BIDAN Digerebek Ngamar dengan Anggota DPRD, Tapi Bantah Berzina: Kami Cuma Makan Bareng
Tommy Simatupang May 17, 2026 06:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Bidan digerebek suaminya ngamar dengan anggota DPRD inisial TR. Perselingkuhan ini terjadi di rumah dari anggota DPRD Fakfak inisial TR tersebut. 

Bidan itu merupakan seorang ASN berinisial DR.

Kini ia terseret dugaan perselingkuhan hingga video penggerebekan dirinya viral di media sosial.

Mereka digerebek oleh suami bidan, K anggota polisi Polres Fakfak.

Penggerebekan itu dilakukan bersama dengan sejumlah keluarga.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu malam (11/5/2026) di kawasan Mabruk Dalam, Kabupaten Fakfak.

Berdasarkan keterangan yang beredar, lokasi kejadian berada di sebuah rumah kos.

Baca juga: Wali Kota Medan Rico Waas Angkat Bicara soal Berobat ke Luar Negeri, Sebut Sudah Lapor ke Mendagri

Baca juga: Sempat Provokasi Warga saat Ditangkap, Pengedar Sabu Dilumpuhkan Polrestabes Medan

Saat penggerebekan berlangsung, di dalam rumah tersebut terdapat DR, TR, serta anak laki-laki TR.

Momen tersebut kemudian direkam dan menyebar luas di media sosial, memicu berbagai spekulasi mengenai hubungan di antara keduanya.

Namun, situasi di lokasi kejadian hingga kini masih menjadi perdebatan karena masing-masing pihak memberikan versi berbeda terkait peristiwa tersebut.

Pihak Istri Bantah Tuduhan Perzinahan

DR yang merupakan seorang bidan di Puskesmas Tomage sekaligus ASN, membantah adanya perbuatan perzinahan seperti yang ramai dituduhkan di media sosial.

Ia menegaskan bahwa saat kejadian dirinya hanya sedang berada di lokasi setelah selesai makan bersama.

“Kami bertiga bersama anak TR, baru selesai makan. Tidak ada bukti perzinaan,” ujar DR dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).

Baca juga: KRONOLOGI Suami Pergoki Istri Selingkuh dengan Aparat Desa, Diduga Sudah 5 Tahun, Kini Dilaporkan

DR juga menyebut bahwa rumah tangganya dengan suaminya K sudah lama tidak harmonis.

Ia mengaku telah pisah rumah selama sekitar tujuh bulan terakhir dan pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), bahkan di hadapan keluarganya sendiri.

Menurut DR, kondisi rumah tangganya yang sudah retak membuatnya sempat mengajukan upaya perceraian.

Namun proses tersebut disebutnya tidak berjalan lancar karena statusnya sebagai ASN.

Selain itu, DR juga mengaku mengalami pemukulan saat peristiwa penggerebekan berlangsung.

Bantahan dari Pihak Anggota DPRD

Di sisi lain, pihak TR melalui kuasa hukumnya Suriadi membantah keras tuduhan adanya perselingkuhan antara kliennya dengan DR.

Ia menilai informasi yang beredar di media sosial tidak disampaikan secara utuh sehingga memunculkan persepsi negatif di masyarakat.

“Sehingga memunculkan opini publik seolah-olah telah terjadi perzinaan,” kata Suriadi kepada awak media di Fakfak.

Ia menjelaskan bahwa saat kejadian, TR berada di lokasi bersama anaknya, sementara DR juga ada di tempat tersebut setelah kegiatan makan bersama.

Menurutnya, keberadaan mereka dalam satu rumah tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tindakan perzinahan.

Kuasa hukum TR juga menyebut kliennya menjadi korban dugaan penganiayaan dalam peristiwa tersebut.

TR dilaporkan mengalami luka di bagian kepala serta memar di beberapa bagian tubuh.

Atas kejadian itu, pihak TR disebut telah melaporkan dugaan penganiayaan serta pencemaran nama baik ke pihak berwenang, termasuk Propam Polres Fakfak.

Pengakuan dari Pihak Keluarga Suami

Sementara itu, pihak keluarga suami DR, K, membenarkan adanya penggerebekan tersebut.

Kakak K menyatakan bahwa adiknya mendatangi lokasi setelah mendapatkan informasi terkait dugaan hubungan istrinya dengan TR.

