Tiga Jurnalis Indonesia Ikut Ditahan saat Israel Bajak 11 Kapal Kemanusiaan
Torik Aqua May 19, 2026 07:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Angkatan Laut Israel melakukan pembajakan terhadap kapal kemanusiaan Internasional.

Total terdapat 11 kapal yang dicegat paksa oleh Israel.

Pembajakan itu dilakukan di Laut Lepas Mediterania dan dinyatakan berada dalam status Siaga 1.

Status itu diterapkan setelah Angkatan Laut Israel melakukan pencegatan paksa (interception) terhadap armada kapal Global Sumud Flotilla.

Baca juga: Respon Pemerintah soal 175 Aktivis RI yang Ditangkap Israel dalam Misi Global Sumud Flotilla

Hingga Senin (18/5/2026) sore, dilaporkan sedikitnya 11 dari 61 kapal kemanusiaan internasional telah dibajak di perairan laut internasional.

Satu kapal bernama Kapal Joseph, yang mengangkut delegasi kemanusiaan serta tiga jurnalis asal Indonesia, saat ini terkonfirmasi turut menjadi target pembajakan dan penahanan oleh militer setempat.

Kapal Delegasi Indonesia Berstatus Siaga 1

Ketegangan bermula ketika armada yang membawa 450 relawan dari berbagai negara tersebut diadang di tengah laut. Berdasarkan laporan berkala dari Media Crisis Center Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) di Jakarta, komunikasi terputus setelah militer melakukan penyergapan bersenjata.

Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, mengecam keras operasi militer sepihak yang dilakukan oleh angkatan laut asing tersebut di wilayah perairan internasional.

“Ini menjadi ancaman nyata dari militer Zionis yang secara terang-terangan memotong laju kapal berlayar. Di sini, kami mulai mendapat kabar bahwa militer Zionis mulai mencegat kapal-kapal yang berlayar menembus blokade Gaza tersebut,” ujar Maimon Herawati kepada Tribunnews.com, Senin (18/5/2026).

“Sekitar jam dua siang tadi, Kapal Tabariyya (Cactus) mendapat interception [dicegat]. Ini dapat dikatakan kondisi Siaga 1 bagi para relawan Global Sumud Flotilla,” tambahnya.

Tiga Jurnalis Media Nasional Ikut Ditawan

GPCI mengonfirmasi terdapat puluhan delegasi domestik yang ikut berlayar dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza tersebut.

Rombongan terdiri dari gabungan lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, SMART 171, serta tiga jurnalis media nasional yang melekat melakukan peliputan dari Harian Republika, iNews, dan Tempo.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Irvan Nugraha, menyatakan bahwa aksi pembajakan massal bersenjata ini berpotensi mengancam keselamatan seluruh relawan sipil internasional yang tersisa di lautan.

"Ini tindakan yang melanggar hukum humaniter internasional. Mengingat setelah cegatan terhadap Kapal Tabariyya, tentu juga akan mengancam kapal-kapal lain yang berlayar untuk misi kemanusiaan tersebut," papar Irvan Nugraha.

Jalur Koordinasi Darurat Tiga Negara Diaktifkan

Menyikapi krisis luar negeri yang genting ini, GPCI langsung mengaktifkan langkah-langkah kontinjensi dan pengamanan darurat bagi para Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di perairan internasional tersebut.

Anggota Dewan Pengarah GPCI, Ahmad Juwaini, menyatakan pihaknya kini tengah bergerak cepat membangun komunikasi dengan jaringan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di tiga negara yang menjadi jalur diplomasi utama, yakni Yordania, Mesir, dan Turki.

“GPCI meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri [Kemlu RI] untuk mengupayakan jaminan perlindungan, keselamatan, serta langkah diplomatik maksimal bagi delegasi Indonesia apabila mengalami penyergapan maupun penahanan secara paksa saat menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Karena dunia internasional wajib bertindak untuk menghentikan kejahatan perang yang dilakukan Israel,” tegas Ahmad Juwaini.

Sebagai langkah penanganan lanjutan di dalam negeri, Command Center Lead GPCI, Jajang Nurjaman, memastikan bahwa posko pusat di Jakarta juga memberikan pendampingan menyeluruh bagi keluarga delegasi di tanah air, termasuk layanan informasi berkala serta bantuan psikologis.

“Keselamatan delegasi Indonesia menjadi prioritas utama. Karena itu, kami telah menyiapkan jalur koordinasi darurat dan pendampingan menyeluruh apabila terjadi eskalasi situasi di lapangan,” pungkas Jajang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.