Profil LBH Muhammadiyah, Dampingi Ahmad Bahar Lapor Polisi Hadapi Polemik dengan GRIB Jaya
Facundo Chrysnha Pradipha May 20, 2026 02:35 AM

TRIBUNNEWS.COM – Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Publik Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LBH AP PP Muhammadiyah) ikut menjadi sorotan setelah turun mendampingi penulis dan pegiat media sosial Ahmad Bahar dalam polemik dengan organisasi masyarakat GRIB Jaya pimpinan Rosario de Marshall alias Hercules.

Pendampingan tersebut muncul setelah rumah Ahmad Bahar di kawasan Cimanggis, Depok, didatangi sejumlah anggota GRIB Jaya menyusul polemik konten video di media sosial yang dianggap menyinggung Hercules.

Tak hanya itu, Ahmad Bahar juga mengaku keberatan setelah putrinya dibawa ke markas DPP GRIB Jaya di Kedoya, Jakarta Barat, untuk dimintai klarifikasi terkait video tersebut.

Kasus itu kemudian menyeret LBH Muhammadiyah ke ruang publik setelah lembaga tersebut menyatakan siap memberikan pendampingan hukum kepada Ahmad Bahar dan keluarganya.

LBH AP PP Muhammadiyah merupakan lembaga resmi di bawah naungan organisasi Muhammadiyah yang bergerak di bidang bantuan hukum, advokasi publik, perlindungan hak warga negara, serta pendampingan masyarakat pencari keadilan.

Berdasarkan struktur resmi Muhammadiyah, lembaga ini berada langsung di bawah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan memiliki fungsi strategis dalam penguatan kesadaran hukum masyarakat.

Dalam situs resmi Muhammadiyah dijelaskan, LBH AP Muhammadiyah dibentuk sebagai bagian dari gerakan dakwah sosial dan pembelaan terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan akses hukum.

Lembaga tersebut tidak hanya menangani perkara litigasi atau pendampingan di pengadilan, tetapi juga melakukan advokasi kebijakan publik, edukasi hukum, riset,
pendampingan korban kekerasan, hingga perlindungan hak sipil masyarakat.

Ketua LBH AP PP Muhammadiyah saat ini dijabat Taufiq Nugroho.

Sementara bidang Riset dan Advokasi Kebijakan Publik dipimpin Gufroni, sosok yang belakangan aktif mendampingi Ahmad Bahar dalam polemik dengan GRIB Jaya.

Baca juga: Sosok Ahmad Bahar, Murka Anaknya Disandera GRIB Jaya: Penulis Buku Gibran The Next President

Dalam sejumlah kasus nasional, LBH Muhammadiyah dikenal cukup aktif menyuarakan isu demokrasi,  kebebasan sipil, perlindungan perempuan dan anak, sengketa agraria, kriminalisasi warga, hingga pengawasan terhadap aparat penegak hukum.

Muhammadiyah sendiri sejak lama memiliki jaringan bantuan hukum di berbagai daerah melalui kampus dan fakultas hukum di bawah amal usaha Muhammadiyah.

Dalam deklarasi pendirian LBH Muhammadiyah yang pernah digelar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, lembaga ini disebut dibentuk untuk memperkuat akses masyarakat terhadap keadilan dan meningkatkan kesadaran hukum publik.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Rakornas LBH AP Muhammadiyah 2025 di Yogyakarta juga sempat menekankan pentingnya advokat Muhammadiyah hadir menjaga keadilan dan perlindungan hukum masyarakat.

Menurut Haedar, penegakan hukum harus dijalankan secara objektif dan tidak boleh tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Dampingi Ahmad Bahar

Nama LBH Muhammadiyah kembali menjadi perhatian setelah mendampingi Ahmad Bahar yang mengaku mengalami intimidasi usai polemik dengan GRIB Jaya.

Ahmad Bahar sebelumnya dikenal sebagai penulis buku Gibran The Next President dan Rapot Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Polemik bermula dari konten video di media sosial yang disebut menyinggung Hercules. Situasi kemudian memanas setelah rumah Ahmad Bahar di Depok didatangi sejumlah anggota GRIB Jaya.

Ahmad Bahar mengaku baru mengetahui putrinya dibawa ke markas GRIB Jaya pada Senin (18/5/2026) malam.

Menurut pengakuannya, sang putri berada di markas GRIB Jaya selama beberapa jam untuk dimintai klarifikasi terkait video yang beredar.

“Lho, klarifikasi kok ke anak? Ini sebenarnya maunya saya, cuma karena saya tidak ada lalu anak yang dibawa. Itu menurut saya bentuk penyanderaan,” kata Ahmad Bahar di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026).

Sementara itu, Ahmad Bahar disebut tengah dalam perjalanan untuk menyerahkan buku kepada Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan.

Menurut Yenni, di rumah saat itu hanya ada anak-anak mereka.

Ia mengaku mengetahui kejadian tersebut dari laporan sang anak.

“Kemarin jam 14.00 WIB, di rumah cuma ada anak-anak saya, mereka nyari suami saya enggak ada,” kata Yenni, Senin (18/5/2026).

Yenni menyebut rombongan yang datang berjumlah belasan orang.

Mereka disebut terus mencari keberadaan Ahmad Bahar di dalam rumah.

Ia juga mengklaim rombongan tersebut sempat memaksa masuk dan menggeledah rumah.

