Pada Mei 2016 lalu kita digegerkan dengan penemuan mayat seorang wanita dengan pacul ada dalam tubuhnya. Motifnya asmara dan sakit hati.
Diolah dari laporan di Tabloid NOVA edisi 23-29 Mei 2016
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Penemuan sesosok mayat perempuan muda dalam kondisi mengenaskan dan pacul tertancap pada tubuhnya sempat menggegerkan publik. Ternyata, ketiga pelaku sama-sama sakit hati terhadap korban.
Ibu mana yang tak hancur hatinya melihat buah hati yang dia lahirkan dan besarkan dengan sepenuh jiwa harus meregang nyawa dengan cara yang tak biasa. Begitulah yang dirasakan oleh Mahfudoh, ibu kandung Eno Farihah (18).
Eno ditemukan tewas dalam keadaan babak belur dan tanpa busana di dalam mess karyawati PT Polyta Global Mandiri, di Jalan Raya Perancis Pergudangan 8 Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Jumat, 13 Mei 2016. Selain tewas dengan kondisi bersimbah darah, sebuah cangkul juga tertancap di kemaluannya sedalam kurang lebih 60 sentimeter.
Kapolsektro Teluk Naga ketika itu, Kompol Supriyanto, mengatakan, jenazah Eno pertama kali ditemukan sekitar pukul 09.00. “Korban hari itu tidak masuk kerja. Lalu, tiga temannya, Fitroh, Eroh, dan Novi, menyambangi kamar mess Enno. Rupanya mess tersebut dalam keadaan tergembok dari luar,” kata Supriyanto.
Karena tidak ada kunci duplikat, tiga kawan korban pun memanggil salah seorang karyawan pria bernama Yaya untuk mendobrak pintu. “Saat pintu didobrak, mereka mendapati Eno terkapar tak bernyawa. Tubuh korban ditutupi tumpukan bantal dan baju korban. Sebuah gagang cangkul juga didapati masuk di kemaluan korban, “ kata Supriyanto.
Sempat Telepon
Mahfudoh mengaku tak punya firasat khusus bakal kehilangan anak keempat dari tujuh bersaudara itu. Pertanda yang dia dapat hanya berupa suara burung hantu dan tingkah laku Eno yang berbeda. Suara burung hantu terdengar di sekitar kediaman Eno di Kampung Bangkir RT/RW 12/003, Desa Pengandikan, Lebakwangi, Kabupaten Serang, beberapa hari sebelum ditemukan tewas.
“Ada suara burung hantu di sebelah rumah. Sudah siang hari, tetapi masih bunyi saja,” tutur Mahfudoh kepada wartawan, dua hari setelah mayat Eno ditemukan.
Selain mendengar suara burung hantu, lanjutnya, sebelum pulang untuk terakhir kali pada Jumat, 6 Mei, Eno sempat menelepon. Dia mengatakan ingin membawa sesuatu untuk orang rumah. Menurut Mahfudoh, apa yang dilakukan oleh Eno ini berbeda. Tak seperti pada setiap dia mau pulang ke rumah.
“Dia tanya, ‘Ma, mau minta apa?’ Dia membawa susu, minyak, dan sabun. Ini tak seperti biasanya,” tambah Mahfudoh yang langsung menangis histeris saat melihat jenazah anaknya terbaring di kamar mayat RSUD Kabupaten Tangerang di hari di mana mayat putrinya ditemukan.
Mahfudoh datang ke kamar mayat RSUD Kabupaten Tangerang setelah dihubungi polisi perihal kematian tragis Eno. “Saya dikasih tahu kalau anak saya meninggal. Saya kirain, mah, kecelakaan. Enggak tahunya malah dibunuh. Mau kiamat rasanya,” kata Mahfudoh berderai air mata.
Mahfudoh menuturkan, Eno baru beberapa bulan lulus SMK dan juga baru bekerja selama setengah tahun di PT Polyta Global Mandiri. “Lulus SMK dia langsung kerja. Dia baru enam bulan di sini. Seminggu sekali biasanya balik ke rumah. Terakhir pulang pas libur panjang kemarin, tanggal 5 sampai 7 Mei, “ kata Mahfudoh.
