Rupiah Tembus Rp17.650: Timothy Ronald Buka Rahasia Sejarah dan Strategi Agar Uang Tak Jadi Sampah
Budi Sam Law Malau May 19, 2026 02:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Badai ekonomi kembali mengguncang Indonesia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan terjun bebas hingga menembus angka psikologis baru di level Rp17.650, Senin (18/5/2026).

Fenomena all-time high penguatan dolar ini memicu alarm bahaya bagi perekonomian domestik.

Di tengah kepanikan pasar, investor dan influencer keuangan muda, Timothy Ronald, memberikan tamparan keras sekaligus strategi bertahan hidup (survival strategy) bagi masyarakat melalui kanal YouTube-nya, Senin (18/5/2026).

Baca juga: DPR RI Semprot Gubernur BI, Minta Jujur Soal Penyebab Rupiah Anjlok

Timothy menegaskan bahwa pihak yang paling berdarah-darah akibat kolapsnya rupiah bukanlah investor asing, melainkan rakyat kecil.

"Industri kita seperti farmasi, tekstil, dan otomotif itu mayoritas bahan bakunya impor. Ketika biaya membengkak dan usaha mereka turun, langkah pertama yang pasti dilakukan adalah gelombang PHK. Begitu PHK terjadi, daya beli runtuh, harga barang meroket, dan lingkaran setan kemiskinan dimulai," ujar Timothy dengan nada tajam.

Pola Berulang: Nilai Rupiah Lenyap 99,99 persen Sejak Merdeka

Meminjam pameo tersohor dari Mark Twain, "History doesn't repeat itself, but it often rhymes" (Sejarah tidak pernah terulang persis, tetapi sering kali berima), Timothy mengajak publik melongok ke belakang.

Menurutnya, kegagalan memahami sejarah moneter adalah alasan utama mengapa banyak masyarakat terjebak dalam kemiskinan struktural.

Jika dirunut, kata Timothy sejak Indonesia merdeka, rupiah telah berulang kali dihantam devaluasi ekstrem yang jarang dikupas secara jujur di buku-buku sekolah:

  • Era ORI (1946): Sebelum resmi bernama rupiah, Oeang Republik Indonesia (ORI) didevaluasi hingga 29,12 % karena kas negara yang kosong pasca-perang.
  • Gunting Syarifuddin (1950): Kebijakan sanering paling ikonik di mana lembaran uang kertas secara literal digunting menjadi dua demi memotong nilainya secara paksa.
  • Devaluasi Orde Lama (1959 & 1965): Akibat hiperinflasi yang menyentuh 600 % , pemerintah memotong nilai Rp1.000 menjadi Rp100, hingga puncaknya melakukan redenominasi massal dengan memotong tiga angka nol di belakang (Rp1.000 menjadi Rp1).
  • Era Orde Baru (1971–1986): Meskipun menjanjikan stabilitas, pemerintah tercatat melakukan empat kali devaluasi besar-besaran demi mengompensasi jatuhnya harga minyak dunia (oil boom).
  • Klimaks Krisis Moneter 1998: Rupiah hancur dari Rp2.380 ke level Rp16.800 per dolar AS dalam sekejap. Rasio utang luar negeri swasta yang bengkak (138 miliar dolar AS) berbanding terbalik dengan cadangan devisa yang kritis (14,44 miliar dolar AS) menyapu bersih ratusan perusahaan dan memaksa para konglomerat memulai hidup dari nol.

"Kalau kalian hitung dari kurs awal rupiah di angka Rp3,80 per dolar AS hingga menyentuh Rp17.650 hari ini, nilai daya beli uang kita sebenarnya sudah lenyap 99,9978 % . Habis, tidak bersisa. Jadi kalau orang tua zaman dulu bilang nabung pangkal kaya, di dunia modern nabung itu pangkal miskin!" tegas Timothy.

Lima Resep Krisis dan Mengapa Properti Tak Lagi Sakti

Berdasarkan analisis pattern recognition sejarah, Timothy merangkum ada 5 indikator mutlak yang selalu memicu krisis besar di Indonesia: penguatan dolar global, defisit anggaran, utang luar negeri yang membengkak, cadangan devisa yang menipis, dan meroketnya harga pangan.

Jika pada krisis-krisis terdahulu generasi Boomer menyelamatkan kekayaan mereka dengan memborong properti dan tanah, Timothy menilai strategi tersebut sudah usang untuk diterapkan oleh generasi muda hari ini.

Baca juga: DPR RI Geram, Rupiah Juga Ditindas Mata Uang Lainnya Selain Dolar

"Imbas dari aksi borong properti masa lalu membuat harga tanah melambung tidak masuk akal, sementara daya beli gaji anak muda tidak bergerak. Akibatnya, sejak era taper tantrum 2013 hingga sekarang, pasar properti stagnan karena kehilangan pembeli potensial," kata Timothy.

Dua Senjata Survival: Emas dan Bitcoin

Sebagai solusi konkret di tengah era uang kertas (fiat) yang kian kehilangan tajinya, Timothy mengerucutkan opsi investasi bagi anak muda ke dalam dua aset yang memenuhi kriteria scares and desirable (langka dan diinginkan oleh orang yang lebih kaya):

  1. Emas:
  • Berusia lebih dari 5.000 tahun
  • Tidak bisa dicetak pemerintah
  • Volatilitas rendah. 
  • Benteng pelindung nilai instan

 2. Bitcoin: 

  • Suplai mutlak terbatas (21 juta)
  • Dikunci oleh sistem matematika
  • Return historis tertinggi 15 tahun terakhir

Timothy menyayangkan mentalitas sebagian masyarakat Indonesia yang masih menganggap Bitcoin sebagai judi.

Padahal, kata dia institusi finansial dan pemerintahan di Dubai, Abu Dhabi, Swiss, hingga Hong Kong sudah mengadopsinya sebagai instrumen penyelamat portofolio dari inflasi global.

"Jangan simpan uang tunai terlalu banyak saat krisis. Cari uang itu pakai keringat dan kerja keras, pastikan nilainya aman. Satu keputusan kalian untuk melek finansial hari ini adalah penentu apakah keluarga dan orang tua kalian akan selamat atau melarat 10 tahun ke depan," kata Timothy.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.