Oleh: Rusmin Sopian - Penulis yang Tinggal di Toboali
"Pak Kacab Kami serius nian maco buku Buk Geriul karya ente ne." Demikian bunyi pesan WhatsApp yang dikirimkan Pengawas Sekolah ( PS) Cabang Dinas ( Cabdin) Pendidikan Wilayah 3 Bangka Selatan, Aspandi, Rabu (12/5/2026) siang, yang disertai sebuah foto yang memperlihatkan Kacabdin Wilayah III Heru S.Si., M.Pd. sedang asyik membaca buku Buk Geriul di sebuah ruangan.
SEBELUMNYA, penulis bertemu dengan Heru yang didampingi PS Aspandi di SMAN 1 Toboali saat mengantarkan buku Buk Geriul. Bagi Heru, membaca buku bukan hanya menambah wawasan dan cakrawala berpikir semata. Lebih dari itu sebagai seorang pemimpin yang membawahi ratusan guru, tenaga kependidikan hingga para kepala sekolah dalam wilayah tugasnya, Heru harus menjadi panutan dan teladan dalam kebiasaan membaca buku.
Tidak mungkin seorang pemimpin mengajak orang membaca buku, sementara dirinya sebagai pemimpin enggan membaca, menjauhi buku. Seorang bijak bestari mengatakan “buku memberikan pengalaman tanpa harus kita mengalaminya sendiri”.
Pemimpin yang rajin membaca tentu akan memiliki wawasan yang luas. Wawasan tersebut kemudian digunakan olehnya untuk merumuskan gagasan dan kebijakan-kebijakan yang baik dan mebahagiakan bagi rakyatnya.
Para pemimpin bangsa ini telah mewariskan kebiasaan membaca (reading habit ) kepada kita di negara ini. Bung Karno dikenal gemar membaca buku sejak usia muda. Koleksi bukunya, ketika Bung Karno dibuang ke Bengkulu oleh Pemerintah Belanda, mencapai 12 peti. Pikirannya tetap merdeka berteman buku bacaan walaupun Bung Karno berada di rumah tahanan. Hingga akhir hayat beliau banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku.
Kegemaran Bung Karno membaca buku berawal saat indekos di rumah HOS Tjokroaminoto, di Surabaya. Bapak Tjokro, kerap memberikan buku-bukunya ke Bung Karno. Inilah warisan ilmu penting dan berharga bagi Bung Karno.
Apa saja yang dibaca Bung Karno? Beragam kategori buku ia baca. Tidak hanya politik dan ekonomi, namun seni, budaya, dan banyak lagi. Bung Karno memang kutu buku. Sebagian besar koleksinya berbahasa Belanda.
Apa yang menggerakkan BJ Habibie bermimpi membuat pesawat? Ternyata dari hasil membaca novel sains fiksi pada masa kecil tentang petualangan naik balon udara.
Buku pertama yang berkesan bagi Habibie tersebut, karangan Jules Verne terbit dalam bahasa Belanda. Jika diterjemahkan bahasa Indonesia berjudul Lima Minggu Naik Balon Udara.
Dari sini Habibie membayangkan Indonesia yang luas dan memiliki banyak pulau, membutuhkan transportasi pesawat udara agar lebih efektif dan cepat dicapai.
Di Jerman, Habibie mengambil sekolah teknik penerbangan dengan spesialisasi konstruksi pesawat. Lalu dikenal sebagai engineer pesawat yang populer dengan Mr. Crack karena menemukan rumus menghitung tingkat “keretakan” dalam skala atom.
Dari catatan di situs web historia.id, yang mengutip Greg Barton, penulis buku biografi Gus Dur, sejak remaja beliau menyukai tema bacaan dari pemikir lama seperti filsuf seperti Plato dan Aristoteles, serta cendekiawan muslim abad pertengahan. Istimewanya, Gus Dur dalam satu malam mampu menghabiskan bahan bacaan dalam jumlah besar. Hal ini pun ditunjang dari ingatannya yang kuat.
Kebiasaan membaca ini, berlanjut saat Gus Dur sekolah SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) dan mondok di Pesantren Al Munawwir pada tahun 1954. Di Yogyakarta ini, Gus Dur memiliki kebiasaan berburu tempat membaca buku,baik perpustakaan negeri, swasta, maupun pribadi.
Menurut Barton, Gus Dur banyak menemukan beragam tema buku di kota tersebut. Kehidupan Gus Dur diwarnai dengan buku-buku, maka inilah yang membuat wawasannya makin luas dan memiliki pikiran yang melampaui zamannya.
Demikian pula dengan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku memiliki hobi membaca buku tentang ilmu pengetahuan dalam segala hal. Oleh sebab itu, ruangan perpustakaan di rumah pribadinya, di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, merupakan tempat favoritnya.
"Ini (perpustakaan) adalah tempat favorit saya (di rumah). Terkadang saya cuma duduk di sini, tiduran di sofa," kata Prabowo saat berbincang dengan media asing Al Jazeera, beberapa waktu lalu.
Prabowo mengatakan, sangat mencintai perpustakaannya itu. Bahkan, diakuinya, terdapat sejumlah tokoh penulis buku yang sangat difavoritkannya.
Baginya, membaca buku itu seperti berkeliling dan mengetahui dunia. Selain itu, Prabowo juga menceritakan kebiasaannya membaca buku sejak kecil.
"Minat saya adalah membaca, terlebih pada usia muda saat masih menjadi pelajar. Keluarga kami itu terbilang biasa saja, sederhana," ucap Prabowo.
Prabowo mengungkapkan, sejumlah tokoh penulis favoritnya, seperti Alexander Dumas, Sir Walter Scott hingga Paulo Coelho. Ia mengatakan, buku-buku karya Coelho menjadi salah satu aspek terpenting yang menginsipirasi hidupnya selama ini.
"Sekarang ini saya pikir salah satu buku terpenting yang memengaruhi hidup saya adalah The Warrior of The Light, karyanya Paulo Coelho," ujar Prabowo.
Buku-buku yang diminati Prabowo juga beragam, dari buku yang membahas soal sejarah, militer, ekonomi, perkembangan dunia, fotografi hingga arsitektur. Prabowo memiliki kebiasaan berbelanja buku yang kerap dilakukannya ketika berkunjung ke luar negeri.
"Setiap kesempatan ke mana pun saya pasti cari toko buku. Buku sejarah, buku militer, buku ekonomi, buku perkembangan dunia, buku photography, arsitektur, dan lain sebagainya," kata Prabowo seperti dikutip dari media.
Dari para tokoh besar bangsa ini, kita bisa belajar bagaimana kebiasaan dan kegemaran membaca pun akan memperluas wawasan, mengubah keadaan, baik diri dan bangsanya. (*)