Cerita Petani Tebo 2 Kali Dikejar Gajah Tapi Bisa Selamat, Kini Ubah Sawit Jadi Agroforestri
asto s May 18, 2026 07:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, MUAROTEBO - Saat jarak tinggal satu meter, Sofwan meloncat ke semak-semak. Petani di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, itu langsung bilang, "ampun, Tuk, ampun, Tuh." Lalu Gajah Sumatera di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh itu berhenti dan pergi.

Hidup sebagai petani di dekat hutan, bukan hanya soal mengolah tanah dan menunggu panen. Di wilayah yang bersinggungan langsung dengan habitat satwa liar, seperti  Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), setiap hari menyimpan risiko yang tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Di Kabupaten Tebo, sebagian warga harus berbagi ruang dengan gajah liar yang kerap keluar hutan mencari makan. Ini seperti yang dialami Sofwan. 

Kebun yang menjadi tumpuan hidup berubah sewaktu-waktu menjadi arena ketegangan.

Kerusakan tanaman mungkin bisa dihitung dengan uang, tetapi trauma bertemu langsung dengan satwa bertubuh raksasa jelas tak mudah dilupakan. Apalagi ketika jarak antara manusia dan gajah hanya tersisa hitungan langkah.

Gajah Sumatera
Gajah Sumatera (Tribunjambi.com)

Pengalaman itulah yang dialami Sofwan, seorang petani yang telah belasan tahun membuka lahan di kawasan pinggir hutan yang berjarak dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. 

Beberapa kali, Sofwan berada dalam situasi genting saat berhadapan langsung dengan gajah liar.

Dia dikejar di kebun, lalu bersembunyi di semak, hingga pasrah saat gajah berada tepat di depan mata.

Semua itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai petani di tapal batas hutan.

Namun, di tengah ancaman itu, Sofwan dan warga lainnya memilih jalan berdamai. 
Mereka belajar memahami perilaku gajah, menata ulang kebun, dan menjaga sikap agar konflik tidak berujung pada kekerasan.

Bagaimana pengalaman petani Tebo itu berhadapan dengan Gajah Sumatera? Berikut petikan wawancara Sofwan bersama Jurnalis Tribun Jambi, Rifani Halim:

Tribun Jambi: Tribuner, saya Rifani Halim, reporter Tribun Jambi. Saya berkesempatan mewawancarai salah satu petani di Kabupaten Tebo, tepatnya di kawasan lanskap Bukit Tiga Puluh. 

Berikut kisah para petani yang hidup berdampingan dengan satwa liar di wilayah ini.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tribuner. Saat ini saya berada di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, bersama Pak Sofwan. 
Pak Sofwan memiliki pengalaman menegangkan karena pernah dikejar gajah liar di kebunnya.

Pak Sofwan, bisa diceritakan bagaimana awal mula Bapak mengalami kejadian itu?

Sofwan: Awalnya itu kami dengar kabar dari kawan, katanya ada orang dikejar gajah di kebun. 

Kami tidak percaya. Lalu saya coba datang ke lokasi. 

Dari bukit itu kami bertiga, saya bunyikan cedoran, mercon itu. 

Bukannya menjauh, gajahnya malah mendekat dan naik ke arah kami.

Tribun Jambi: Seberapa dekat jaraknya saat itu, Pak?

Sofwan: Sekitar dua meter. Itu gajah liar. Saya langsung lari, dan dia malah mengejar. Kami bertiga langsung lari berpencar.

Tribun Jambi: Saat itu Bapak merasa diserang atau bagaimana?

Sofwan: Entah mau menyerang atau tidak, tapi dia mendekat. Ada suara lolongan, lompat-lompat. Saya terkejut dan lari, memang seperti dikejar.

Tribun Jambi: Kejadian itu tahun berapa, Pak?

Sofwan: Tahun 2022. Lalu ada lagi kejadian tahun 2024, dekat masjid sini.

Tribun Jambi:  Kejadian dekat masjid itu seperti apa?

Sofwan: Waktu itu pagi hari, mau sahur. Kami patroli. Tiba-tiba gajah sudah di belakang masjid. 

Itu gajah jantan, tunggal. Yang betina biasanya tidak mengejar.

Tribun Jambi: Jaraknya sangat dekat?

Sofwan: Iya, sekitar satu meter. Saya loncat ke semak-semak. Hampir saja. 

Kami bertiga waktu itu, rasanya sudah pasrah. 

Saya bilang, “ampun tuh, ampun tuh.” Lalu gajahnya berhenti dan pergi.

Tribun Jambi:  Menurut Bapak, gajah itu seperti mengerti?

Sofwan: Entahlah. Tapi kami percaya jangan bicara kasar atau benci sama gajah. Kita ngomong baik-baik saja.

Tribun Jambi: Berarti warga di sini tidak menyimpan kebencian meski kebun sering diganggu?

Sofwan: Tidak. Kami tidak pernah benci. Dia cari makan juga. Kami sama-sama hidup. 

Kami juga tidak pernah pasang jerat atau pagar besi.

Tribun Jambi:  Sejak kapan Bapak membuka lahan di sini?

Sofwan: Sekitar 2005-2006. Waktu itu masih hutan, PT belum masuk. 

Tapak gajah memang sudah ada sejak awal.

Tribun Jambi:  Tanaman apa yang paling sering diganggu gajah?

Sofwan: Sawit. Gajah paling suka sawit, terutama umbutnya. Kadang sampai habis batangnya.

Tribun Jambi:  Apakah itu membuat Bapak mengubah pola bertani?

Sofwan: Iya. Kami mulai menanam beragam tanaman. Selain sawit dan karet, kami tanam jeruk, durian, alpukat, pete, kopi, dan kayu-kayuan.

Tribun Jambi:  Tanaman apa saja yang sudah menghasilkan?

Sofwan: Kopi sudah mulai menghasilkan. Sawit dan karet juga. Jeruk itu paling manja tapi hasilnya lumayan. Satu batang bisa sampai satu sampai dua kuintal.

Tribun Jambi:  Dengan pola tanam beragam ini, apa harapan Bapak ke depan?

Sofwan: Supaya tidak tergantung satu komoditas. Tapi memang harus rajin. Kalau tidak rajin, kebun jadi semak.

Tribun Jambi:  Terakhir, apakah keluarga dan anak-anak juga diedukasi soal hidup berdampingan dengan gajah?

Sofwan: Iya. Kami selalu bilang, jangan mengejek gajah, jangan benci, jangan menyakiti. 
Kita dekat hutan, itu memang wilayah mereka juga. Kita hanya berusaha supaya mereka tidak mengganggu tanaman, bukan memusuhi.

Tribun Jambi: Luar biasa sekali pengalaman dan edukasi dari Pak Sofwan. 

Tribuner, demikian kisah petani di Dusun Benteng Makmur yang hidup berdampingan dengan gajah liar di lanskap Bukit Tiga Puluh. Terima kasih, sampai jumpa. (Tribun Jambi/Rifani Halim)

Baca juga: Pledoi Ditolak Jaksa, Empat Terdakwa Korupsi DAK SMK Jambi Tunggu Vonis

Baca juga: 11 Tahun SAD Jambi Nanti Janji Lahan 2.500 Ha dari Jokowi yang Belum Ditepati

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.