TRIBUNNEWSBOGOR.COM — Pihak SMAN 1 Sambas menolak keputusan MPR RI menggelar babak final ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Kepala Sekolah SMAN 1 Sambas, Syafaruddin, menilai pihak penyelenggara abai dalam meluruskan informasi yang beredar.
Dampaknya, sekolah mereka terus-menerus tersudut oleh opini publik di media sosial.
Polemik ini berawal dari potongan video perlombaan yang viral dan memicu perbincangan luas di kalangan masyarakat.
Publik menyoroti adanya dugaan ketidakadilan dari keputusan dewan juri saat babak final berlangsung.
Imbasnya, SMAN 1 Sambas sebagai pemenang lomba menjadi disudutkan.
Syafaruddin akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi resmi. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah sebenarnya sangat menghormati langkah-langkah yang diambil oleh MPR RI pasca-insiden tersebut.
Namun, mereka sangat menyayangkan sikap pasif panitia dalam menjernihkan situasi di ruang publik.
"Mengapresiasi usaha MPR RI sebagai penyelenggara untuk mengatasi polemik yang muncul pada kegiatan LCC 4 Pilar MPR RI 2026. Namun menyayangkan abainya penyelenggara dalam meluruskan informasi terkait polemik ini sehingga SMAN 1 Sambas terus menerus terpojok," ucap Syafaruddin dikutip dari akun Instagram SMAN 1 Sambas, Minggu (17/5/2026).
Meskipun menyatakan rasa hormatnya terhadap upaya evaluasi, Syafaruddin mengambil sikap tegas terkait kelanjutan kompetisi.
Pihaknya menyatakan tidak akan ambil bagian jika babak final harus diulang kembali.
SMAN 1 Sambas memilih untuk tetap memegang teguh hasil kompetisi yang sudah berjalan.
Baca juga: Sudah Dicurangi Saat Lomba Cerdas Cermat, Josepha Alexandra Kini Terima Pemberian dari MPR RI ?
"SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat," jelasnya secara tertulis.
Lebih lanjut, Syafaruddin juga membantah keras seluruh tuduhan miring yang dialamatkan kepada sekolahnya.
Ia menyatakan tidak ada praktik kecurangan, penyuapan, ataupun pengaturan hasil lomba demi meraih kemenangan.
Menurutnya, tim dari SMAN 1 Sambas telah berjuang keras dan melewati seluruh tahapan kompetisi dengan jujur.
Syafaruddin menjamin bahwa para siswanya telah bertanding dengan bersih serta mematuhi seluruh regulasi yang berlaku.
Aturan-aturan tersebut sejak awal sudah ditetapkan oleh panitia dan disepakati bersama oleh semua sekolah yang berpartisipasi.
"Meyakini bahwa peserta LCC 4 Pilar dari SMAN 1 Sambas telah berkompetisi sesuai tata tertib yang telah ditetapkan panitia dan disepakati seluruh peserta lomba," katanya.
Pihak sekolah menyayangkan kemunculan berbagai narasi negatif dan komentar tidak benar di media sosial.
Serangan digital tersebut kini tidak hanya menyasar SMAN 1 Sambas sebagai sebuah institusi pendidikan.
Tuduhan-tuduhan itu mulai menyerang individu secara personal, mulai dari jajaran guru, staf tata usaha, murid, hingga ikatan alumni.
Dampak dari komentar negatif di dunia maya ini ternyata cukup serius.
Syafaruddin mengungkapkan bahwa lingkungan internal sekolah kini berada dalam situasi yang tidak kondusif.
Orang-orang yang terseret dalam pusaran komentar tersebut kini mulai mengalami tekanan psikologis yang cukup berat.
"Mengecam munculnya berbagai bentuk opini, narasi, tuduhan, maupun tindakan di media sosial yang menyerang sekolah, dewan guru beserta TU, murid, dan bahkan ke alumni," papar Syafaruddin.
"Tindakan ini telah mencemarkan nama baik SMAN 1 Sambas, menimbulkan tekanan psikologis kepada pihak yang terdampak serta memperkeruh suasana," sambungnya.
Baca juga: Sisi Lain Ocha Peserta Lomba Cerdas Cermat MPR yang Viral, Sempat Bikin Ayah Khawatir Karena Hobinya
Melihat kondisi psikis para siswa yang terganggu, Syafaruddin menyampaikan desakan langsung kepada pihak panitia pusat.
SMAN 1 Sambas menuntut agar MPR RI segera mengambil langkah nyata untuk mengembalikan nama baik sekolah mereka.
Terlebih lagi, SMAN 1 Sambas merupakan tim yang secara de jure berhak mewakili Provinsi Kalimantan Barat ke tingkat nasional di Jakarta.
Faktor keamanan dan kesiapan mental anak didiknya menjadi prioritas utama pihak sekolah saat ini.
Mereka berharap panitia bisa memastikan kenyamanan para siswa sebelum jadwal keberangkatan ke ibu kota dimulai.
"Kami mendesak pihak penyelenggara untuk memulihkan kembali nama baik SMAN 1 Sambas dan memberikan jaminan keamanan terkait kondisi psikis murid sebelum kami mewakili Kalbar pada kegiatan LCC 4 Pilar MPR RI 2026 di tingkat nasional," pungkasnya.
Di sisi lain, sikap senada ternyata juga ditunjukkan oleh pihak rival mereka di babak final.
Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati, sebelumnya sudah lebih dulu mengumumkan bahwa institusinya tidak akan terlibat dalam agenda tanding ulang yang direncanakan oleh MPR RI.
"SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh MPR RI," kata Indang.
Indang menerangkan bahwa langkah interupsi yang diambil oleh siswanya di atas panggung murni didasari atas semangat transparansi.
Pihak sekolah hanya ingin mendapatkan kejelasan dan konfirmasi langsung dari dewan juri mengenai penilaian poin.
Protes tersebut sama sekali tidak berniat untuk membatalkan hasil akhir kompetisi yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai juara.
Baca juga: Di Panggung Berani Protes Juri LCC MPR RI, Tabiat Asli Ocha di Rumah Dibongkar Ayah: Kami Khawatir
"SMAN 1 Pontianak menegaskan bahwa langkah yang diambil merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperoleh konfirmasi dan klarifikasi, demi terwujudnya pelaksanaan dan mekanisme lomba yang transparan, obyektif, dan akuntabel," urainya.
Sejak awal bergulirnya protes, SMAN 1 Pontianak mengklaim menghormati kredibilitas penyelenggara.
Mereka tidak bermaksud merusak jalannya acara perlombaan.
"Sejak awal, SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan," sambungnya.
Pihak SMAN 1 Pontianak juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat luas atas kegaduhan yang terjadi akibat viralnya video tersebut.
Mereka meminta publik untuk menyikapi dinamika ini dengan kepala dingin demi menjaga nilai persatuan. Pihak sekolah juga memberi sinyal akan kembali berpartisipasi pada ajang yang sama di periode berikutnya.
"Demikian pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen kami terhadap dunia pendidikan yang berintegritas. Sampai jumpa di LCC 4 Pilar 2027," tutup Indang.