Laporan Jurnalis TribunBanten.com, Ahmad Haris
TRIBUNBANTEN.COM, CILEGON - Raminten (56) perajin sekaligus pedagang tempe di Kelurahan Kranggot, Kota Cilegon, Banten merespon pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Baca juga: Respon Presiden Prabowo Usai Rupiah Ambruk ke Level Terendah Rp17.602: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar
“Ada yang selalu, entah apa saya nggak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan collaps, akan chaos, akan apa, ya kan, dolar begini, dolar begitu,” kata Prabowo.
“Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok.”
Raminten mengatakan, kenaikan harga kedelai sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS.
“Kalau dolar naik, harga kedelai ikut naik. Otomatis biaya produksi tempe juga naik,” ujar Raminten saat ditemui, Senin (18/5/2026).
Raminten telah menjalankan usaha produksi tempe sejak 2003. Selama lebih dari dua dekade berjualan, ia mengaku baru beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan biaya produksi yang cukup berat.
Saat ini harga kedelai mencapai Rp11 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dibandingkan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp9 ribu per kilogram.
“Harga sekarang Rp11 ribu per kilo. Naiknya terasa sejak Maret 2026 atau waktu bulan puasa kemarin,” katanya.
Meski harga bahan baku terus meningkat, Raminten memilih tidak menaikkan harga jual tempe.
Ia khawatir pelanggan akan beralih ke penjual lain apabila harga dinaikkan.
Saat ini tempe produksinya dijual seharga Rp3.500 per bungkus. Harga tersebut bertahan sejak pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, harga tempe miliknya masih Rp3.000 per bungkus.
“Kalau harga tempe dinaikin, takut pelanggan kabur. Jadi bertahan di Rp3.500 saja,” ucapnya.
Menurut Raminten, kenaikan harga kedelai membuat keuntungan usahanya terus menurun.
Bahkan, kapasitas produksi harian kini terpaksa dikurangi untuk menekan biaya operasional.
Sebelumnya, ia mampu mengolah hingga 50 kilogram kedelai per hari. Namun kini produksinya turun menjadi sekitar 30 kilogram per hari.
“Dulu bisa produksi 50 kilo sehari, sekarang paling 30 kilo,” katanya.
Tempe hasil produksinya dipasarkan ke Pasar Kranggot dan sejumlah pelanggan di sekitar wilayah Cilegon.
Selain harga kedelai, biaya produksi lain juga mengalami kenaikan, termasuk harga plastik untuk kemasan.
Kondisi tersebut semakin membebani usaha kecil seperti dirinya.
Meski demikian, Raminten mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain mempertahankan harga jual agar pelanggan tetap bertahan.
“Terpaksa enggak naikkin harga. Takut pembeli kabur. Paling bisanya cuma ngeluh,” ujarnya.
Di tengah kenaikan berbagai kebutuhan produksi, keuntungan yang diperoleh kini semakin tipis.
Raminten mengatakan penghasilan dari berjualan tempe saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“Keuntungannya sekarang cuma cukup buat makan sehari-hari,” katanya.