Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Yusdar Ohoirat
TUAL, TRIBUNAMBON.COM - Serikat Mahasiswa Pemuda Pelajar Tam (SEMPPAT) boikot SD Negeri 25, di desa Tam Ngurhir, Kecamatan Tayando Tam (KTT), Kota Tual.
Aksi tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja Kepala Sekolah SDN 25 Tam Ngurhir, yang dinilai tidak disiplin dalam menjalankan tugas.
Koordinator (SEMPPAT) Kota Tual, Insani Letsoin
mengungkapkan ketidakhadiran Kepsek selama setahun sejak dilantik secara defenitif sebagai kepala sekolah SDN 25 Desa Tam, tentu mempengaruhi aktivitas belajar mengajar.
"Sejak dilantik 17 Mei 2025 sampai hari ini, kepsek itu dia tidak pernah injak kaki di depan halaman SD 25. Jadi, masalah indisipliner ini tak hanya dikeluhkan oleh dewan guru, namun juga masyarakat Desa Tam Ngurhir," ujarnya saat diwawancarai TribunAmbon.com, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Polda Maluku Mulai Limpah Berkas Perkara Korupsi Ismail Usemahu dan Cs ke Kejaksaan Tinggi
Baca juga: Kapolsek Bastian Sebut Para Pelaku Penganiayaan di Urimessing Belum Ditetapkan Tersangka
Menurutnya, kondisi tersebut justru memperburuk komunikasi antara pimpinan sekolah dan dewan guru, bahkan juga berdampak pada program kerja SDN 25 Tam Ngurhir.
Ia menilai, hal itu secara jelas melanggar Permendikdasmen No. 7 Tahun 2025 tentang penugasan Guru sebagai kepala sekolah Bab (V) pada huruf F.
Lebih lanjut dijelaskan, pihaknya secara langsung
telah menyampaikan tuntutan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tual, untuk segera mengganti Kepala Sekolah SDN 25 Tam.
"Kami sudah tegaskan aspirasi ke Kadis pendidikan poinnya ialah, segera mengganti kepsek SDN 25, namun menurut beliau, kewenangan tersebut seutuhnya ada pada walikota, sehingga pak kadis menyampaikan poin tersebut akan beliau sampaikan ke walikota tual," terangnya.
Letsoin menambahkan, tuntutan terhadap proses
pergantian kepsek, diharapkan dapat berjalan lancar, agar aktivitas belajar mengajar dapat dilakukan sesuai koridor pendidikan yang bermutu.
"Tidak ada tendensi lain,kami hanya ingin pergantian kepsek SDN 25 segera ditindak lanjuti, entah dia mau dari kampung atau daerah mana silahkan, karena yang kami harapkan, proses belajar mengajar itu bisa berjalan secara murni, seperti guru dan masyarakat tam ngurhir inginkan," harapnya.
Ia juga menegaskan meskipun sementara dilakukan pemboikotan, pihaknya telah berkoordinasi bersama dewan guru dan aliansi
mahasiswa.
Untuk melakukan pembelajaran mandiri
di rumah-rumah oleh wali kelas, sehingga tidak berdampak bagi proses belajar anak murid.
"Boikot ini bentuk protes kami atas pelanggaran disiplin yang dilakukan kepsek selama setahun, langkah yang diambil ini, kita sudah pikir dampaknya bagi anak-anak, makanya kita alternatif buat belajar mandiri di rumah para wali kelas, juga dibantu kawan-kawan mahasiswa," pungkasnya.(*)