Hampir Sampai Gaza, Kapal Bantuan Kemanusiaan Zafiro Dicegat Israel, 2 Lagi WNI Disandera
Suci BangunDS May 19, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera militer Israel bertambah menjadi tujuh orang, per Selasa (19/5/2026) pukul 18.30 WIB.

Kabar terbaru itu disampaikan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Ahmad Juwaini, saat menjadi narasumber program dialog Sapa Indonesia Malam Kompas TV.

Kapal Zafiro merupakan bagian dari Global Sumud Flotilla (GSF) yang memiliki misi mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Kapal itu disebut menjadi target penyergapan terbaru, hanya sehari setelah penangkapan kapal relawan lain dalam misi yang sama.

"Beberapa menit yang lalu, lebih tepatnya sih 18.30, kapal Zafiro itu diintersep. Di Zafiro itu delegasi Indonesia, ya. Jadi sudah tujuh, jadi sekarang ini sudah tujuh orang ya yang disandera," kata Ahmad Juwaini.

Ahmad menjelaskan bahwa seluruh penumpang yang berada di dalam kapal Zafiro langsung dipindahkan secara paksa ke kapal militer milik Israel.

Di antara para penumpang tersebut, terdapat dua identitas WNI yang saat ini ikut ditahan.

"Dipindahkan penumpangnya semua ke kapal IOF. Ini yang di kapal Zafiro itu ada atas nama Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu. Ini warga negara Indonesia," jelasnya.

Sudah Dekat dengan Wilayah Gaza

Jika sebelumnya kapal yang membawa lima WNI dicegat pasukan Israel di Mediterania Timur, sekitar 250 mil laut dari Gaza di wilayah barat Siprus, kini Kapal Zafiro sudah lebih dekat dengan Gaza.

Berdasarkan kalkulasi, kapal hanya menyisakan waktu belasan jam lagi sebelum bisa berlabuh untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan di Gaza.

"Jaraknya sudah tinggal 117 nautical miles atau 14 jam berjalan lagi sampai di pantai Gaza sebenarnya," ungkap Ahmad.

Baca juga: Pesan Keluarga WNI yang Ditangkap Israel kepada Pemerintah Indonesia

Dengan jatuhnya kapal Zafiro ke tangan militer Israel, kini armada kemanusiaan asal Indonesia yang masih bertahan di laut lepas dan mencoba menembus blokade hanya tersisa satu kapal saja.

Dua relawan kemanusiaan Indonesia lainnya dilaporkan masih berada di kapal tersebut dan terus dipantau perkembangannya.

"Jadi sekarang hanya tinggal dua warga negara Indonesia, yaitu yang di Kasri Sadabad. Di kapal Kasri Sadabad itu atas nama Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo. Ini juga dua-duanya aktivis kemanusiaan," pungkas Ahmad.

Daftar WNI yang Sudah Disandera

Diketahui ada sembilan WNI yang ikut dalam misi kemanusiaan.

Dari sembilan, lima di antaranya diculik tentara Israel di perairan dekat Siprus, dan dua di perairan yang berjarak sekitar 14 jam dari Gaza.

  1. Jurnalis Republika, Bambang Noroyono (Abeng)
  2. Jurnalis TV Tempo, Andre Prasetyo
  3. Jurnalis Republika, Thoudy Badai
  4. Jurnalis iNews, Heru Rahendro
  5. Aktivis kemanusiaan, Andi Angga
  6. Aktivis kemanusiaan, Herman Budianto
  7. Aktivis kemanusiaan, Ronggo Wirasanu

Sementara itu, ada dua WNI yang kapalnya masih berlayar dengan kapal Kasri Sadabad per Senin malam ini. Keduanya yaitu:

  1. Asad Aras
  2. Hendro Prasetyo

Baca juga: FPN Desak Prabowo Bebaskan Jurnalis dan Aktivis Kemanusiaan Indonesia yang Ditangkap Israel

Kecaman Pemerintah Indonesia

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengecam keras tindakan militer Israel yang melakukan penangkapan terhadap WNI yang berada di armada sipil internasional, Global Sumud Flotilla, di wilayah perairan Siprus saat membawa bantuan untuk Gaza. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, mengungkapkan terdapat sembilan WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang bergabung dalam misi kemanusiaan tersebut, terdiri dari aktivis dan jurnalis.  

"Kementerian Luar Negeri mengutuk keras tindakan militer Israel yang mencegat sejumlah kapal dan menangkap relawan WNI yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan International Global Sumud Flotilla atau GSF 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," tegas Yvonne dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).

Merespons situasi darurat ini, Kemlu berkoordinasi lintas perwakilan di beberapa negara, termasuk KBRI Ankara, KBRI Kairo, KBRI Roma, KBRI Amman, dan KJRI Istanbul.

Langkah-langkah antisipasi juga dilakukan seperti penyiapan dokumen perjalanan darurat dan tim medis pun telah disiagakan.

Selain pergerakan mandiri, diplomasi Indonesia juga menggalang kekuatan internasional. Indonesia bersama sembilan negara lain, yakni Turki, Bangladesh, Brazil, Kolombia, Yordania, Libya, Maladewa, Pakistan, dan Spanyol, telah merilis pernyataan bersama untuk mengutuk aksi sepihak Israel tersebut.

Indonesia juga menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak Israel untuk segera membebaskan para relawan.

"Kementerian Luar Negeri mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," ungkapnya.

(Tribunnews.com/Gilang P)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.