Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, JEDDAH- Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf memastikan persiapan operasional puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) terus dimatangkan menjelang fase krusial pelaksanaan haji 2026.
Hal itu disampaikan Irfan Yusuf usai meninjau kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Jeddah bersama rombongan Amirul Hajj Indonesia, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, hingga saat ini sekitar 93 persen jemaah Indonesia telah tiba di Tanah Suci.
“Alhamdulillah tadi kami mendapatkan paparan bahwa sudah 93 persen jemaah hadir di Tanah Suci. Mudah-mudahan sisanya segera menyusul,” kata Irfan Yusuf di Jeddah.
Dalam peninjauan tersebut, Irfan Yusuf didampingi sejumlah tokoh dan pejabat, di antaranya Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar, Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i, Rektor UIN Maliki Malang Ilfi Nurdiana, penasehat presiden Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Indonesia Heri Hermansyah.
Baca juga: Dari Arafah ke Mina, Ini Tahapan Puncak Pelaksanaan Ibadah Haji
Ada juga Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Rakyat Aljazair 2016-2020 Safira Machrusah, Pengasuh Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto dan Surabaya Saifuddin Chalim Abdullah, dan tokoh intelektual Muhammadiyah Hasyimsyah.
Selain itu hadir langsung Sekjen Kemenhaj Teguh Dwi Nugroho, para Dirjen yakni Puji Raharjo, Ian Heryawan, Jaenal Effendi, dan Kepala Daker Bandara.
Gus Irfan, sapaan akrab Irfan Yusuf, menjelaskan, salah satu tugas utama Amirul Hajj adalah memastikan seluruh proses ibadah haji jemaah Indonesia berjalan lancar, aman, dan nyaman hingga seluruh jemaah kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat.
“Salah satu tugas Amirul Hajj adalah memastikan semua proses haji para jemaah kita berjalan dengan lancar, aman, nyaman, dan semuanya pulang dengan sehat serta menjadi haji yang mabrur,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Irfan Yusuf juga mengungkapkan kabar positif terkait kondisi kesehatan jemaah Indonesia di Arab Saudi.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, jumlah jemaah wafat tahun ini disebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada musim haji tahun lalu.
“Alhamdulillah laporan tadi jumlah yang meninggal jauh lebih kecil dibanding tahun lalu. Semoga ini perkembangan yang baik,” katanya.
Ia berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan hingga seluruh rangkaian ibadah selesai, terutama saat memasuki fase Armuzna yang dikenal sebagai puncak pelaksanaan ibadah haji.
Terkait persiapan Armuzna, Irfan Yusuf mengatakan pemerintah terus melakukan rapat evaluasi setiap malam guna mengantisipasi berbagai kendala teknis yang mungkin muncul di lapangan.
Menurutnya, sejumlah aspek penting seperti pergerakan jemaah, transportasi, hingga distribusi konsumsi selama Armuzna telah dibahas secara detail dan akan segera difinalisasi.
“Setiap malam kami meeting membahas kendala-kendala yang kemungkinan muncul. Besok akan difinalkan terkait proses Armuzna, termasuk pergerakan, transportasi, dan makanan selama Armuzna,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan Armuzna menjadi indikator utama suksesnya penyelenggaraan ibadah haji Indonesia tahun ini.
“Puncak haji itu Armuzna. Kalau Armuzna berjalan sesuai harapan, artinya 80 persen penyelenggaraan haji sudah sukses,” katanya.
Irfan Yusuf juga memberikan apresiasi kepada seluruh petugas haji Indonesia yang dinilainya bekerja keras di lapangan melayani jemaah.
Menurut dia, para petugas terus berjibaku memastikan pelayanan berjalan optimal sejak kedatangan jemaah hingga menjelang puncak haji.
Ia berharap semangat para petugas tetap terjaga hingga seluruh rangkaian ibadah selesai, terutama saat fase Armuzna yang menjadi tantangan terbesar dalam operasional haji.
Menjelang wukuf di Arafah, Irfan Yusuf juga mengingatkan jemaah Indonesia agar menjaga kondisi fisik dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas ibadah berlebihan.
Ia meminta jemaah mengukur kemampuan fisik masing-masing, termasuk tidak terlalu sering melaksanakan umrah sunnah yang dapat menguras stamina menjelang puncak haji.
“Jangan memaksakan hal-hal di luar kemampuan. Misalnya umrah sampai tiga atau empat kali, jangan sampai itu membuat risiko kesehatan tidak siap menghadapi wukuf di Arafah,” katanya.
Selain itu, ia meminta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) untuk tidak menggelar kegiatan city tour sebelum fase Arafah selesai demi menjaga kesehatan jemaah.
“Kepada KBIHU, tolong tidak ada city tour sebelum Arafah selesai. Jemaah harus dijaga kesehatannya,” tegasnya.(hasim arfah/mch 2026)