TRIBUNPALU.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan rencana serangan militer besar-besaran ke wilayah Iran yang semula dijadwalkan bakal diluncurkan besok.
Penundaan sementara tersebut diambil dengan satu syarat, yaitu perundingan damai harus berjalan mulus dan Teheran meninggalkan sepenuhnya kemampuan nuklir mereka.
Melalui unggahan di akun media sosial Truth Social miliknya, Trump menegaskan bahwa opsi militer dari Washington hingga saat ini masih berada di atas meja.
Ia bahkan menyebutkan bahwa komando serangan dalam skala besar terhadap target di Iran sudah siap diluncurkan hanya dalam hitungan detik.
“Negosiasi serius sedang berlangsung,” tulis Trump, sembari menambahkan bahwa kesepakatan yang diharapkan akan “sangat dapat diterima” oleh Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, dan dunia, dengan poin utama tanpa senjata nuklir untuk Iran.
Trump menambahkan bahwa kesepakatan yang diharapkan nantinya harus dapat diterima oleh pihak Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, dan dunia.
Baca juga: Kabupaten Poso Gelar FLS3N & O2SN, Optimalkan Potensi Siswa Daerah
Poin paling utama yang menjadi harga mati bagi pihak Gedung Putih dalam kesepakatan tersebut adalah tidak adanya ruang bagi kepemilikan senjata nuklir untuk Iran.
Penundaan agresi militer ini diakui Trump terjadi setelah dirinya menerima permintaan langsung dari para pemimpin di kawasan regional Timur Tengah.
Beberapa pemimpin yang berkomunikasi dengan Trump di antaranya adalah Emir Qatar, Putra Mahkota Arab Saudi, hingga Presiden Uni Emirat Arab (UEA).
Namun, Trump tetap melontarkan peringatan keras dan menegaskan dirinya tidak akan mundur untuk meratakan rezim Teheran jika kesepakatan itu kembali menemui jalan buntu.
"Untuk Iran, waktu terus berjalan. Mereka harus bergerak cepat, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka," tegas Trump.
Baca juga: Rupiah Ambruk ke Level Tertinggi Sejarah, Sentuh Rp17.505 per Dolar AS
Tuntutan sepihak dari Washington ditolak keras oleh Iran, termasuk penolakan usulan penghentian pengayaan uranium selama lima tahun yang diminta naik menjadi minimal 20 tahun.
Dampak dari memuncaknya ketegangan kedua negara ini juga sempat berimbas pada penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan sikap kerasnya stok uranium diperkaya Iran harus “disingkirkan” sebelum konflik bisa dinyatakan usai.(*)
Sumber: Tribunnews
Update informasi TribunPalu lainnya di Facebook, Instagram, Tiktok dan WA Channel