TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Desa Kaliori sepertinya mulai menarik perhatian warga sekitar.
Meski belum seluruh layanan siap beroperasi, masyarakat berharap keberadaan KDMP mampu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau dibanding warung biasa.
Salah seorang warga Desa Kaliori, Salamah (60) warga RT 3 RW 1, mengaku selama ini berbelanja kebutuhan sehari-hari di warung-warung kecil sekitar rumahnya.
Namun ia tidak menutup kemungkinan akan beralih berbelanja di KDMP apabila harga dan barang yang tersedia lebih menarik dan yang jelas lebih murah.
"Saya biasa belanja di warung biasa, warung-warung kecil.
Kalau misalkan ini dibuka, kalau ada yang menarik dan murah ya beli di sini," ujar Salamah saat ditemui Tribunbanyumas.com di lokasi peresmian operasionalisasi KDMP Kaliori, Sabtu (16/5/2026).
Menurutnya, kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan kebutuhan harian lainnya menjadi barang yang paling sering dibeli.
Ia berharap keberadaan KDMP dapat membantu masyarakat mendapatkan barang dengan harga lebih murah.
Baca juga: Miris, Perempuan Penyandang Autis di Semarang Diduga Diperkosa Anggota LSM hingga Hamil 5 Bulan
"Harapannya yang jelas kalau di sini lebih murah," katanya.
Sementara itu, Bidang Keanggotaan KDMP Kaliori, Joko Wasisno, mengatakan hingga saat ini pengelola masih melakukan berbagai koordinasi guna melengkapi seluruh layanan yang nantinya tersedia di KDMP.
Menurutnya, beberapa fasilitas seperti klinik kesehatan dan apotek masih dalam tahap persiapan sehingga belum dapat beroperasi.
"Sementara ini yang baru siap supermarketnya.
Untuk layanan kesehatan seperti klinik dan apotek masih dalam proses persiapan," ujar Joko.
Selain supermarket, pihak pengelola juga berencana mengembangkan layanan simpan pinjam untuk masyarakat.
Tidak hanya itu, berbagai unit usaha lain berbasis potensi lokal warga juga akan mulai dirintis.
"Ke depannya masih ada usaha-usaha lain, tetapi saat ini masih dalam tahap perintisan," katanya.
Joko menjelaskan, salah satu sektor yang diproyeksikan berkembang ialah pengolahan hasil bumi masyarakat.
Komoditas ubi ungu menjadi salah satu potensi yang dipersiapkan untuk dikembangkan apabila produksi petani mulai berjalan maksimal.
"Kalau nanti petani sudah mulai produksi, salah satunya ubi ungu, yang bentuknya lonjong itu.
Selain itu mungkin juga hasil-hasil bumi lainnya," jelasnya.
Meski beberapa fasilitas masih dalam tahap penyempurnaan, ia optimistis seluruh kebutuhan dasar operasional KDMP dapat siap saat peresmian.
"Insyaallah ready," ucapnya.
Dari sisi sumber daya manusia, Joko memastikan tenaga kerja telah dipersiapkan untuk menjalankan operasional awal koperasi.
Saat ini sudah terdapat sejumlah posisi penting yang terisi.
"Yang di dalam sudah ada asisten manajer, bagian keuangan, pelayanan, termasuk kasir juga sudah ada," katanya.
Namun demikian, sistem aplikasi transaksi digital untuk toko saat ini masih belum dapat digunakan karena masih menunggu kesiapan dari pihak Agrinas selaku penyedia sistem.
"Aplikasinya masih belum ready.
Itu aplikasi dari Agrinas untuk proses transaksi jual beli di toko," ujarnya.
Terkait nilai investasi atau anggaran pembangunan KDMP, Joko mengaku tidak mengetahui secara detail karena menjadi kewenangan pihak terkait.
"Saya tidak tahu nilainya. Yang tahu dari pihak terkait," katanya.
Dalam pengelolaannya, KDMP Kaliori saat ini memiliki lima orang pengurus inti yang terdiri dari ketua, bendahara, sekretaris, bidang usaha, dan bidang keanggotaan.
Untuk menjadi anggota, masyarakat dikenakan iuran pokok sebesar Rp50 ribu yang dibayarkan satu kali, serta iuran wajib Rp10 ribu per bulan.
"Iuran pokok Rp50 ribu sekali bayar.
Iuran wajib Rp10 ribu setiap bulan per anggota," jelasnya.
