Bertaruh Nasib di Sawah Tadah Hujan, Petani Lansia di OKI Wajib Bayar Sewa Lahan Meski Gagal Panen
tarso romli May 16, 2026 08:27 PM

Baca juga: Festival Sriwijaya 2026, Meriahkan HUT ke-80 Sumsel dengan Lomba Layangan hingga Pameran UMKM

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Bertaruh nasib sepenuhnya pada curah hujan dan ancaman hama menjadi perjuangan sehari-hari bagi para petani sawah pematang di Desa Celikah, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Di tengah keterbatasan infrastruktur irigasi, mereka hanya bisa menggarap lahan satu kali dalam setahun sembari memikul beban sewa yang cukup berat.

Kondisi ini salah satunya dirasakan oleh Saripah (65), seorang petani lansia di Dusun 1, Desa Celikah.

Sudah enam tahun terakhir ia menggantungkan hidup dengan menggarap lahan milik orang lain yang sistem pengairannya murni mengandalkan hujan.

"Tanah pematang ini hanya bisa satu kali tanam dalam setahun, yaitu saat masuk musim penghujan saja. Kami murni menunggu air hujan karena tidak ada aliran irigasi yang masuk ke area sawah," keluh Saripah saat dibincangi, Sabtu (16/5/2026) sore.

Meski hasil panen sangat bergantung pada faktor alam, aturan sewa lahan yang mengikatnya tergolong kaku.

Saripah diwajibkan menyetor upeti hasil bumi kepada pemilik tanah tanpa peduli kondisi cuaca sedang bersahabat atau tidak.

"Sistemnya sewa, jadi mau berhasil atau gagal panen (puso), aturannya tetap harus menyetor 10 kaleng padi (sekitar 100 kilogram) kepada pemilik tanah setiap musim panen tiba," ungkapnya lirih.

Jika kondisi cuaca bagus, lahan seluas kurang dari 1 hektar yang digarapnya mampu menghasilkan 100 hingga 200 kaleng padi atau setara dengan 3 ton.

 Dengan harga jual Rp60.000 per kaleng, ia bisa mengantongi pendapatan kotor hingga Rp12 juta.

Setelah dikurangi modal kerja mandiri sebesar Rp5 juta dan biaya sewa, ia membawa pulang keuntungan bersih sekitar Rp7 juta per tahun.

Namun, pendapatan tersebut kerap dibayangi oleh masifnya serangan hama terstruktur di wilayah pematang.

Petani harus menghadapi hama tikus yang menyerang berkelompok, belalang, walang sangit (kepi), hingga hama penyuruk—hewan bawah tanah yang memakan batang padi hingga kering dan mati.

Menghadapi berbagai keterbatasan modal dan kendala alam tersebut, Saripah bersama petani kecil lainnya di Desa Celikah sangat mengharapkan adanya perhatian dan sentuhan langsung dari pemerintah daerah.

"Kami sangat berharap pemerintah melalui dinas terkait bisa membangun saluran irigasi di sini. Selain itu, kami juga butuh bantuan bibit unggul, pupuk, serta obat-obatan penangkal hama agar beban modal kami bisa sedikit lebih ringan," pungkasnya.

Baca juga: Bandit Curanmor Nekat Beraksi di Kebun Karet PALI, Gasak Motor Supra Fit Milik Petani Simpang Medu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.