TRIBUNJATIM.COM - Penceramah Buya Yahya menjelaskan jika ada mitos yang selama ini masih menjadi pertanyaan di kalangan umat Islam saat Idul Adha.
Di antaranya adalah anggapan jika kambing betina tidak boleh jadi hewan kurban.
Hingga kurban cukup sekali seumur hidup.
Buya Yahya melalui ceramah yang diunggah di kanal YouTube Buya Yahya menjelaskan jika tak ada larangan dari para ulama.
Baca juga: Jelang Idul Adha, Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Hewan Kurban Agar Bebas PMK
“Kalau ibu tanya menurut saya, saya tidak jawab menurut saya. Saya kembalikan ke ulama. Tidak ada larangan. Anda boleh kurban dengan kambing betina,” ujar Buya Yahya, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, anggapan kambing betina tidak boleh dijadikan kurban hanyalah kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.
Ia menjelaskan, anjuran memilih kambing jantan lebih karena pertimbangan fisik dan produktivitas ternak.
“Kalau punya kambing betina besar dan kambing jantan besar, ya jangan betinanya. Betinanya biar beranak pinak nanti,” katanya.
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa syariat lebih menekankan kualitas hewan kurban dari sisi kondisi dan dagingnya, bukan sekadar jenis kelamin hewan tersebut.
Ia mencontohkan tanda-tanda seperti tanduk besar atau gigi yang tanggal biasanya menunjukkan usia hewan sudah cukup dan ukuran tubuh lebih besar.
“Tujuannya adalah dagingnya, bukan giginya,” ucapnya.
Selain soal kambing betina, Buya Yahya menyoroti kesalahpahaman lain yang menurutnya masih banyak terjadi di tengah masyarakat, yakni anggapan bahwa ibadah kurban hanya dilakukan sekali seumur hidup seperti ibadah haji.
Ia mengaku sering mendengar orang menolak ajakan berkurban karena merasa sudah pernah melakukannya beberapa tahun sebelumnya.
“Kurban itu setiap tahun disunahkan, bukan seumur hidup sekali,” tegasnya.
Ia kemudian membandingkan dengan salat Subuh yang terus dilakukan setiap datang waktunya. Menurutnya, setiap datang Hari Raya Iduladha, umat Islam kembali dianjurkan melaksanakan ibadah kurban.
“Haji wajib seumur hidup sekali. Tapi kurban, setiap tahun kalau mampu,” jelasnya lagi.
Dalam ceramah tersebut, Buya Yahya juga menekankan besarnya pahala ibadah kurban.
Bahkan, ia menyebut dalam mazhab tertentu seperti mazhab Imam Abu Hanifah, hukum kurban dipandang wajib bagi yang mampu.
“Pahalanya besar sekali, tidak bisa disamakan dengan sedekah biasa,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mulai membudayakan kurban sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial umat Islam.
Menurutnya, tradisi kurban di Indonesia masih belum sekuat di negara-negara Arab yang hampir setiap keluarga menyembelih hewan kurban saat Iduladha.
Sebagai motivasi, Buya Yahya membagikan kisah seorang tukang becak yang disebutnya cerdas karena mampu rutin berkurban setiap tahun dengan cara memelihara kambing kecil untuk dikembangbiakkan dan dijual kembali menjelang Iduladha.
“Cerdaslah Anda memikirkan bagaimana bisa menyembelih kurban setiap tahun,” ujarnya.
Di akhir ceramahnya, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk memperbaiki pemahaman tentang ibadah kurban agar semakin banyak masyarakat yang terdorong melaksanakannya setiap tahun sesuai kemampuan.