WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Badai ekonomi kembali mengguncang Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan terjun bebas hingga menembus angka psikologis baru di level Rp17.650, Senin (18/5/2026).
Fenomena all-time high penguatan dolar ini memicu alarm bahaya bagi perekonomian domestik.
Di tengah kepanikan pasar, investor dan influencer keuangan muda, Timothy Ronald, memberikan tamparan keras sekaligus strategi bertahan hidup (survival strategy) bagi masyarakat melalui kanal YouTube-nya, Senin (18/5/2026).
Baca juga: DPR RI Semprot Gubernur BI, Minta Jujur Soal Penyebab Rupiah Anjlok
Timothy menegaskan bahwa pihak yang paling berdarah-darah akibat kolapsnya rupiah bukanlah investor asing, melainkan rakyat kecil.
"Industri kita seperti farmasi, tekstil, dan otomotif itu mayoritas bahan bakunya impor. Ketika biaya membengkak dan usaha mereka turun, langkah pertama yang pasti dilakukan adalah gelombang PHK. Begitu PHK terjadi, daya beli runtuh, harga barang meroket, dan lingkaran setan kemiskinan dimulai," ujar Timothy dengan nada tajam.
Pola Berulang: Nilai Rupiah Lenyap 99,99 persen Sejak Merdeka
Meminjam pameo tersohor dari Mark Twain, "History doesn't repeat itself, but it often rhymes" (Sejarah tidak pernah terulang persis, tetapi sering kali berima), Timothy mengajak publik melongok ke belakang.
Menurutnya, kegagalan memahami sejarah moneter adalah alasan utama mengapa banyak masyarakat terjebak dalam kemiskinan struktural.
Jika dirunut, kata Timothy sejak Indonesia merdeka, rupiah telah berulang kali dihantam devaluasi ekstrem yang jarang dikupas secara jujur di buku-buku sekolah:
"Kalau kalian hitung dari kurs awal rupiah di angka Rp3,80 per dolar AS hingga menyentuh Rp17.650 hari ini, nilai daya beli uang kita sebenarnya sudah lenyap 99,9978 % . Habis, tidak bersisa. Jadi kalau orang tua zaman dulu bilang nabung pangkal kaya, di dunia modern nabung itu pangkal miskin!" tegas Timothy.
Lima Resep Krisis dan Mengapa Properti Tak Lagi Sakti
Berdasarkan analisis pattern recognition sejarah, Timothy merangkum ada 5 indikator mutlak yang selalu memicu krisis besar di Indonesia: penguatan dolar global, defisit anggaran, utang luar negeri yang membengkak, cadangan devisa yang menipis, dan meroketnya harga pangan.
Jika pada krisis-krisis terdahulu generasi Boomer menyelamatkan kekayaan mereka dengan memborong properti dan tanah, Timothy menilai strategi tersebut sudah usang untuk diterapkan oleh generasi muda hari ini.
Baca juga: DPR RI Geram, Rupiah Juga Ditindas Mata Uang Lainnya Selain Dolar
"Imbas dari aksi borong properti masa lalu membuat harga tanah melambung tidak masuk akal, sementara daya beli gaji anak muda tidak bergerak. Akibatnya, sejak era taper tantrum 2013 hingga sekarang, pasar properti stagnan karena kehilangan pembeli potensial," kata Timothy.
Dua Senjata Survival: Emas dan Bitcoin
Sebagai solusi konkret di tengah era uang kertas (fiat) yang kian kehilangan tajinya, Timothy mengerucutkan opsi investasi bagi anak muda ke dalam dua aset yang memenuhi kriteria scares and desirable (langka dan diinginkan oleh orang yang lebih kaya):
2. Bitcoin:
Timothy menyayangkan mentalitas sebagian masyarakat Indonesia yang masih menganggap Bitcoin sebagai judi.
Padahal, kata dia institusi finansial dan pemerintahan di Dubai, Abu Dhabi, Swiss, hingga Hong Kong sudah mengadopsinya sebagai instrumen penyelamat portofolio dari inflasi global.
"Jangan simpan uang tunai terlalu banyak saat krisis. Cari uang itu pakai keringat dan kerja keras, pastikan nilainya aman. Satu keputusan kalian untuk melek finansial hari ini adalah penentu apakah keluarga dan orang tua kalian akan selamat atau melarat 10 tahun ke depan," kata Timothy.