Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti
TRIBUNJATIM.COM, MADIUN - Mendung menggantung rendah di langit Desa Sukolilo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, sore itu.
Cahaya senja menghilang lebih cepat. Satu per satu petani meninggalkan sawah, memanggul lelah setelah seharian membakar punggung di hamparan padi yang mulai menguning.
Musim panen seharusnya menjadi waktu yang paling ditunggu. Setelah sekitar 90 hari merawat Oryza sativa, hasil kerja keras akhirnya siap dipetik.
Namun bagi Edi Bhaskoro, petani setempat, datangnya panen justru membawa kegelisahan.
Harga gabah dalam pekan terakhir bulan April 2025 turun hingga Rp 5.800 per kilogram. Angka itu jauh dari harapan petani.
Di perjalanan pulang menuju rumah, Bhaskoro saling bertukar cerita dengan petani lainnya. Keluhannya serupa. Mereka takut hasil panen tidak mampu menutup biaya produksi yang terus meningkat.
"Petani juga berpikir, kalau caranya begini, buat apa menanam padi, buat apa jadi petani. Rugi terus," kata Bhaskoro, Minggu (17/5/2026).
Padahal padi miliknya sebenarnya sudah siap dipanen. Namun panen sengaja ditunda. Ia memilih menunggu harga membaik meski tak tahu sampai kapan.
Malam itu terasa panjang bagi Bhaskoro. Di teras rumahnya, ditemani kopi hitam dan asap rokok yang berbaur dengan angin dingin pedesaan, pikirannya dipenuhi berbagai keresahan.
Bukan hanya tanggung jawab kepada keluarganya sendiri. Sebagai pengurus Kelompok Tani (Poktan) Dadi Rukun Desa Sukolilo, ia juga memikirkan nasib para petani lain yang menggantungkan hidup dari sawah.
Baca juga: Kejar Target 25 Mei, Bulog Madiun Percepat Penyaluran Bantuan Pangan untuk 166 Ribu Warga Ngawi
Di tengah kegelisahan itu, secercah harapan datang.
Kabar mengenai program Sergab (Serapan Gabah) Bulog disampaikan Babinsa Desa Sukolilo dari Koramil 0803/04 Jiwan, Serda Suprianto. Pemerintah melalui Bulog siap menyerap gabah petani dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Bagi petani, angka itu seperti napas baru.
"Anggota Poktan langsung menanyakan apa saja syaratnya. Ternyata gampang, apalagi teman-teman sudah tergabung dalam lembaga Poktan, tinggal setor KTP dan data rekening saja," ujar Bhaskoro.
Berbekal informasi tersebut, Bhaskoro bersama pengurus kelompok tani segera mendata anggota yang siap panen dan bersedia menjual hasil panennya ke Bulog.
Respons petani begitu antusias. Hampir seluruh anggota kelompok tani memilih menjual gabahnya ke Bulog karena harga yang ditawarkan lebih tinggi dibanding pasar.
"Hampir semuanya bersedia menjual. Karena harganya lebih tinggi dibandingkan harga pasaran. Di samping itu cadangan beras petani juga masih banyak dari hasil panen sebelumnya," tambahnya.
Dua hari kemudian, panen akhirnya dilakukan. Semangat petani kembali terlihat di tengah hamparan sawah Desa Sukolilo. Sekitar 30 ton Gabah Kering Panen (GKP) dari Poktan Dadi Rukun berhasil diserap Bulog.
Tak lama setelah gabah dikirim, uang hasil penjualan langsung masuk ke rekening masing-masing petani.
"Semenjak itu hubungan dengan Bulog semakin baik. Teman-teman bisa sewaktu-waktu menghubungi Bulog jika ingin menjual hasil panennya," terang Bhaskoro.
Kepastian adanya penyerapan gabah itu perlahan mengembalikan optimisme petani. Setidaknya mereka kini memiliki kepastian harga ketika musim panen tiba.
Baca juga: Program Bulog Peduli RPK Mandiri Dorong UMK Pacitan Lebih Mandiri
Kabupaten Madiun menjadi salah satu lumbung pangan penting di Jawa Timur. Pada tahun 2025, produksi beras di daerah berjuluk Kampung Pesilat itu mencapai 277.313 ton dan menempatkan Kabupaten Madiun di peringkat keenam produksi beras terbesar di Jawa Timur.
Melimpahnya produksi tersebut diimbangi dengan daya serap gabah oleh Perum Bulog Kantor Cabang Madiun.
Sepanjang 2025, Bulog Madiun menargetkan serapan sebesar 58.180 ton gabah setara beras. Realisasinya bahkan melampaui target, yakni mencapai 58.900 ton atau sekitar 101 persen.
Memasuki 2026, target serapan kembali ditingkatkan menjadi 77.259 ton gabah setara beras. Hingga triwulan pertama 2026, serapan telah mencapai 27.677 ton atau sekitar 35,82 persen dari target tahunan.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Madiun, Agung Sarianto mengatakan, penyerapan gabah menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga kesejahteraan petani.
Menurutnya, mekanisme penyerapan gabah dibuat sederhana agar mudah dijangkau petani. Bulog menyiapkan dua jalur penyerapan, yakni melalui tim jemput pangan atau petani dapat langsung mengirim gabah ke mitra penggilingan Bulog.
"Ketika kami mendapatkan informasi ada harga gabah yang kurang dari Rp 6.500. Itu kami wajib datang. Kami langsung kontak Babinsa dan petugas kami di lapangan, kami datang dan langsung kami serap hari itu juga," katanya.
Kini harga gabah di tingkat petani berangsur membaik. Namun bagi Bulog, menjaga harga tetap stabil bukan hanya soal angka, melainkan menjaga semangat petani untuk terus menanam.
"Dengan angka 6.500 itu setidaknya kami menjaga asa, menjaga semangat petani untuk menanam. Dengan harga itu insyaallah petani masih untung dan bisa membiayai hidup maupun tanam berikutnya," pungkasnya.