Respon Pemilik Hiburan Malam Usai Ada TNI Tembak Rekan hingga Tewas, Manajemen: Kami Kecolongan
Candra Isriadhi May 17, 2026 08:44 AM

 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Insiden penembakan yang menewaskan anggota TNI, Pratu FAA, di tempat hiburan malam Panhead pada Sabtu (16/5/2026), masih menjadi perhatian publik.

Pihak manajemen Panhead akhirnya buka suara terkait kejadian tragis tersebut.

Melalui kuasa hukumnya, manajemen menyampaikan rasa duka mendalam atas peristiwa yang menimpa korban.

TNI TEMBAK REKAN - Denpom II/4 Palembang melakukan olah TKP di tempat kejadian penembakan anggota TNI di tempat hiburan malam di Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara, Kecamatan Ilir Barat (IB) 1, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (16/5/2026).
TNI TEMBAK REKAN - Denpom II/4 Palembang melakukan olah TKP di tempat kejadian penembakan anggota TNI di tempat hiburan malam di Jalan Alamsyah Ratu Prawira Negara, Kecamatan Ilir Barat (IB) 1, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (16/5/2026). (KOMPAS.com/AJI YK PUTRA)

Kuasa Hukum Panhead, Redho Junaidi, mengatakan bahwa iĥtersebut sama sekali tidak diharapkan terjadi di lingkungan tempat hiburan malam tersebut.

"Kejadian ini sangat tidak kami inginkan. Dari sisi safety dan prosedur keamanan sebenarnya sudah dijalankan secara maksimal," ujar Redho Junaidi, Sabtu (16/5/2026), dilansir dari Sripoku.com.

Baca juga: Polemik Lomba Cerdas Cermat, Disdik Kalbar Sebut Speaker Error, MPR Minta Maaf & Nonaktifkan Juri

Meski demikian, pihak manajemen memilih tidak banyak memberikan keterangan lebih lanjut terkait kronologi maupun proses hukum yang sedang berjalan.

Hal itu lantaran kasus penembakan yang melibatkan Serda RN dan menewaskan Pratu FAA kini telah ditangani langsung oleh Denpom II/IV Palembang.

Manajemen Panhead menegaskan akan menghormati seluruh proses penyelidikan yang dilakukan aparat berwenang dan menyerahkan penanganan kasus sepenuhnya kepada pihak terkait.

Sementara itu, insiden tersebut diketahui terjadi saat korban Pratu FAA diduga ditembak oleh rekannya sendiri, Serda RN, di lokasi hiburan malam tersebut pada Sabtu malam.

Sistem Keamanan dan Pemeriksaan Pengunjung Dievaluasi

Ilustrasi penembakan -- Seorang anak 12 tahun, Chyssi, tewas tertembak senapan angin di Riau. (Via TribunNews.com)

Redho mengatakan, manajemen akan mengevaluasi sistem keamanannya, terutama soal pemeriksaan pengunjung yang masuk.

"Alat-alat pengamanan untuk masuk ke dalam Panhead pastinya akan difungsikan lebih maksimal. Kalau sebelumnya diperiksa satu kali saat masuk, ke depan akan dilakukan dua tahap pemeriksaan, baik melalui metal detector maupun X-ray agar tidak kebobolan lagi," terangnya.

Pihaknya saat ini juga menghormati proses hukum yang sedang berjalan di Denpom II/Sriwajaya.

Itu juga termasuk keberadaan garis polisi di lokasi yang sepenuhnya menjadi kewenangan penyidik.

"Seberapa lama police line terpasang di TKP itu kewenangan penyelidik. Namun di sisi lain, banyak pekerja yang menggantungkan hidup di sini, sehingga kami memohon pertimbangan terkait hal tersebut," tandasnya.

Namun pada prinsipnya, Manajemen Panhead akan kooperatif mengikuti seluruh proses hukum yang berlangsung.

"Apapun proses hukumnya, kami hormati dan kami kedepankan proses hukum yang berjalan," pungkasnya.

