Jamu Nafsu Makan, Gudangnya Ada di Dapur dan Kebun Belakang Rumah
Moh. Habib Asyhad May 18, 2026 03:34 PM

Jamu nafsu makan untuk si kecil sejatinya bisa kita temukan di dapur atau kebun belakang rumah, temu lawak misalnya. Masalnya, kita ogah menguliknya.

Penulis: Slamet Suseno | tayang di Majalah Intisari edisi Juli 1989 dengan judul "Jamu Nafsu Makan"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Anak Anda ogah-ogahan disuap? Sebaiknya diteliti dulu, apa penyebabnya. Jangan keburu diberi obat paten yang beredar di pasaran, karena siapa tahu jamunya bisa kita dapat dari kebun belakang rumah kita.

Pada akhir November 1988 kita dikejutkan oleh berita pemakaian obat perangsang nafsu makan sintetik yang meluas. Para ibu dan pengasuh anak dikhawatirkan akan makin gemampang memakai obat itu agar anak asuhannya tidak rewel menolak suapan. Memang anak jadi suka makan, tapi obat itu mengacaukan imbangan antara pusat urat saraf (pemantau) lapar dan pusat kenyangnya.

Salah pakai

Kita merasa lapar, kalau ada halo-halo dari perut kepada pusat lapar di hipotalamus (bagian dari otak yang mengontrol macam-macam pengaturan tubuh, seperti rasa haus, lapar atau kenyang, suhu badan, peredaran darah, pengeluaran hormon). Kalau perut kemudian merasa kenyang karena sudah terisi makanan, urat syaraf daerah setempat memberitahu pusat kenyang, "Udeh, bang!". Lalu pusat ini memberitahu pusat lapar di dekatnya, "Hup! Jangan ribut lagi!"

Begitulah jalannya mekanisme tubuh dalam menangani lapar-kenyang. Kalau kemudian ada obat nafsu makan yang disuruh turut campur dalam koordinasi tubuh yang sudah rapi itu (misalnya obat berisi Cyproheptadine yang disalahgunakan), maka pusat saraf yang sudah betul memberi tahu "belum lapar" itu kini didorong memberi sinyal "ya deh, lapar". Padahal tidak.

Pusat kenyang yang dibohongi memang tidak sewot, tapi imbangan pengaruh antar-kedua pusat itu sudah bergeser. Nilai ambang batas yang dipakai sebagai pengukur "sudah lapar" dan "belum lapar" juga berubah.

Lalu kacau, setiap kali ada koordinasi rapi dibuat acak-acakan karena anak diberi obat nafsu makan. Padahal ia masih kenyang.

Appetite stimulant seperti Cyproheptadine itu sebenarnya dibuat untuk mendorong nafsu makan orang yang memang kehilangan selera makan. Misalnya karena baru saja sembuh dari sakit, lemah badan karena baru dioperasi, atau minum obat tertentu yang efek sampingnya mual.

Pemakaiannya pun hanya kalau pasien itu memang benar-benar sudah lapar saja, karena sudah waktunya makan (tapi tak berselera). Ini jelas berbeda dengan anak yang tidak apa-apa, yang mungkin juga masih belum lapar, tapi sudah dipaksa makan, supaya pengasuhnya bisa lekas bebas dari tugas menyuapi.

Dibungkam

Yang lebih merisaukan adalah penyalahgunaan obat 'nafsu makan' lain yang sama populernya, berisi pizotifen. Sebenarnya ia bukan appetite stimulant, tapi penghambat serotonin yang bekerja sebagai neurotransmitter (bahan yang meneruskan rangsangan antar-urat saraf).

Dengan dihambat ini, serotonin dalam otak seolah-olah dibungkam, dan tidak bisa meneruskan pesan sakit. Karena itu, pizotifen dimanfaatkan sebagai obat pencegah nyeri di kepala pada migrain, yang kadang-kadang disertai ingin muntah.

Akan tetapi efek sampingannya ialah meningkatkan nafsu makan. Inilah yang kemudian di-(salah)-gunakan.

Anak yang tidak sakit kepala apa-apa—yang ogahnya makan hanya karena masih kenyang saja, bukan karena "lapar tapi kehilangan selera makan”—kalau diberi obat itu ya jelas jadi suka makan. Sialnya, obat itu juga bersifat anabolik (mendorong proses perubahan zat makanan menjadi jaringan tubuh, alias mendorong bodybuilding).

Anak memang bisa membentuk otot lebih banyak daripada yang tidak, tapi tulang-tulang panjangnya yang juga dipercepat tumbuhnya, akan cepat pula menutup ujungnya secara dini. Lalu kelak tidak bisa tumbuh lagi. Anak itu dirisaukan besok bukannya menjadi orang yang tinggi besar, tapi pendekar (pendek dan kekar).

