Gencatan Senjata Memanas, Hizbullah Gempur Israel 14 Kali saat Korban Lebanon Tembus 3.020 Jiwa
Facundo Chrysnha Pradipha May 20, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Situasi di perbatasan Lebanon-Israel kembali memanas meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat resmi diperpanjang selama 45 hari.

Kelompok Hizbullah mengklaim telah meluncurkan sedikitnya 14 serangan terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan pada Senin (18/5/2026), menggunakan drone peledak, roket, hingga artileri berat.

Serangan-serangan tersebut menargetkan konsentrasi tentara Israel dan kendaraan militer di sejumlah wilayah perbatasan Lebanon selatan.

Di saat bersamaan, serangan udara Israel terus menggempur berbagai wilayah Lebanon dan menewaskan sedikitnya tujuh orang dalam sehari.

Al Jazeera melaporkan, eskalasi terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah pejabat Lebanon dan Israel menggelar pembicaraan di Washington DC yang menghasilkan kesepakatan memperpanjang gencatan senjata hingga 45 hari lagi.

Namun di lapangan, situasi justru semakin memburuk.

Baca juga: ICC Bergerak, Menkeu Israel Terancam Ditangkap atas Dugaan Apartheid di Tepi Barat

Korban Tewas Tembus 3.020 Jiwa

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak konflik pecah pada 2 Maret kini mencapai sedikitnya 3.020 orang.

Sebanyak 9.273 lainnya dilaporkan terluka.

Salah satu korban terbaru adalah Wael Abdel Halim, tokoh penting dalam kelompok Jihad Islam Palestina, yang tewas bersama putrinya yang berusia 17 tahun, Rama, setelah serangan udara Israel menghantam sebuah apartemen di kota Douris, distrik Baalbek, Lebanon timur.

Puluhan pelayat terlihat memadati kamp pengungsi Jalil di pinggiran Baalbek saat prosesi pemakaman berlangsung.

Selain Baalbek, serangan Israel juga dilaporkan terjadi di Hanaway, Dibal, Deir Ammar, Deir Amess, Meirka hingga Harouf di Lebanon selatan.

BBC melaporkan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS masih memberi ruang bagi Israel untuk melakukan operasi militer yang diklaim menargetkan aktivitas Hizbullah .

Hizbullah Balas Serangan Israel

Hizbullah menyatakan pihaknya tetap aktif melawan operasi militer Israel di Lebanon selatan.

Kelompok itu mengklaim berhasil menyerang buldoser militer Israel menggunakan drone di dekat Deir Siryan.

Selain itu, Hizbullah juga mengaku menembakkan rudal ke arah konsentrasi tentara dan kendaraan militer Israel di Rashaf.

Sementara itu, militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 30 target Hizbullah dalam 24 jam terakhir.

Times of Israel melaporkan target-target tersebut mencakup gudang senjata, pos pengawasan, dan bangunan yang digunakan Hizbullah untuk mengoordinasikan serangan.

Militer Israel juga menyebut beberapa pejuang Hizbullah tewas saat sedang mempersiapkan “rencana teror” terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan.

Gelombang Pengungsian Massal

Baca juga: FPN Desak Prabowo Bebaskan Jurnalis dan Aktivis Kemanusiaan Indonesia yang Ditangkap Israel

Di tengah pertempuran yang terus meluas, warga sipil Lebanon kembali menghadapi ancaman pengungsian besar-besaran.

Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru bagi warga di Harouf, Borj El Chmali, dan Debaal sebelum melancarkan serangan lanjutan.

Al Jazeera melaporkan perintah evakuasi semacam ini kini semakin sering terjadi dan dinilai menyerupai pengusiran paksa terhadap warga sipil.

Koresponden Al Jazeera di Tyre, Obaida Hitto, mengatakan intensitas pengeboman Israel justru meningkat setelah gencatan senjata diperpanjang.

“Semua ini telah mengakibatkan krisis kemanusiaan besar-besaran dengan lebih dari satu juta orang mengungsi,” ujarnya.

Menurut Dewan Pengungsi Denmark, lebih dari 1,2 juta warga Lebanon telah meninggalkan rumah mereka sejak konflik meningkat antara Maret hingga April 2026.

Negosiasi Masih Buntu

Upaya diplomasi sebenarnya terus berjalan.

Negosiasi terbaru antara Lebanon dan Israel menjadi putaran ketiga pembicaraan yang dimediasi AS sejak konflik pecah.

Pembicaraan lanjutan dijadwalkan berlangsung pada awal Juni di Washington DC.

Namun hingga kini, perundingan belum mampu menghentikan siklus serangan balasan di lapangan.

Reuters melaporkan pasukan darat Israel masih mempertahankan sejumlah wilayah sejauh sekitar 10 kilometer dari perbatasan Lebanon yang direbut selama konflik berlangsung.

Baca juga: Jurnalis yang Ditangkap Israel dalam Misi ke Gaza Telah Dibekali Pelatihan Liputan Konflik

Di sisi lain, Hizbullah secara terbuka tetap menolak normalisasi maupun negosiasi langsung dengan Israel.

Akibatnya, gencatan senjata yang seharusnya menjadi jalan menuju stabilitas justru berubah menjadi fase baru konflik berkepanjangan yang terus menelan korban sipil dan memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.