Karena Ahmad Bahar tidak ditemukan, salah satu putri mereka yang berusia 33 tahun kemudian dibawa.

Yenni mengatakan anaknya dibawa agar Ahmad Bahar bersedia menemui Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules.

“Anak saya dipaksa ikut biar suami saya nemuin Hercules di markasnya,” ujar Yenni.

Ia menyebut putrinya berada dalam kondisi tertekan saat dibawa.

Bahkan, menurut dia, kejadian itu terjadi tepat di hari ulang tahun anaknya.

“Yang dicari Pak Ahmad, terus sampai anak saya dibawa itu untuk jadi sandera kalau Pak Ahmad belum nemuin mereka,” ucapnya.

Ketua RW setempat disebut ikut mendampingi putri Ahmad Bahar demi memastikan kondisinya aman.

Yenni menilai persoalan tersebut seharusnya diselesaikan lewat jalur hukum.

“Kalau kita negara hukum ya udah laporin aja Pak Ahmad kalau merasa tersinggung atau difitnah,” katanya.

Yenni menduga ada dua pemicu utama di balik kedatangan anggota GRIB Jaya ke rumah mereka.

Pertama terkait dugaan peretasan telepon seluler milik putrinya.

Menurut Yenni, nomor ponsel anaknya digunakan pihak tak dikenal untuk mengirim ancaman kepada Hercules.

“Tiga atau empat hari yang lalu, HP anak saya di-hack. Ternyata hacker-nya itu mengancam-ancam si Hercules pakai nomor anak saya,” ujarnya.

Yenni mengaku keluarga sudah menunjukkan bukti dugaan peretasan tersebut.

Namun, penjelasan itu disebut tidak diterima.

“Lah, mau nunjukin gimana lagi, kita ada bukti-bukti kalau HP kita di-hack,” katanya.

Selain itu, pemicu lainnya diduga berasal dari unggahan video TikTok Ahmad Bahar yang menyinggung Hercules.

Konten tersebut berkaitan dengan polemik antara Hercules dan Amien Rais.

“Kontennya sih emang rada nyerempet-nyerempet, ‘kamu tuh udah waktunya tumbang’ gitu ngomong ke Hercules,” ungkap Yenni.

Setelah berhasil menghubungi suaminya, Yenni meminta Ahmad Bahar segera menyelesaikan persoalan tersebut.

Selepas mendapatkan informasi itu, Ahmad Bahar kemudian mendatangi Polres Metro Depok didampingi LBH Muhammadiyah.

Menurut Yenni, polisi meminta agar putrinya diantar ke Mapolres Metro Depok.

“Disuruh dianterin ke Polres Depok. Jadi mereka yang suruh nganterin,” ujarnya.

Putri Ahmad Bahar akhirnya kembali ke rumah sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

Kedua pihak disebut telah membuat kesepakatan damai secara tertulis.

Meski demikian, Yenni tetap menyayangkan cara-cara yang dilakukan rombongan tersebut.

“Kenapa masih pakai aksi-aksi premanisme gitu. Bukan menggerebek model-model preman, itu kan udah nggak bisa dibenarkan di negara kita,” katanya.

GRIB Jaya Membantah

Sementara itu, GRIB Jaya membantah telah mengepung rumah penulis buku Ahmad Bahar di Cimanggis, Depok, Minggu (17/5/2026).

Kabid Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya, Marcel Gual, mengatakan kedatangan mereka untuk meminta klarifikasi konten video yang menyinggung Ketua Umum GRIB Jaya, Hercules.

"Narasi yang menyebutkan adanya 'pengepungan massa' dinilai sangat berlebihan dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan," ujar Marcel dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan. 

Marcel mengatakan kedatangan anggota GRIB Jaya juga mengingatkan Ahmad Bahar bahwa ruang publik harus diisi dengan fakta, bukan fitnah atau provokasi.

Untuk menjaga kondusivitas di lingkungan sekitar dan menghindari hal-hal anarkistis, anggota GRIB meminta Ahmad Bahar langsung datang ke Kantor DPP GRIB Jaya guna mengklarifikasi pernyataannya yang menyinggung Hercules.

"Sayangnya, Ahmad Bahar dinilai tidak ksatria dan mencoba lepas dari tanggung jawab. Alih-alih hadir secara jantan, ia justru melarikan diri, mematikan telepon genggamnya, dan hanya mengutus putrinya untuk datang ke kantor DPP," kata Marcel.

Sebelum ke rumah Ahmad Bahar, Tim Hukum DPP GRIB Jaya telah merampungkan berkas dan mengumpulkan bukti-bukti digital untuk melapor ke polisi. 

Hal ini dipicu aksi doxing yang dilakukan secara masif oleh sejumlah nomor asing melalui aplikasi WhatsApp.

Nomor-nomor gelap tersebut menyebarkan konten TikTok Ahmad Bahar yang ditujukan terhadap Hercules. 

Pesan-pesan tersebut sengaja dikirimkan secara berulang kepada orang-orang terdekat Hercules.

"Sebelum bergerak ke lokasi, Tim Hukum DPP GRIB Jaya telah merampungkan berkas dan mengumpulkan bukti-bukti digital untuk melaporkan Ahmad Bahar ke pihak kepolisian," ujar dia.​

Hingga kini polemik antara kedua pihak masih menjadi perhatian publik dan belum sepenuhnya selesai.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.