Penjambretan WNA di Bundaran HI, DPRD Desak Patroli dan CCTV Diperketat
Joseph Wesly May 16, 2026 02:16 PM

 

Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA- Kasus penjambretan terhadap warga negara asing (WNA) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, menuai sorotan dari DPRD DKI Jakarta. Peristiwa yang menimpa seorang turis asal Italia pada Kamis (14/5/2026) itu dinilai mencoreng citra Jakarta sebagai kota global.

Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, menyayangkan terulangnya aksi kriminal di salah satu titik ikonik ibu kota tersebut.

“Saya sangat prihatin dan mengecam keras aksi penjambretan terhadap WNA (Warga Negara Asing) di kawasan Bundaran HI. Ini bukan sekadar kasus kriminal jalanan biasa, karena lokasinya adalah salah satu wajah utama Jakarta,” ujar Kevin dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026).

Menurut dia, Bundaran HI merupakan etalase Jakarta yang selama ini menjadi simbol modernitas ibu kota dan sering dikunjungi wisatawan mancanegara.

“Bundaran HI itu etalase ibu kota, simbol Jakarta modern, dan titik yang sering dilihat wisatawan maupun masyarakat internasional,” sambungnya.

Kevin menilai, predikat kota global tidak cukup hanya ditunjukkan lewat pembangunan gedung pencakar langit maupun penyelenggaraan acara internasional. Lebih dari itu, rasa aman di ruang publik harus menjadi prioritas utama.

“Kalau di kawasan seikonik Bundaran HI saja orang masih bisa dijambret, maka ini harus menjadi alarm serius bagi Pemprov DKI dan aparat keamanan. Jakarta ingin menjadi kota global, tapi kota global tidak boleh hanya bicara gedung tinggi, event internasional, dan slogan saja. Yang paling dasar adalah rasa aman di ruang publik,” katanya.

Ia pun meminta Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bersama aparat keamanan untuk lebih serius menjaga keamanan ibu kota, baik bagi warga maupun wisatawan asing.

Menurut Kevin, kejadian kriminal yang berulang dapat berdampak buruk terhadap citra Jakarta di mata internasional.

“Kejadian seperti ini kalau dibiarkan berulang akan merusak image Jakarta di mata publik, wisatawan, investor, dan komunitas internasional. Satu video viral tentang turis dijambret bisa menghapus banyak narasi promosi kota yang dibangun dengan biaya besar,” imbuhnya.

“Jangan sampai Jakarta dikenal dan menjadi global bukan karena kemajuannya, tapi karena orang merasa tidak aman saat berjalan di ruang publik,” lanjutnya.

Kevin juga mendorong peningkatan pengamanan di kawasan strategis melalui patroli terpadu bersama kepolisian, koordinasi lintas dinas seperti Satpol PP dan Dinas Perhubungan, hingga penambahan kamera pengawas atau CCTV.

“Jakarta boleh bermimpi menjadi kota global, tapi jangan sampai turis dan warga sendiri merasa tidak aman memegang handphone di pinggir jalan,” katanya.

Ia menekankan, keamanan warga dan wisatawan harus menjadi prioritas utama dengan pendekatan pencegahan, bukan sekadar penindakan setelah kasus viral di media sosial.

“Keamanan warga dan wisatawan harus menjadi prioritas. Jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Pemerintah daerah harus punya sistem pencegahan, bukan hanya reaksi setelah kejadian tersebar di media sosial. Karena menjaga keamanan ruang publik sama artinya dengan menjaga wajah dan martabat Jakarta,” tandasnya.(m27)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.