TRIBUNJAKARTA.COM - Dua sosok penting di Persija Jakarta dan The Jakmania bicara mengenai nasib mereka.
Pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza bicara nasibnya bersama Macan Kemayoran usai Super League 2025/2026 berakhir.
Sedangkan, Diky Soemarno curhat mengenai posisi Ketua Umum The Jakmania.
Dikutip dari Tribunnews.com, Persija Jakarta menjadi salah satu tim yang diperkirakan bakal melakukan sejumlah perubahan untuk menghadapi musim depan.
Macan Kemayoran masih membidik target juara yang belum berhasil diwujudkan musim ini.
Menyoal masa depannya bersama Persija, pelatih Mauricio Souza mengaku belum bisa memastikan apakah dirinya akan tetap menukangi tim ibu kota pada musim depan.
“Saya baru bisa menjawab pertanyaan itu setelah duduk bersama manajemen dan memutuskan masa depan saya di klub,” ujar Mauricio Souza ujar laga kontra Persik Kediri di Stadion Brawijaya, Kediri, Sabtu (16/5/2026).
Kabar beredar di media sosial menyebutkan Persija mempertimbangkan opsi di kursi pelatih untuk musim depan.
Meski belum ada pernyataan resmi, rumor ini sudah cukup membuat situasi tim menjadi sorotan.
Di tengah rumor tersebut, suporter Persija Jakarta atau The Jakmania juga ikut meramaikan perbincangan di media sosial.
Mereka mulai menyebut nama yang dianggap cocok untuk menjadi nahkoda baru Macan Kemayoran.
Salah satu nama yang mencuat adalah Bozidar Bandovic, pelatih asal Montenegro yang sebelumnya menangani Buriram United.
Sedangkan, Ketum The Jakmania Diky Soemarno bicara mengenai posisinya di organisasi suporter pendukung Persija Jakarta.
"Dengan segala kekurangan, menghaturkan maaf dan terima kasih. 1 tugas terakhir tanggal 23 mei nanti sebelum akhirnya pesta demokrasi the Jakmania itu hadir," tulis Diky dikutip TribunJakarta.com akun instagram pribadinya @dikysoemarno, Minggu (17/5/2026).
Diky lalu bercerita panjang mengenai posisinya sebagai The Jakmania.
"Enam tahun lalu saya datang dengan satu keyakinan sederhana. Bahwa saya ingin menjaga rumah ini sekuat yang saya bisa. Rumah bernama The Jakmania. Rumah yang membesarkan saya, membentuk saya dan membuat saya percaya bahwa cinta kepada Persija bukan sekadar soal sepakbola, tapi soal harga diri loyalitas dan kehidupan," kata Diky.
Diky menuturkan pada tanggal 23 Mei nanti merupakan pertandingan di mana perjalanan dirinya sebagai pemimpin The Jakmania sampai pada ujungnya.
Diky telah menjabat sebagai Ketua Umum The Jakmania dua periode.
"Banyak hal berhasil kita lewati bersama. Kita menjaga Jakmania tetap hidup di masa-masa sulit setelah pandemi," kata Diky.
Diky mengatakan kepengurusan di bawah dirinya, organisasi The Jakmani lebih tertata dengan sistem keanggotaan dan identitas yang lebih jelas.
"Kita menjaga tribun tetap ada ketika banyak orang meragukan. Kita memperluas kolaborasi, membuka banyak pintu yang dulu tertutup, menjaga hubugan dengan banyak pihak dan berusaha membuat nama Jakmania semakin dihormati sebagai kelompok suporter besar di Indonesia," jelas Diky.
Tapi, kata Diky, dirinya tahu bahwa semua itu tetapi tidak pernah terasa cukup karena ada satu hal yang belum berhasil diberikan yaitu membawa Persija Juara.
Oleh karena itu, Diky meminta maaf kepada seluarh Jakmania.
"Saya gagal membawa Persija kembali menjadi juara liga di masa kepemimpinan saya. Dan itu akan selalu menjadi luka sekaligus penyesalan yang saya bawa," kata Diky.
Diky sadar selama enam tahun kepemimpinannya banyak keputusan yang mengecewakan. Ia mengakui bukan ketua umum yang sempurna.
"Tapi percayalah, tidak pernah sekalipun saya menjalankan amanah ini tanpa rasa cinta kepada Persija dan Jakmania," katanya.
Diky pun menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh pengurus inti, wilayah dan pusat. Termasuk, mantan pengurus dan seluruh Jakmania yang mendukung, mengkritik, memarahi bahkan yang membenci saya.
"Semoga Jakmania bisa menjadi organisasi yang lebih baik, lebih dewasa, lebih kuat dan bisa menjadi rumah yang menyenangkan untuk semua orang yang mencintai Persija."
"Sekali lagi saya minta mmaf untuk semua kegagalan saya. Terus jaga The Jakmania dan Persija," katanya.