tahu tentang Yesus Kristus, tapi yang menjadikan salib sebagai gaya hidup: penuh kasih, rendah hati, rela berkorban.
Di situ ada kekuatan sejati.
Selanjutnya, setiap keluarga pernah merasa lemah: saat ekonomi tertekan, saat anak sulit dibimbing, saat hubungan antar anggota keluarga renggang atau saat menghadapi kehilangan dan beban berat.
Paulus pun tidak malu mengakui kelemahannya. Ia bahkan mengatakan ia datang dengan takut dan gentar.
Tapi justru dalam kelemahan itu, kuasa Tuhan Allah bekerja.
Dan itulah yang harus jadi dasar iman keluarga kita, bukan pada kekuatan manusia, tetapi pada kekuatan Tuhan Allah.
Kita tidak perlu menjadi keluarga yang sempurna untuk menjadi saksi Yesus Kristus.
Kita hanya perlu bersandar pada Roh Kudus dan terus hidup dalam ketaatan.
Ketika iman keluarga dibangun di atas kekuatan Tuhan Allah, badai boleh datang, tapi kita tidak akan goyah.
Karena di tengah kelemahan keluarga kita, kita tetap percaya bahwa Tuhan Allah bekerja.
Mari kita respons karya Tuhan Allah dengan taat beribadah dan melakukan kehendak-Nya.Amin.
Sumber: dodokugmim.com