Dosen UBB Sebut Tren Kurban Sapi Premium Kini Dipengaruhi Gaya Hidup dan Citra Sosial
Asmadi Pandapotan Siregar May 18, 2026 06:29 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, tren permintaan hewan kurban premium seperti sapi Limusin dan Simmental diprediksi mengalami peningkatan. Di balik tingginya minat masyarakat terhadap sapi berbobot jumbo tersebut, tersimpan peluang ekonomi besar bagi peternak, sekaligus tantangan serius terkait biaya produksi dan ketidakpastian pasar.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung (UBB), Darman Saputra, menilai momentum Iduladha masih menjadi "musim panen" bagi peternak sapi premium. Hal itu tercermin dari tren peningkatan kebutuhan hewan kurban nasional yang terus tumbuh dibanding tahun sebelumnya.

"Jika dibandingkan tahun 2025, permintaan sapi premium pada Idul Adha 2026 mengalami peningkatan yang signifikan. Kementerian Pertanian mencatat proyeksi kebutuhan hewan kurban nasional naik 3,82 persen pada 2026, lebih tinggi dibanding kenaikan 1,98 persen pada 2025," ujar Darman kepada Bangkapos.com, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, meningkatnya kebutuhan tersebut mulai terasa di lapangan. Bahkan di sejumlah daerah, sapi Limusin dan Simmental telah banyak dipesan jauh hari sebelum Iduladha berlangsung.

Fenomena itu, kata dia, menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke atas, yang mulai melirik sapi premium untuk hewan kurban.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap sapi jumbo, Darman menilai fenomena itu tidak semata-mata dilihat dari sisi ekonomi, melainkan juga perilaku sosial masyarakat.

Menurut dia, pilihan terhadap sapi Limusin berukuran besar pada dasarnya tetap berangkat dari semangat ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial.

Namun dalam perkembangannya, faktor gaya hidup dan citra sosial turut memberi pengaruh terhadap pilihan masyarakat, terutama di kalangan tertentu.

"Hewan kurban premium juga mulai dipengaruhi faktor gaya hidup dan citra sosial, terutama di kalangan menengah ke atas," ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa substansi utama ibadah kurban tetap terletak pada keikhlasan dan niat, bukan semata ukuran maupun harga hewan yang dipilih.

Di sisi ekonomi, bisnis sapi Limusin dinilai menawarkan margin keuntungan lebih besar dibanding sapi lokal. Harga jual satu ekor sapi premium dapat mencapai puluhan juta rupiah, tergantung ukuran, bobot, dan kualitas ternak.

"Margin keuntungan peternak sapi Limusin relatif lebih tinggi dibanding sapi lokal karena harga jual sapi premium dapat mencapai puluhan juta rupiah per ekor," katanya.

Namun, Darman mengingatkan bahwa keuntungan besar tersebut tidak datang tanpa risiko. Peternak harus menanggung biaya produksi yang juga jauh lebih tinggi, mulai dari kebutuhan pakan, vitamin, hingga pengawasan kesehatan ternak.

Dengan kata lain, laba peternak sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola biaya pemeliharaan serta kondisi pasar menjelang hari kurban.

"Besaran laba sangat bergantung pada bobot ternak, efisiensi pemeliharaan, dan kondisi pasar saat Idul Adha," ujarnya.

Di balik besarnya potensi keuntungan saat musim kurban, peternak sapi premium juga menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Tingginya harga pakan ternak, biaya kesehatan, hingga fluktuasi daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas keuntungan peternak.

Selain itu, sapi Limusin memerlukan perawatan lebih intensif dibanding jenis sapi biasa agar kualitas fisik dan bobot tubuh tetap optimal saat dipasarkan.

Karena itu, menurut Darman, peternak membutuhkan strategi usaha yang lebih adaptif, mulai dari efisiensi pakan, penguatan kesehatan ternak, hingga membangun kemitraan pemasaran yang lebih luas.

"Diperlukan strategi berupa efisiensi pakan, penguatan kesehatan ternak, serta kemitraan pemasaran agar usaha peternakan sapi premium tetap berkelanjutan, termasuk di Bangka Belitung," katanya.

Lebih jauh, Darman menilai bisnis sapi Limusin memiliki prospek jangka panjang dan tidak hanya bergantung pada momentum Idul Adha semata.

Menurut dia, peluang usaha ini tetap menjanjikan jika peternak mampu melakukan diversifikasi bisnis, seperti pembibitan dan penggemukan sapi, agar pemasukan tetap berjalan di luar musim kurban.

"Dengan pengelolaan yang lebih modern dan terintegrasi, usaha sapi premium masih cukup menjanjikan, termasuk di Bangka Belitung," ujarnya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.