TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Sopir bus Telaga Indah, Ape mengaku sudah mengantre dua jam lebih saat mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di SPBU 14.251.583 Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Selasa (19/5/2026).
Untuk diketahui, SPBU ini berlokasi sebelum Simpang Presiden atau Rumah Makan Lamun Ombak dari arah Masjid Raya Sumbar.
Lokasinya berada sebelah kiri, sedangkan antrean kendaraan terlihat hampir dimulai dari depan Transmall di Khatib Sulaiman.
Ape mengaku dari Kota Padang, hendak membawa penumpang ke Alahan Panjang, Kabupaten Solok.
Akan tetapi, aktivitasnya terhambat saat mengisi BBM solar. Meski begitu, antrean tetap dilakukan, agar bus yang ia bawa bisa berjalan ke tempat tujuan.
Baca juga: Respons Antrean BBM di SPBU, Mahyeldi Sebut Kuota dari Pusat di Bawah Kebutuhan
"Saya sudah antre dua jam lebih di sini, hanya untuk mengantre BBM solar," ucap Ape memberikan keterangan.
Kata dia, BBM solar sangat susah didapatkan di beberapa SPBU di Sumbar, rata-rata kendaraan harus mengantre panjang.
Antrean panjang BBM ini ia rasakan semenjak kenaikan BBM non-subsidi sepeti Dexlite dan Pertamina Dex.
"Sekarang ini, banyak kendaraan yang beralih ke solar, makanya antrean selalu panjang. solar juga susah sekarang, baik di Padang maupun saat mengisi di Alahan Panjang, Solok," sebutnya.
Tidak hanya kali ini, Ape pernah juga terjebak antrean panjang beberapa jam saat mengisi BBM solar.
Kata dia, kejadiannya sekitar seminggu lalu di SPBU Sutomo, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang.
"Sebelumnya pernah, saat mengisi solar di SPBU Sutomo, terjebak dua jam lebih juga," tuturnya.
Baca juga: Antrean Solar Mengular di SPBU Khatib Sulaiman, Didominasi Truk dan Bus hingga Makan Badan Jalan
Untuk itu, ia berharap pemerintah Provinsi Sumbar bisa menanggapi keluhan para sopir, termasuk Ape yang membawa penumpang antar kota.
Selain itu, ia berharap kepada pihak Pertamina dapat menyediakan stok kepada para sopir dan tidak mengantre panjang lagi ke depannya.
"Semoga solar ini dilancarkan bagi sopir, karena antrenya selalu panjang, dan stok selalu tersedia hendaknya. Karena aktivitas kita terhambat karena antre panjang ini," tambahnya.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, mengaku telah mengirim surat permintaan penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk Sumbar menyusul antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
Hal itu disampaikan Mahyeldi saat diwawancarai di rumah dinas Wakil Gubernur Sumbar, Senin (18/5/2026) malam, usai menjenguk Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy.
“Malam tadi saya sudah buat surat untuk tambahan kuota BBM di Sumatera Barat,” kata Mahyeldi kepada TribunPadang.com.
Menurut Mahyeldi, antrean BBM yang terjadi saat ini tidak lepas dari kebijakan penetapan kuota oleh pemerintah pusat yang dinilai tidak mempertimbangkan kondisi daerah.
“Barangkali keputusan pusat dalam menetapkan kuota tanpa membicarakan dengan kita. Waktu itu dari BPMigas, dan itu sudah disampaikan juga sebelumnya,” ujarnya.
Baca juga: Antrean Solar Mengular di SPBU Khatib Sulaiman, Didominasi Truk dan Bus hingga Makan Badan Jalan
Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Sumbar sebenarnya sudah beberapa kali mengusulkan penambahan kuota BBM.
Namun, jumlah yang ditetapkan pemerintah pusat disebut masih berada di bawah kebutuhan daerah.
“Kita sudah usulkan dan rata-rata apa yang kita usulkan kemudian diterapkan tanpa membicarakan dengan kita, dengan ditetapkan sendiri. Inilah akibatnya,” katanya.
Mahyeldi bahkan menilai pemerintah pusat kurang melibatkan daerah dalam pengambilan keputusan terkait kuota BBM.
“Jadi memang pusat itu kadang-kadang tidak percaya kepada daerah. Kemudian tidak pernah juga mengomunikasikan dengan daerah dan langsung menetapkan sesuatu itu tanpa komunikasi, tanpa mengevaluasi,” ujarnya.
Menurut Mahyeldi, kebutuhan BBM di Sumbar berbeda dibanding daerah lain karena tingginya kunjungan wisatawan yang ikut meningkatkan konsumsi BBM di wilayah tersebut.
Baca juga: Mahyeldi Minta Lokasi Tambang Emas Ilegal Sijunjung Ditutup Usai Longsor Tewaskan 9 Orang
“Kita sudah berpengalaman setahun bahwasannya Sumatera Barat ini karena memang daerah wisata, maka yang mengonsumsi BBM di Sumatera Barat ini bukan orang Sumatera Barat saja, tapi juga orang-orang yang datang ke Sumatera Barat untuk berwisata,” jelasnya.
Ia mengaku kondisi tersebut sudah disampaikan kepada BPMigas dalam usulan penambahan kuota BBM. Namun kuota yang diberikan masih di bawah kebutuhan riil di lapangan.
“Nah cuma BPMigas menetapkan masih di bawah itu. Bahkan itu di bawah 80 persen kebutuhannya,” katanya.
Meski demikian, Mahyeldi tidak menampik adanya dugaan penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan yang turut memengaruhi kondisi antrean di SPBU.
“Kalau di lapangan mungkin banyak kasusnya. Dulu dilakukan oleh Kapolda lama Pak Suharyono ketika jadi Kapolda, operasi di SPBU karena mengawasi mobil-mobil modifikasi,” ujarnya.
Menurutnya, kendaraan modifikasi yang membeli BBM subsidi dalam jumlah besar menjadi salah satu penyebab tingginya konsumsi BBM di Sumbar.
“Dan sehingga itulah yang mengonsumsi kelebihan. Namun kemudian itu memang kita sudah minta juga Pertamina supaya bekerja sama dengan kepolisian untuk melakukan pengawasan di SPBU,” katanya.
Mahyeldi berharap Pertamina dan kepolisian dapat memperkuat pengawasan agar penyalahgunaan BBM subsidi dapat ditekan.
Baca juga: Mahyeldi Minta Lokasi Tambang Emas Ilegal Sijunjung Ditutup Usai Longsor Tewaskan 9 Orang
“Makanya Pertamina kita harapkan berkolaborasi dengan kepolisian agar memantau dan mengawasi. Agar ketahuan kalau ada penyalahgunaan BBM,” ujarnya.
Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memastikan ketersediaan stok Biosolar di wilayah Padang dalam kondisi aman dan tetap tersedia di SPBU.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan antrean kendaraan di SPBU dipengaruhi tingginya kebutuhan pengisian BBM secara bersamaan oleh kendaraan logistik dan angkutan barang.
“Namun demikian, kondisi tersebut tidak mengindikasikan ketiadaan stok BBM di SPBU,” katanya.(*)