“Saya punya adik laki-laki, istrinya diduga selingkuh dengan anggota DPRD tersebut,” ujarnya sambil meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Ia juga mengaku ikut mendampingi K saat mendatangi lokasi kejadian dan menyaksikan langsung proses penggerebekan tersebut.

Masih Dalam Proses dan Menjadi Sorotan Publik

Hingga kini, kasus tersebut masih menyisakan perbedaan keterangan dari masing-masing pihak.

Polisi disebut telah melakukan pemeriksaan awal, namun belum ada kesimpulan resmi terkait dugaan perzinahan yang dituduhkan.

Kasus ini terus menjadi perhatian publik karena melibatkan figur publik di daerah serta aparat negara.

Sementara itu, proses hukum dan klarifikasi lebih lanjut masih dinantikan untuk memastikan duduk perkara yang sebenarnya.

Perselingkuhan Lebih Rentan di Profesi Tertentu?

Masalah perselingkuhan belakangan ini semakin jadi sorotan publik, terlebih beberapa kasusnya melibatkan profesi tertentu.

Sebut saja yang baru-baru ini viral di media sosial terkait perselingkuhan antara pilot dan pramugari dari satu maskapai, hingga dokter koas yang bertugas di rumah sakit yang sama.

Belum lagi baru-baru ini banyak ulasan beredar mengenai riset terkait profesi tertentu yang rawan melakukan perselingkuhan.

Menurut survei terbaru yang dilakukan di Inggris, misalnya, disebutkan profesi seperti sales, guru, dan petugas kesehatan adalah profesi yang rentan selingkuh dari pasangannya, seperti dikutip dari Kompas.com.

Beberapa hal itu pun seolah membentuk stigma di masyarakat kalau orang-orang atau profesi tertentu berpotensi melakukan atau terjebak dalam perselingkuhan. Lantas, benarkah demikian?

Terlepas dari profesi para pelakunya, psikolog Ikhsan Bella Persada, M. Psi., dari situs konseling online yang berbasis di Jakarta mengatakan, perselingkuhan pada dasarnya tidak berkaitan secara langsung dengan profesi seseorang.

Masalah perselingkuhan bisa terjadi di antara individu karena dipicu oleh banyak faktor, mulai dari latar belakang, kondisi hubungan, pekerjaan hingga tingkat pendidikan, sehingga bisa dilakukan oleh siapapun.

"Sebenarnya masalah perilaku selingkuh itu bisa disebabkan banyak faktor, jadi bukan berarti karena dia profesi A, pasti ada kemungkinan dia melakukan selingkuh," ujarnya kepada Kompas.com, belum lama ini.

Dengan kata lain, terjadinya perselingkuhan itu melibatkan banyak aspek dan tidak berkaitan dengan profesi tertentu.

Tetapi ada beberapa hal yang dikatakan Ikshan bisa memengaruhi seseorang yang untuk berselingkuh dari pasangan sahnya, antara lain:

1. Self esteem yang rendah

Perilaku selingkuh lebih sering dikaitkan dengan individu dengan self-esteem rendah.

Mereka akan terus menerus mencari peluang supaya dirinya merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri.

"Contoh dia merasa tidak percaya diri karena pasangannya terlalu mandiri dan independen, jadi dia merasa kurang berharga, sehingga mencari alternatif agar tetap berharga dengan mencari pasangan lain yang bergantung padanya," tutur Ikhsan.

2. Kebutuhan tidak terpenuhi

Perselingkuhan lebih mungkin terjadi karena ada kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Misalnya, kebutuhan akan rasa cinta, rasa aman, kebutuhan seksual, kebutuhan akan apresiasi atau kebutuhan lainnya.

"Dia merasa pasangannya tidak memenuhi kebutuhan, sehingga pelaku mencari kebutuhan itu dari orang lain," tambahnya.

3. Tidak memiliki self-control yang baik

Self-control dapat menjadi faktor yang memengaruhi perilaku seseorang, termasuk kemungkinan terlibat dalam perselingkuhan.

Self-control merupakan kemampuan untuk mengelola, mengendalikan emosi.

Di dalam situasi yang rentan, misalnya ketidakpuasan dalam hubungan, mereka cenderung memilih "jalan pintas" demi memenuhi apa yang diinginkan.

"Padahal jika punya kontrol diri yang baik, mungkin dapat menahan dorongan negatifnya itu, mencari alternatif pemecahan masalah dan memilih untuk mengkomunikasikannya kepada pasangan apa yang dirasa perlu dilakukan untuk hubungan yang dijalani," tutup Ikshan.

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.