Kisah Rio dan Si Bule Dirawat dengan Jamu Tradisional, Terpilih Jadi Sapi Kurban Presiden
Muhammad Ridho May 19, 2026 08:29 PM

"Dari kandang sederhana di Seberida, Indragiri Hulu, ketelatenan Rio merawat Si Bule sejak usia satu tahun mengantarkan sapi berbobot 1 ton lebih itu menjadi kebanggaan Riau sekaligus menjadi hewan kurban bantuan Presiden RI mewakili Provinsi Riau pada Idul Adha Tahun Ini."

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKABARU - Sorot mata Franto Kukuh Sulahirio tak lepas dari tumpukan dokumen di atas meja itu. Duduk mengenakan kemeja batik hitam bermotif emas, peternak asal Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu tersebut tampak serius mengikuti proses verifikasi bersama tim Sekretariat Kepresidenan di sebuah ruang Melati Lantai 2 Kantor Gubernur Riau, Selasa (19/5/2026).

Di sampingnya, sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian dan Pemerintah Provinsi Riau ikut mendampingi proses administrasi dan pemeriksaan dokumen. 

Suasana berlangsung formal namun hangat. Pria muda yang akrab disapa Rio sesekali mengangguk mendengarkan penjelasan petugas, sementara tangannya menggenggam stempel kecil di atas meja.

Sosok Rio kini menjadi sorotan setelah sapi peliharaannya bernama Si Bule terpilih sebagai hewan kurban bantuan Presiden Republik Indonesia untuk Hari Raya Iduladha 2026 mewakili Provinsi Riau.

Si Bule merupakan sapi jantan jenis Simental dengan bobot fantastis mencapai 1 ton 13 kilogram. Berat itu menjadikannya sapi kurban terbesar di Provinsi Riau tahun ini, sekaligus memecahkan rekor tahun sebelumnya yang belum menyentuh angka satu ton.

Namun di balik tubuh raksasa sapi itu, ada cerita panjang tentang ketekunan, kesabaran, dan kedekatan emosional seorang peternak muda dengan hewan peliharaannya.

Rio mulai merawat Si Bule sejak sapi itu masih berusia sekitar satu tahun. Saat itu ukurannya belum terlalu besar. Selama tiga tahun terakhir, ia merawatnya dengan penuh perhatian hingga tumbuh menjadi sapi jumbo yang kini dipercaya mewakili Provinsi Riau dalam program bantuan Presiden.

Baca juga: Penuhi Syarat Administrasi, Peternak dari 12 Daerah di Riau Siap Terima Dana Sapi Kurban Presiden

“Rawat sapi besar itu tidak semudah yang dibayangkan. Perawatannya beda dengan sapi lokal biasa. Dia tidak tahan panas dan butuh nutrisi tinggi serta jadwal makan yang teratur,” ujar Rio.

Cuaca panas Riau menjadi tantangan tersendiri bagi Si Bule. Agar kondisinya tetap sehat, Rio menerapkan perawatan khusus setiap hari. Sapi itu dimandikan dua kali sehari, pagi dan sore, untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya.

Tak hanya itu, kipas angin juga dipasang di sekitar kandang agar Si Bule tetap nyaman.

“Kebersihan itu yang paling utama. Selain dimandikan, kami juga pasang kipas supaya dia nyaman. Kalau sapinya nyaman, dia sehat dan nutrisi yang diberikan bisa terserap dengan baik,” katanya.

Perhatian Rio terhadap Si Bule terlihat dari detail kecil dalam perawatan sehari-hari. Untuk urusan pakan misalnya, ia tak hanya mengandalkan rumput. Berbagai bahan bernutrisi diberikan, mulai dari limbah tahu, limbah ubi, hingga konsentrat khusus sapi.

Di waktu tertentu, Si Bule juga rutin dijemur dua hingga tiga kali seminggu agar otot-ototnya tetap lemas sekaligus membantu penyerapan vitamin D dari sinar matahari.

Perawatan kesehatannya pun tak pernah luput. Obat cacing diberikan setiap tiga bulan sekali. Vitamin penambah nafsu makan juga rutin disuntikkan agar kondisi tubuh sapi tetap prima.

Menariknya, Rio juga meracik sendiri jamu tradisional untuk Si Bule. Racikan itu terdiri dari temulawak, temu giring, kunyit, dan tetes tebu.

“Kami kasih dua minggu sekali supaya makannya stabil dan kondisi tubuhnya tetap bagus,” jelasnya.

Bagi Rio, Si Bule bukan sekadar hewan ternak bernilai tinggi. Ada ikatan emosional yang tumbuh selama bertahun-tahun merawat sapi tersebut sejak kecil.

Karena itu, meski banyak tawaran datang, ia mengaku berat untuk melepasnya.

“Sudah ada chemistry. Jadi memang sayang untuk dijual,” katanya sambil tersenyum.

Namun di balik rasa berat itu, ada kebanggaan besar yang kini dirasakannya. Di usia 33 tahun, Rio tak menyangka sapi yang dirawatnya dengan tangan sendiri bisa terpilih menjadi hewan kurban bantuan Presiden.

“Di usia saya yang masih 33 tahun, saya bangga bisa merawat sapi sampai sebesar ini dan dipercaya mewakili Provinsi Riau untuk sapi bantuan dari pak presiden Prabowo, jadi ini menjadi kebanggaan tersendiri buat saya,” ungkapnya.

Kini kandang Si Bule dijaga lebih ketat dari biasanya. Untuk mencegah penularan penyakit, setiap pengunjung yang datang wajib disemprot disinfektan sebelum masuk area kandang.

Rio bercerita, awal mula Si Bule bisa terpilih bermula dari surat edaran pemerintah terkait pencarian sapi kurban berbobot jumbo untuk Presiden.

“Kami timbang dulu dan ternyata memenuhi syarat. Setelah itu langsung dicek kesehatannya oleh dinas,” ujarnya.

Dari kandang sederhana di Kecamatan Seberida, perjalanan Si Bule kini sampai ke tingkat nasional. Bagi Rio, pencapaian itu menjadi bukti bahwa dunia peternakan bukan pekerjaan yang bisa dianggap sebelah mata.

Ia berharap kisahnya bisa memotivasi anak muda lain untuk serius menekuni usaha peternakan.

“Kuncinya disiplin dan konsisten. Kalau dirawat dengan sepenuh hati, hasilnya juga akan baik,” katanya.

( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.