Saat ini jumlah anggota koperasi telah mencapai lebih dari 100 orang dan seluruhnya berasal dari warga sekitar Desa Kaliori.
"Anggotanya warga sini semua. Sekarang sudah sekitar 100 lebih anggota," katanya.
Padahal, jumlah kepala keluarga di wilayah tersebut mencapai sekitar 3.500 KK.
Karena itu, pengurus masih menargetkan penambahan anggota dalam waktu mendatang.
"Kalau bisa semua warga ikut menjadi anggota. Tapi masyarakat sekarang masih melihat dulu prospek ke depannya bagaimana," ujar Joko.
Di sisi lain, Danrem 071/Wijayakusuma, Kolonel Infanteri Lukman Hakim mengatakan pembangunan KDMP di wilayah Banyumas terus dipercepat.
Dari total 172 titik KDMP yang dibangun, sebanyak 83 titik telah selesai 100 persen dan 41 titik resmi diluncurkan operasionalisasinya pada Sabtu ini.
"Hari ini pada hari ini ikut peresmian operasionalisasi 1061 seluruh Indonesia. Khususnya wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Untuk Kabupaten Banyumas pada hari ini ada 41 titik yang sama-sama diresmikan untuk operasionalisasi kegiatan KDMP," katanya.
Ia menargetkan seluruh pembangunan KDMP di Banyumas dapat selesai pada akhir Juli 2026.
"Target akhir Juli ini sudah selesai semua 172.
Plus ada beberapa yang masih tahap pencarian lahan. Kalau dapat lagi kita akan tambah lagi," ujarnya.
Menurut Lukman Hakim, secara keseluruhan di wilayah Korem 071 yang meliputi 11 kabupaten/kota, saat ini terdapat 1.504 KDMP yang dibangun.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 809 titik telah selesai 100 persen.
"Harapannya nanti seluruh wilayah Korem ini pada akhir Juli sudah selesai semua," katanya.
Ia berharap KDMP yang telah lebih dahulu beroperasi dapat menjadi pionir sekaligus contoh bagi desa-desa lain untuk mempercepat pembangunan koperasi serupa.
"Yang sudah mendahului ini menjadi pionir dan menjadi contoh bagi yang lain.
Sehingga wilayah desa lain melihat bahwa itu sudah operasional dan bagus," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, optimistis KDMP akan menjadi motor penggerak ekonomi desa di Banyumas.
Menurutnya, pemerintah juga telah menyalurkan sekitar 30 kendaraan operasional berupa truk dan mobil pikap ke desa-desa.
"KDMP agar dapat menjadi motor penggerak dan ke depan dijalankan secara profesional," kata Sadewo.
Ia menyebut saat ini terdapat 172 titik KDMP yang telah dibangun di Banyumas.
Dari jumlah itu, sebanyak 89 titik telah selesai 100 persen dan 83 titik masih dalam proses pembangunan.
"Kalau targetnya ya mungkin sesuai jumlah tiga kurang 301 desa dan 30 kelurahan," ujarnya.
Menurut Sadewo, sejumlah titik yang belum menunjukkan progres pembangunan terkendala persoalan lahan.
"Yang belum ada progres pembangunan belum ada masalah, karena titiknya itu ada di LSD. Sedangkan kita upayakan mudah-mudahan clear. Ini proyek strategis nasional, kita harus sukseskan bersama-sama," katanya.
Terkait pengelolaan koperasi ke depan, Sadewo menekankan pentingnya pengawasan dan pendampingan profesional agar KDMP berjalan sehat dan tidak menimbulkan persoalan.
"Saya minta agar ada pengawasan dan pendampingan dari orang koperasi yang profesional dari pusat.
Kalau perlu di satu kabupaten ada induk koperasinya.
Mereka mengawasi koperasi-koperasi yang ada di desa-desa," ujarnya.
Namun ia mengingatkan agar KDMP tidak terlalu fokus pada sektor simpan pinjam karena dinilai berisiko menimbulkan persoalan pengembalian pinjaman.
"Saya yakin itu berjalan. Cuma satu, kalau menjadi simpan pinjamnya berbahaya.
Mudah-mudahan KDMP di Banyumas tidak usah simpan pinjam lah," katanya.
"Nanti biasanya mau pinjam ndak mau simpan dan mau pinjam tidak mau mengembalikan," tutup Sadewo. (jti)