Cuaca Buruk di Padang, Nelayan Purus Terpaksa 'Utang' ke Istri untuk Sambung Hidup
afrizal May 16, 2026 11:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Di balik deburan ombak Pantai Padang, ada dapur yang harus tetap mengepul meski laut sedang tidak bersahabat. 

Bagi Nusirwan (60), nelayan di Kampung Elo Pukek, Padang cuaca buruk selama dua pekan terakhir bukan hanya membatalkan rencana melaut.

Namun juga ancaman langsung bagi pendapatannya.

Sabtu (16/5/2026) pagi, Nusirwan terpaksa menyandarkan kapalnya. 

Baca juga: Kisah Yunis Nelayan Padang Kehilangan Kapal Akibat Galodo, Kini Bertahan Hidup dari Bantuan Sekitar

Alih-alih membawa pulang banyak ikan, dua minggu belakangan ia justru sering pulang dengan tangan hampa. 

"Kadang bawa ikan, kadang kosong sama sekali. Bahkan modal melaut pun ikut habis," keluhnya kepada TribunPadang.com.

Beruntung Istri Juga Bekerja

Dalam kondisi cuaca buruk seperti ini perekonomian rumah tangga nelayan sangat diuji. 

Beruntung bagi Nusirwan, sang istri juga bekerja dan menjadi juru selamat bagi dapur mereka. 

"Beruntung istri juga bekerja, jadi kalau saya tidak membawa apa-apa pulang, pinjam uang istri dulu, nanti diganti lagi," tuturnya seraya bersyukur memiliki pasangan yang memaklumi pasang-surut pendapatan di laut.

Baca juga: Nelayan di Padang Sering Tak Kebagian BBM, Terkendala Masalah Administrasi

Tangkapan yang kurang memuaskan juga dialami Aswandi (61). 

Cuaca buruk menjadi penyebab tangkapan ikan jauh berkurang dua pekan terakhir.

Akibatnya pemasukan pun menjadi berkurang akibat tak banyak ikan yang berhasil dibawa pulang.

"Dua pekan ini hasil tangkapan menurun, bukan tak dapat ikan, tapi jumlahnya berkurang," ucapnya saat bersantai dengan beberapa nelayan lain di Kampung Elo Pukek, Pantai Padang, Sabtu (16/5/2026).

Aswandi sudah menjadi nelayan selama 40 tahun lebih.

Hasil Tangkapan Terus Turun

Bukan kali ini, hasil tangkapan berkurang terus setiap tahun.

Hal itu berbeda dengan tahun 1980 an, ketika awal mula Aswandi melaut bersama teman-temannya yang berhasil membawa pulang banyak ikan.

"Tahun 1980 an tangkapan ikan banyak, dulu saya dan orang lain masih menggunakan alat-alat tradisional. Sekarang, sudah banyak alat canggih yang menangkap ikan dari kecil hingga besar," pungkasnya.

Meski begitu, ia tetap bersyukur dapat menghidupi keluarganya sebagai seorang nelayan selama 40 tahun lebih tersebut.

Ia menyebut, apabila hasil tangkapan tidak mendapatkan apa-apa selama beberapa hari, kehidupannya tetap dapat berjalan.

"Jadi saya mengelola uang dari untung menangkap ikan saat banyak, dikeluarkan untuk uang mesin kapal. Mulai dari Rp20.000, 50.000 hingga 100.000, jadi kalau tidak dapat apa-apa, pakai uang itu sementara, istilahnya tabungan, nanti diganti lagi," tuturnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.