Cukup ki bajetah

Anak yang sehat selalu mempunyai nafsu makan yang normal. Kalau tidak, berarti kesehatannya sedang terganggu.

Penyebab yang sering muncul ialah rasa tak enak badan (kadang-kadang dengan demam awal), karena masuk angin yang tak diurus. Penyebab kedua ialah, pencernaan makanan yang tidak sempurna (gara-gara kekurangan enzim pencernaan), sedangkan penyebab lain ialah cacingan.

Nenek moyang kita menangani anak yang kurang nafsu makan semacam itu dengan meneliti dulu: apakah itu karena masuk angin tak diurus, ketidakberesan pencernaan makanan, atau cacingan.

Kalau hanya karena masuk angin saja (yang tidak ditandai gejala sakit apa-apa, tapi cuma tak enak badan), nenek kita "ti Parahyangan" ada yang suka mencekokkan sari perasan daun bajetah, Clausena excavata, kepada anak itu. Daun perdu pendek dari suku Rutaceae ini (yang masih "pernah” keponakan jauh dari kaum jeruk), lonjongnya juga mirip daun jeruk-jerukan.

Daun itu ditumbuk bersama umbi empu (induk) kunyit, Curcuma domestica, dulu. Kunyit adalah sejenis terna (tanaman berbatang lunak tak berkayu yang tumbuh tega), tapi ada yang suka menyebutnya herba (tanaman yang sama lunaknya tapi tumbuh menjalar).

Tentu saja lunak karena "batang" kunyit itu sebenarnya pelepah daun. Batang yang sesungguhnya hidup subversif di bawah tanah sebagai rimpang.

Umbi empu kunyit inilah yang berkhasiat sebagai jamu antiradang (karena mengandung kurkumin yang antikuman), sampai ia mampu mencegah demam. Digabung dengan ki bajetah yang mengandung sejenis alkaloida pahit pemberantas demam "tak enak badan" tapi "tidak sakit", keduanya merupakan jamu nafsu makan tanpa efek sampingan yang merugikan. Lagi pula cespleng.

Sekali pakai saja, jamu ini sudah tak perlu diberikan ulang lagi (biasanya).

Ditemu lawak

Kalau menurunnya nafsu makan disebabkan oleh ketidakberesan pencernaan makanan (yang dapat dilihat dari "air besar" yang dibuang "ke belakang" tidak bagus), maka anak itu ditangani secara lain.

Ketidakberesan pencernaan lazimnya karena kekurangan enzim, itu bisa jadi terjadi karena perubahan yang terlalu mendadak dari susunan makanan anak. Pelepasan enzim yang tadinya sudah serasi dengan jenis makanan tertentu sebelumnya, tiba-tiba disuruh menghadapi makanan yang lain. Macetlah, awak!

Di Jawa Tengah, anak semacam ini akan dicekoki air perasan tumbukan daun pepaya segar yang sudah dicampur air dan garam sedikit. Airnya untuk mengencerkan sari daun pepaya—supaya tidak terlalu "keras"—dan garamnya untuk mengurangi rasa pahit.

Semuanya lalu dibungkus sapu tangan. Anaknya digujer (dipegang erat-erat tangan dan kakinya supaya tidak meronta) oleh pembantu, sambil ditidurkan telentang di atas pangkuan ibu.

Mulutnya kemudian dijejali gumpalan jamu dalam sapu tangan itu. Sambil dijejalkan juga diperas. Jadi airnya langsung masuk mulut, meskipun diiringi pemberontakan kecil.

Memang berbahaya, sebab anak itu bisa tersedak, tapi itu dilakukan pada zaman teknologi terbelakang dulu. Sekarang, hasil tumbukan daun pepaya mentah itu sudah dimodernisasi lebih aman, dengan jalan disaring kain mori di luar mulut dulu. Lalu air saringannya ditampung dalam cangkir dan diminumkan kepada anak.

Untuk membuang rasa pahit dalam mulut, anak itu kemudian boleh mengisap-isap sepotong gula jawa. Sebaiknya diminta pelan-pelan, supaya air pepayanya sempat bekerja dulu dalam perut, sebelum disusul gula jawa. Kalau tak ada itu, boleh juga makan pisang susu.

Daun pepaya, Carica papaya, yang mengandung enzim papain, memang mampu memperpanjang daya cerna pepsin (ini enzim juga, hasil lambung anak itu sendiri), sehingga pencernaan makanan berprotein dalam lambung bisa lebih sempurna.

