POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Haris Sukhatno atau Heru (44), pemancing asal Belitung Timur dikabarkan hilang di Perairan Selat Karimata, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (17/5/2026).
Kronologinya bermula saat Kapal Feliana 01 yang Heru tumpangi bersama 10 orang rekannya itu tiba di lokasi yang ditentukan sebagai spot memancing.
Mereka menempuh perjalanan selama 2,5 jam dari Pelabuhan Manggar dan kapal tiba di titik pemancingan sekitar pukul 05.30 WIB.
Di atas kapal, total ada 13 orang yang terdiri atas 11 pemancing, 1 ABK dan 1 Kapten Kapal.
"Kami ini rombongan pemancing, ada sebelas orang. Ditambah kapten satu dan ABK satu, jadi total di atas kapal itu ada tiga belas orang. Pak Heru itu kawan mancing kami, bukan pekerja kapal," ujar Wahyu, rekan korban.
Wahyu menceritakan saat kapal baru saja tiba di titik lokasi dan mesin dimatikan semua orang sibuk menyiapkan joran, memasang rel hingga mengatur umpan untuk.
"Kami bahkan belum sempat menurunkan satu pun mata pancing ke laut. Kami semua masih sibuk masing-masing menyetel alat pancing," ucapnya.
"Kami baru saja sampai di lokasi titik pemancingan. Namanya baru sampai, kami semua sibuk masing-masing. Ada yang ambil peralatan, kotak dan pancing di depan untuk diserahkan ke kawan-kawan yang lain," ujar Wahyu.
Di tengah kesibukan ioitu, Haris Sukhatno alias Heru (44) diduga berjalan pindah dari area depan menuju buritan atau bagian belakang kapal.
Karena fokus pada peralatan masing-masing, tidak ada satu pun rekan pemancing yang menyadari kepindahan Haris.
Wahyu bersama beberapa rekan lain memang saat itu posisinya sedang berada di bagian belakang kapal, namun juga tidak terlalu dekat terhadap buritan.
"Pak Heru itu tidak tahu kenapa pindah ke buritan. Apakah mau mengambil sesuatu atau bagaimana, kami tidak ada yang ngeh. Tiba-tiba saja, ada yang mendengar suara teriakan pendek, 'Aduh!', dari arah sana," ucapnya.
Mendengar teriakan itu, pandangan Wahyu dan rekan-rekannya langsung menuju ke arah asal suara.
Namun, sosok Heru sudah tidak ada di atas dek kapal.
Saat mereka melihat ke arah bawah, mereka hanya melihat kain merah di antara gulungan ombak.
"Pas kami dengar suara itu, langsung kelihatan di laut ada jaket. Jadi Pak Heru itu sudah kecebur duluan ke dalam air. Kami langsung panik semua di atas kapal," ungkapnya.
Suasana kapal mendadak berubah menjadi kepanikan. Kapten kapal langsung berusaha memutar haluan dan kru kapal mencoba melakukan penyisiran di sekitar lokasi titik jatuh.
Namun, air laut saat itu sedang kencang karena dipengaruhi oleh gelombang yang cukup besar.
Wahyu menduga Heru terpeleset karena lantai buritan yang licin.
"Kami tidak tahu pasti apakah pas jatuh itu dia sempat kepentok badan kapal atau langsung terseret ombak ke bawah. Kami cari mutar-mutar selama satu setengah jam, tapi hasilnya nihil," tuturnya.
Sejak saat itu Heru dinyatakan hilang.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)