Mahasiswa Mimika Tuntut Keadilan bagi Nalince yang Tertembak Saat Operasi Militer
Marius Frisson Yewun May 19, 2026 01:29 PM

 

Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Mimika di Kota Studi Jayapura, Provinsi Papua menggelar mimbar bebas dan meminta pihak terkait segera mengusut tuntas pelaku penembakan yang menewaskan Nalince Wamang (17) di Tembagapura pada Mei 2026.

Mimbar bebas berlangsung di halaman asrama mahasiswa Mimika di Perumnas II, Kota Jayapura, Papua, Selasa, (19/5/2026).

Mahasiswa membawa atribut kampanye bertuliskan 'Hentikan Penembakan Warga Sipil di Tembagapura, Stop Bunuh Kami, Kami Butuh Hidup di Tanah Kami, Segera Usut Tuntas Pelaku Penembakan Terhadap Warga Sipil di Tembagapura, Kenapa Tentara Bunuh Rakyat, Hentikan Pendropan Militer'.

Baca juga: Ledakan Diduga Bom di Halaman Gereja Intan Jaya: 4 Warga Terluka, TNI Bantah Terlibat

Kristina Doo, Mahasiswa Universitas Cendrawasih (Uncen), dalam orasinya mengutuk peristiwa yang terjadi di Tembagapura yang telah menewaskan Nalince Waman dan warga sipil yang mengalami luka-luka akibat operasi militer.

Mereka menyebut Nalinca Waman merupakan seorang pelajar yang baru saja menamatkan sekolah di SMK Petra Kabupaten Mimika. Ia bersama keluarganya ke lokasi pendulangan emas tradisional di Mile 69-71 untuk mengais emas guna melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Namun, operasi militer yang di lakukan aparat TNI dari Satgas Rajawali, Nalince diduga terkena tembakan hingga meninggal dunia.

"Nalince ini saudara kami yang ikut orangtuanya menambang emas untuk biaya sekolahnya. Tetapi aparat melihat masyarakat sipil seperti kriminal, OPM dan teroris langsung saja main tembak," ujar Kristina Doo.

Baca juga: Alasan Sutradara Pilih Judul Pesta Babi Ketimbang 1.800 Salib Merah di Film Kontroversi

Menurutnya, masyarakat sipil terus menjadi korban operasi militer. Tidak hanya di Temabagpura, tetapi terjadi juga di Puncak Jaya, Ilaga, Intan Jaya, Deiyai dan Dogiyai.

Sementara, Agustinus Tekege, mendesak agar setiap orang Papua harus bersatu untuk menyuarakan situasi konflik tanpa membeda-bedakan suku dan marga.

"Jakarta ingin agar konflik terjadi, orang Papua berhadap-hadapan dengan orang Papua. Itu sistem yang sedang dimainkan. Jadi kita harus bersatu turun ke jalan untuk menyuarakan situasi konflik di Papua," ujarnya.

Baca juga: Kodaeral Jayapura Gagalkan Penyelundupan Ganja dan Barang Ilegal Rp1,59 Miliar

Agustinus juga menanyakan sejauh mana kinerja Natalius Pigai sebagai Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI dalam mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua.

"Dimana Natalius Pigai, saat terjadi pelanggaran HAM di Papua. Kalau hari ini tidak ada penyelesaian HAM, kita berharap ke siapa lagi?" tanyanya dalam orasi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.