Serangan Drone Picu Kebakaran di Dekat Pembangkit Nuklir UEA, PBB Mengecam
GH News May 18, 2026 03:09 AM
Abu Dhabi - Serangan drone memicu kebakaran di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir di emirat Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Pihak berwenang mengatakan tidak ada korban luka maupun dampak lain terkait radiasi namun PBB pun mengecam.

"Otoritas di Abu Dhabi merespons insiden kebakaran yang terjadi pada generator listrik di luar perimeter bagian dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Barakah di wilayah Al Dhafra, yang disebabkan oleh serangan drone," demikian pernyataan Kantor Media Abu Dhabi, dilansir AFP, Minggu (17/5/2026).

Pembangkit tersebut mulai beroperasi pada 2020 dan berlokasi sekitar 200 kilometer di sebelah barat ibu kota UEA, Abu Dhabi. Lokasi itu dekat perbatasan dengan Arab Saudi dan Qatar. Perusahaan operator milik negara, Emirates Nuclear Energy Company, mengatakan pada 2024 bahwa pembangkit itu memasok hingga seperempat kebutuhan listrik negara kaya minyak tersebut.

"Tidak ada korban luka yang dilaporkan, dan tidak ada dampak terhadap tingkat keselamatan radiologi," kata kantor media tersebut. "Seluruh langkah pencegahan telah diambil, dan pembaruan lebih lanjut akan disampaikan begitu tersedia."

"Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir (FANR) menegaskan bahwa kebakaran tersebut tidak memengaruhi keselamatan pembangkit maupun kesiapan sistem-sistem utamanya, dan seluruh unit tetap beroperasi normal."

Rafael Grossi, kepala badan nuklir PBB, mengecam insiden tersebut.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan di X bahwa Grossi "menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut dan mengatakan aktivitas militer yang mengancam keselamatan nuklir tidak dapat diterima".

Uni Emirat Arab menjadi negara kedua di kawasan yang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir setelah Iran, sekaligus yang pertama di dunia Arab.

Pernyataan itu tidak menyebutkan asal peluncuran drone. Namun, Uni Emirat Arab belakangan menuduh Iran berada di balik serangan terhadap infrastruktur energi dan ekonominya.

Teheran melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, menewaskan para pemimpin senior dan memicu perang yang lebih luas.

Iran menuduh UEA dan sekutu AS lainnya di Teluk mengizinkan pasukan AS melancarkan serangan dari wilayah mereka. UEA dengan keras membantah laporan Iran yang menyebut negara itu ikut aktif dalam serangan tersebut.

Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada 8 April, tetapi negosiasi damai mandek dan serangan sporadis terus berlanjut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.