Kronologi Kejadian

Kejadian bermula saat Pratu FAA dan Serda RN terlibat keributan lantaran diduga saling senggol saat sedang berjoget di dalam tempat hiburan malam itu pada Sabtu (16/5/2026) dini hari.

Keduanya sempat saling baku hantam hingga akhirnya Serda RN diduga mengeluarkan senjata api dari pinggangnya lalu menembak Pratu FAA.

Tembakan tersebut mengenai perut sebelah kanan Pratu FAA hingga akhirnya dinyatakan tewas setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Permata.

Kapolsek Ilir Barat I, Palembang, Kompol Fauzi Saleh mengatakan, petugas langsung mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP setelah mendapat laporan pada dini hari.

“Betul, ada kejadian keributan yang berujung penembakan dan menyebabkan satu orang meninggal dunia,”kata Fauzi, Sabtu, dilansir dari Kompas.com.

Fauzi tak bisa memberikan keterangan secara detil lantaran kasus tersebut kini sedang ditangani oleh Denpom II/IV Palembang.

Sementara, di lokasi kejadian saat ini sedang dipenuhi oleh petugas Denpom II/IV Palembang untuk melakukan olah TKP lanjutan.

“Untuk penanganan lebih lanjut dan detail kasus, silakan konfirmasi langsung ke Denpom,” ujarnya.

Serda RN Sudah Diamankan dan Jalani Pemeriksaan

Sementara itu, Denpom II/Sriwijaya saat ini sedang melakukan pemeriksaan terhadap Serda RN yang bertugas di Batalyon Raider 200 Gandus.

“Ya, yang bersangkutan sudah diamankan dan saat ini masih menjalani pemeriksaan intensif di Denpom II/Sriwijaya,” kata Kapendam II/Sriwijaya Letkol Inf Yordania kepada wartawan, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Yordania, Pratu FAA adalah personel Denkesyah 02.04.04 Palembang. Ia meninggal dunia akibat luka tembak yang dialaminya.

Saat ini, Denpom II/IV Palembang masih melakukan serangkaian penyelidikan terkait insiden penembakan tersebut.

Langkah yang dilakukan antara lain memeriksa saksi-saksi di tempat kejadian perkara (TKP), mendalami rekaman CCTV, melaksanakan otopsi jenazah, mengumpulkan barang bukti, hingga melakukan pemeriksaan handphone para saksi.

Selain itu, Denpom juga berkoordinasi dengan Polda Sumatera Selatan untuk mendukung proses penyelidikan.

“Proses ini membutuhkan waktu, untuk perkembangan informasi selanjutnya akan disampaikan pada kesempatan pertama,” ujarnya.

Keluarga Pratu FAA Minta Penyelidikan Transparan

Faradita (19), adik kandung Pratu FAA, mengatakan dirinya mendapat kabar sang kakak meninggal dunia pada Sabtu (16/5/2026) subuh. Mendengar kabar tersebut, ia langsung menuju RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang untuk memastikan kondisi korban.

“Saya langsung ke sini, ternyata benar kakak saya sudah meninggal,” kata Faradita saat ditemui di rumah sakit, Sabtu.

Awalnya, Faradita belum mengetahui penyebab kematian kakaknya.

Namun setelah mendapat informasi bahwa Pratu FAA ditembak, ia semakin terpukul karena pelaku diduga merupakan rekan korban sendiri yang juga anggota TNI.

“Setelah tahu ternyata kakak ditembak sesama anggota TNI, keluarga benar-benar terpukul,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Faradita meminta proses penyelidikan dilakukan secara transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi agar peristiwa itu terungkap dengan jelas.

“Kami minta kasus ini jangan ditutupi. Harus transparan karena ini menyangkut nyawa orang. Kakak saya meninggal karena ditembak, jadi pelaku harus dihukum setimpal sesuai perbuatannya,” pungkasnya.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com/Muhdany Yusuf Laksono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.