Kalan perut juga sebah

Ada pula anak yang turunnya nafsu makan itu disertai perut sebah, (seperti ada yang mengganjal). Sebenarnya bukan perut yang terganggu, tapi mungkin usus dua belas jari. Yaitu kalau empedu yang dikerahkan kurang banyak dibandingkan dengan lemak yang harus dicernakan.

Kalau sebahnya tidak begitu berat, anak itu cukup diberi minuman kunir asem atau sirup koneng saja. Umbi empu kunyit diparut (parutnya dialasi daun pisang atau lembaran plastik dulu supaya tidak ketempelan kunyit terus), lalu diperas sarinya, setelah dibubuhi air sedikit.

Dalam gelas, sari kunyit diencerkan lebih lanjut dengan air masak secukupnya, asam jawa sedikit dan sekelumit gula. Sebaiknya juga jawa.

Kunir asem atau sirup koneng semacam ini hanya boleh diminumkan kalau perut anak itu masih (atau sudah) terisi saja. Sama sekali tidak boleh dipaksakan ketika perutnya masih kosong. Bisa melilit-lilit rasa perut anak malang itu.

Kalau sebahnya lebih berat, kunyit asam tidak cukup. Mungkin yang terganggu bukan usus dua belas jarinya, tapi sudah sampai ke hati, yang letaknya di daerah perut itu juga; tidak begitu jauh dari lambung. Ini gara-gara hati mulai kewalahan menghadapi lemak yang harus dicernakan.

Anak sebah berat seperti itu lalu diberi sari umbi temulawak, Curcuma xanthorrhiza. Sejenis terna juga, seperti kunyit di muka.

Bedanya ialah, sosok tubuh temulawak lebih tinggi besar, sedang umbinya juga lebih gede, sampai di Pasundan ia disebut koneng gede. Parutan umbinya dicampur dengan air dan dibiarkan mengendap. Cairannya kemudian direbus sampai mendidih.

Maka, selama direbus itu akan ada reaksi antara para-toluilmetilkarbinol yang dikandung temu itu dengan kamper yang dibawanya. Hasil reaksi berupa diethanolamine-para-toluilmetilkarbinol kamfor, bersifat koleretik, merangsang hati untuk menghasilkan empedu lebih banyak.

Hasil rebusan sari temulawak ini boleh diberi gula jawa sedikit supaya agak manis. Barulah ia diberikan kepada anak sebah yang tidak jadi sewot.

Gara-gara cacingan, lain lagi

Kalau kurangnya nafsu makan anak itu dibarengi dengan muka pucat dan suhu badan rendah (ujung kaki dan tangan dingin), maka nenek kita dulu menarik kesimpulan, bahwa anak sudah lemah badannya. Biasanya karena cacingan.

Anak itu akan dicekoki air perasan umbi temu ireng, Curcuma aeruginosa. Ini umbi rimpang sejenis terna juga, kerabat dekat temulawak, Curcuma xanthorrhiza yang sudah disebut-sebut tadi.

Umbi temu ireng mudah dikenal, karena ada lingkaran abu-abu gelap, kalau sudah tua (dan memenuhi syarat sebagai jamu), dan dipotong melintang.

Umbi sepanjang jari kelingking diparut dan dibubuhi air, lalu dibungkus sapu tangan untuk dicekokkan ke dalam mulut anak yang bersangkutan. Itu dulu.

Pada zaman kemudian, hasil parutan temu ireng disaring di luar mulut dulu. Air saringannya ditampung dalam cangkir dan dibiarkan mengendapkan tepungnya dulu beberapa waktu.

Sarinya yang sudah bebas tepung kemudian dibubuhi garam sedikit dan gula jawa sekadarnya. Barulah ia diberikan sebagai obat sirup nenek moyang mutakhir.

Tentu saja, cara pengobatan nenek moyang yang kurang praktis ini kurang begitu populer dibandingkan dengan cara modern yang tinggal menelankan tablet dan air putih saja itu. Namun, pertimbangan mensejahterakan anak di hari depannya lebih penting.

Sampai sekarang belum diketahui persis, zat apa yang terkandung dalam umbi temu ireng. Akan tetapi, khasiatnya sebagai penumpas cacing pada anak balita sudah berabad-abad lamanya dimanfaatkan tanpa efek sampingan.

Sayang, masih belum ada yang mau menyisihkan waktunya untuk meneliti kandungan kimia temu ireng ini. Lalu khasiatnya sebagai jamu cacingan belum begitu kita percayai.

Padahal, istimewanya lagi, semua tanaman itu tempatnya ada di dapur juga di kebun belakang rumah kita.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.