Meskipun sudah dewasa, aku Mahfudoh, namun anak keempat dari tujuh bersaudara itu tertutup mengenai kisah asmara dan tak pernah bercerita. “Setahu, saya dia tak punya cowok,” kata Mahfudoh.
Dia merasa heran anaknya belum punya pacar. Sebab, teman wanita seusia Eno biasanya sudah mempunyai kekasih bahkan sampai dibawa pulang ke Serang, Banten. “Dia pulang tak pernah membawa cowok. Temannya pulang membawa cowok,” kata dia.

Masih Hidup
Polisi akhirnya berhasil menangkap dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan disertai pemerkosaan terhadap Eno, masing-masing berinisial Rahmat Alim/RAl (15), Rahmad Arifin/RAr (24), dan Imam Hapriyadi/IH (24). Dari hasil pemeriksaan polisi terhadap tiga tersangka, pembunuhan sadis terhadap Eno berlatar belakang asmara, salah satunya dipicu akibat korban menolak ajakan bersetubuh salah satu pelaku.
Kasat Reskrim Polrestro Tangerang saat itu, AKBP Sutarmo, Senin , 16 Mei 2016, mengatakan, peristiwa tersebut diawali pada Kamis, 12 Mei, menjelang tengah malam.
“Kala itu, korban dan pelaku Rahmat Arifin bercumbu di dalam kamar kos korban,” kata Sutarmo. Rahmat lalu mengajak Eno berhubungan intim, namun ditolak.
Kecewa ajakannya ditolak, Rahmat lalu pergi dari kamar Eno. Di luar kamar, dia bertemu dua pemuda, yang tak lain adalah Rahmad Arifin dan Imam. Entah dialog apa yang terjadi antara mereka, ketiganya lalu masuk ke kamar Eno, dan mulai menyiksa Eno.
“Tersangka IH langsung membekap wajah Eno dengan bantal dan menyuruh RAl mencari pisau. Tersangka RAr memegangi kaki korban agar tidak bisa melawan,” katanya.
Karena tidak ada pisau, RAl pun mengambil cangkul, lalu menganiaya Eno dengan cangkul tersebut. Belum puas menganiaya Eno, ketiganya pun akhirnya memerkosa Eno, dan memasukkan gagang cangkul ke tubuh Eno sampai tewas.
Ketika para tersangka berusaha membunuh dengan menancapkan pacul ke bagian tubuh korban, saat itu, Eno masih dalam kondisi hidup. “Korban dibekap pakai bantal sampai lemas. Setelah itu, tersangka memerkosa korban secara bergantian, baru membunuhnya dengan pacul,” kata Sutarmo.
Dari ketiga tersangka, Rahmat disebut sebagai pacar Eno dan masih duduk di bangku SMP.
Menyukai Korban
Penyidik Polsek Teluk Naga, Polda Metro Jaya. dan Mabes Polri akhirnya berhasil mengungkap latar belakang pembunuhan sadis tersebut, yakni asmara. Kabid Humas Polda Metro Jaya saat itu Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan, ketiga pelaku memiliki motif berbeda dalam melakukan pembunuhan sadis terhadap perempuan asal Serang, Banten, tersebut.
“RAr sering dikatai jelek atau pahit oleh korban, RAl karena ajakan bersetubuhnya ditolak korban, sementara IH karena berkali-kali ditolak cintanya oleh korban,” ujar Awi.
Menurut Dirkrimum Polda Metro Jaya saat itu, Kombes Pol Krishna Murti, ketiga pelaku menyukai korban. Ketiganya mendekati korban namun ditolak. “Berdasarkan bukti keterangan, ketiganya berusaha melakukan pendekatan pada korban, tapi korban tidak mau,” katanya.
“Untuk pelaku RAl yang masih di bawah umur akan dimasukkan atau dilapis undang-undang perlindungan anak, biar nanti hakim yang menentukan,” tambah Krishna.
