TRIBUNBANYUMAS.COM, BREBES - Di tengah maraknya gempuran berbagai jajanan modern di pasaran, keberadaan kudapan tradisional seperti surabi ternyata tetap tangguh dan memiliki pangsa pasar setianya tersendiri.
Jajanan lawas khas Sunda Brebes ini terbukti masih banyak diburu oleh warga sebagai menu sarapan pagi, serta sangat digemari oleh berbagai kalangan masyarakat lantaran keotentikan rasanya yang tidak pernah berubah.
Meski hanya menempati lapak sederhana di pinggiran jalan, kios serabi milik perempuan bernama Wiwi (40) ini selalu sibuk memproduksi hingga ratusan keping serabi saban harinya.
Baca juga: Nikmatnya Serabi Banyumas Disantap saat Masih Hangat: Lembut, Manis dan Gurih
Dengan menggunakan bahan baku utama berupa tepung beras, parutan kelapa, dan santan segar, Wiwi memasak serabi secara tradisional menggunakan wajan tembikar dari tanah liat yang dibakar menggunakan nyala kayu.
Setelah matang, serabi hangat ini akan disajikan bersama siraman saus santan murni maupun campuran gula aren. Ada pula pilihan yang disajikan secara kering, yakni varian serabi dengan taburan oncom pedas.
"Sudah 20 tahun jualan serabi. Dulu sering pindah-pindah, tapi sekarang sudah menetap di Pasar Ketanggungan," ujarnya menceritakan perjalanan usahanya, Jumat (15/5/2026).
"Beda rasa kalau pakai kompor gas. Pakai kayu itu ada aroma gosongnya (smoky)," ungkapnya menjelaskan rahasia kelezatan serabinya.
Di lapak ini, terdapat tiga varian rasa surabi yang setiap hari diproduksi. Mulai dari surabi original dengan siraman saus santan murni yang sangat gurih, varian saus santan campuran gula aren yang legit, hingga surabi kering dengan baluran topping oncom pedas manis.
Lapak surabi tradisional ini beroperasi mulai dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 12.00 siang WIB. Di warung tenda ini, seporsi kudapan tersebut dijual dengan harga yang sangat ramah di kantong, yakni hanya Rp5 ribu per porsinya, yang sudah terdiri dari dua keping serabi tebal ditambah guyuran sausnya.
"Suka yang gula aren. Surabi menjadi berasa manis dan gurih," tuturnya memuji kelezatan penganan itu.
Sementara itu, pelanggan lainnya, Ayunda (36) mengaku jauh lebih menyukai serabi original yang hanya menggunakan kuah santan murni. Baginya, saus santan murni merupakan kunci dari cita rasa asli sepotong serabi tradisional.
"Suka ori, selain ga suka manis, saya seneng yang rasa asli," tandasnya mengakhiri obrolan. (Pet)