BANGKAPOS.COM -- Isi lima lemari di rumah Pahlawan Nasional dr. Sardjito jadi sorotan usai rumahnya dijual.
Betapa tidak, pasalnya sang penjaga pun enggan dan tak berani membuka isi dalam lima lemari tersebut.
Diketahui rumah peninggalan sang pahlawan sekaligus Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof dr. Sardjito, di Jalan Cik Di Tiro Nomor 16, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual.
Rumah tersebut telah diiklankan untuk menjaring pembeli.
Baca juga: Gubernur Babel Hidayat Arsani Sebut Koperasi Desa Jadi Penggerak Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
Namun di balik penjualan rumah dr. Sardjito, ada cerita yang cukup membuat penasaran.
Budhi Santoso, pengurus sekaligus penjaga rumah sejak 1980 mengurai cerita bersejarah di rumah tersebut.
Nama Budhi sudah lama menjadi bagian dari perjalanan keluarga dr. Sardjito.
Sebagai adik bungsu Soeko Emmi, istri dr. Sardjito, ia dipercaya menjaga rumah keluarga sejak awal 1980-an.
Kepercayaan itu datang ketika putra tunggal dr. Sardjito, Pak Pek Poedjioetomo, sedang berada di luar negeri sehingga rumah tersebut sering kosong.
Dalam usia yang masih muda, Budhi diminta menemani Soeko Emmi sehari-hari.
"Bu Sardjito punya anak putra tunggal, Pak Pek Poedjioetomo. Ketika itu ke luar negeri dan sebagainya, sini kosong. Akhirnya saya diberi tugas suruh menemani Ibu Sardjito. Waktu itu saya usianya 24 tahun mungkin," ujarnya.
Sejak saat itu, Budhi tidak hanya menjaga rumah, tetapi juga ikut merawat peninggalan berharga milik keluarga.
Salah satunya adalah warisan jamu tradisional racikan dr. Sardjito yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Dedikasi tersebut kemudian diwujudkan lewat pendirian PT Perusahaan Jamu Tradisional dr. Sardjito.
Perusahaan itu memproduksi Calcusol, obat peluruh batu urin yang awalnya diracik khusus oleh dr. Sardjito untuk sang istri.
Usaha jamu tersebut pernah mengalami masa keemasan sekitar tahun 2005.
Saat itu jumlah karyawan mencapai 43 orang dan produksi berjalan cukup besar.
Namun seiring berjalannya waktu, kondisi usaha mulai berubah. Kini jumlah pekerja yang masih bertahan tinggal sekitar 14 orang.
Meski demikian, Budhi tetap mempertahankan usaha itu sebagai bagian dari warisan keluarga yang memiliki nilai sejarah panjang.
Baginya, menjaga peninggalan dr. Sardjito bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan dedikasi keluarga di dunia kesehatan tradisional.
Puluhan tahun mengabdi membuat Budhi menjadi saksi hidup perjalanan rumah, keluarga, sekaligus warisan jamu dr. Sardjito yang masih bertahan hingga hari ini.
Rumah dr. Sardjito tersebut menyimpan banyak sejarah.
Namun selain sejarah, ada pula misterinya.
Ada lima lemari di rumah dr. Sardjito yang sampai sekarang belum pernah dibuka.
Budhi yang sudah puluhan tahun menjaga rumah tersebut bahkan tak tahu isinya apa.
Rumah bergaya klasik dengan atap segitiga runcing itu masih berdiri kokoh di atas lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi, menyimpan jejak sejarah yang panjang.
Bangunan tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan saksi perjalanan dr. Sardjito dalam dunia pendidikan dan kesehatan di Indonesia.
Nuansa lama masih begitu terasa dari setiap sudut rumah yang dipenuhi interior lawas dan perabot kayu asli.
Di masa lalu, rumah itu juga kerap menjadi ruang pertemuan dan diskusi sejumlah tokoh penting bangsa.
Budhi mengungkapkan, beberapa tokoh nasional pernah singgah dan berbincang di kediaman bersejarah tersebut.
"Pak Karno, Sri Sultan Hamengku Buwono, Pak Hatta, termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini," ujarnya.
Keaslian bangunan pun masih dipertahankan hingga sekarang, meski ada sedikit perubahan pada bagian belakang rumah.
Meja-meja kayu tua yang masih digunakan disebut tetap menjadi bagian asli dari hunian tersebut.
Tak hanya itu, rumah itu juga menyimpan misteri berupa lima lemari lama yang belum pernah dibuka hingga kini.
"Asli ya kira-kira masih 60 persen, nggak pernah diubah, hanya yang belakang. Meja-meja yang kayu itu asli. Ada sekitar lima lemari yang belum pernah dibuka, saya nggak berani," kata Budhi.
Meski menyimpan banyak sejarah, pihak keluarga tetap memilih untuk menjual rumah dr. Sardjito ini.
Hal ini dilakukan untuk menghindari potensi persoalan warisan di masa mendatang.
Terlebih rumah tersebut kini sudah memasuki generasi ketiga hingga keempat.
Menurut Budhi, kondisi tersebut membuat pengelolaan rumah dikhawatirkan akan semakin sulit di masa depan.
"Saya juga sudah 70 tahun, sudah masuk generasi ketiga dan keempat, sudah sampai ke cicit. Saya merasa sudah tua. Kalau yang namanya warisan, nanti suatu saat menjadi masalah. Ahli waris juga tidak bisa merawat, di Jakarta," ujar Budhi saat ditemui di rumah tersebut, dikutip dari Tribun Jogja.
(Tribun Jogja/Tribun Trends/Bangkapos.com)