RAr, yang juga teman satu pabrik Eno, merupakan orang pertama yang diciduk polisi, usai jenazah Eno ditemukan di kamarnya di mess karyawati. RAr sendiri tinggal di mess pria yang bersebelahan dengan mess wanita yang ditinggali Eno.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, antara mess wanita dan pria terpisah dengan tiga kamar mandi berderet. Kedua mess memiliki pintu akses terpisah yang hanya bisa dibuka dari dalam. “Hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi, akhirnya pada Sabtu, 14 Mei, sekitar pukul 02.00 WIB, petugas berhasil melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap RAr di kamar mess-nya yang tidak jauh dari kamar korban,” kata Krishna Murti.
Berdasarkan pengakuan kepada petugas, RAr, yang dikenal sebagai playboy, nekat membunuh Eno yang merupakan teman satu pabriknya lantaran sakit hati sering disebut jelek. RAr sendiri statusnya sudah menikah di kampungnya, namun mengaku bujang. Bahkan dia memiliki pacar yang tak lain teman satu mess Eno.
Meski telah memiliki pacar yang satu pabrik dengannya, namun RAr diam-diam menyukai Eno. Nahas, pendekatan yang dilakukannya ditolak oleh Eno. “Sama dengan lainnya, dia juga menyukai korban,” katanya. RAr sendiri merupakan pelaku yang melakukan tindakan biadab. Selain menyetubuhi korban, RAr jugalah yang berperan memasukkan gagang pacul ke dalam tubuh korban.”
Kepala Sub Direktorat Reserse Mobile (Resmob) Dit Reskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Eko Hadi Santoso, mengatakan terdapat unsur perencanaan dalam pembunuhan tersebut. Seorang tersangka, IH mengaku telah menyiapkan garpu untuk membunuh Eno. “Dia telah mempersiapkan garpu untuk melukai. Ada luka lecet di pipi korban,” kata Eko.
Setelah Eno tiada, Mahfudoh hanya bisa mengutuk keras pembunuh putrinya tersebut. “Kejam banget, ya Allah. Tega banget berbuat seperti ini ke anak saya,” ucapnya sambil menangis.
Pembunuh Berkepribadian Ganda?
Salah seorang tersangka pelaku pembunuhan sadis terhadap Eno adalah RAl yang masih berusia 15 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Saat dihadirkan di lokasi kejadian dalam rekonstruksi Selasa, 18 Mei 2016, penampilan RAl begitu kalem. Langkahnya tegar, sementara sorot matanya tetap tajam.
Warga pun geram, selain sempat memukul kepalanya, juga melempari dengan batu. Dia berbeda dengan dua tersangka lain yang terlihat pucat dan sebentar-sebentar menyeka kelopak matanya.
Teddy Wahyudi, yang mengaku sebagai pengacara para tersangka, mengaku ada yang janggal dengan kepribadian RAl. Dia menduga anak di bawah umur itu memiliki kepribadian ganda. “Saya kurang yakin kalau alasan yang bersangkutan membunuh Eno secara keji hanya karena alasan korban menolak ketika diajak bercinta. Kalau orang membunuh, untuk anak seumuran dia, itu masih harus didalami,” kata dia.
Bahkan, kata Teddy, informasi yang diperoleh dari polisi, saat ditangkap pun RAl tidak menunjukkan kekagetan. Dia juga dalam kondisi tenang, bahkan sangat tenang. Jauh berbeda dengan dua tersangka lain yang syok ketika ditangkap polisi. Menurut seorang penyidik, saat menjalani pemeriksaan, RAl mampu menghadapi penyidik dan menjawab pertanyaan dengan tenang dan konsisten.
Beberapa kali diperiksa, jawabannya tidak berubah, meski pertanyaan dibolak-balik pun jawabannya tetap sama. “Padahal di antara para tersangka, RAl ini masih SMP dan umurnya baru 15 tahun tetapi situasinya sangat tenang banget,” jelasnya. Karena itu, Teddy menduga RAl punya kepribadian ganda. Karena itu, ketika itu, dia mengajukan pada polisi agar RAl diperiksa kejiwaannya.