BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN - Hampir setiap pagi saat cuaca cerah, Kamarudin, warga Desa Pulantan Kecamatan Awayan Kabupaten Balangan, menyadap karet di kebunnya di RT 1.
Saat siangnya, usai menyadap, Kamarudin membawa getah hasil sadapan tiga hari sebelumnya untuk dijual kepada pengepul yang ada di desa. Lokasi pengepul ia lewati setiap hari sehingga memudahkannya untuk menjual.
Selasa (18/5/2026), seperti biasanya, Kamarudin mampir di tempat pengepul, Gamsani. Hasil karet yang dikenal sebagai lum ia bawa menggunakan ember dan diberikan kepada pengepul untuk ditimbang.
Kali ini berat lum yang ia peroleh mencapai lima kilogram. Uangnya Rp 60 ribu pun didapat. Artinya satu kilogram dihargai Rp 12 ribu.
Harga tersebut tergantung kadar air. Kadang Gamsani menghargai Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu kalau karetnya lebih kering atau yang telah dijemur satu minggu. Sedangkan lum Kamarudin dinilai belum begitu kering.
Kamarudin bersyukur harga karet lebih tinggi dibanding sebelumnya. Bahkan pernah paling rendah di hargai Rp 5 ribu. Kemudian harga naik perlahan.
Kalau musim hujan, kata Kamarudin, menyadap tidak bisa ia lakukan. Bahkan untuk mengambil karet yang sudah disadap di hari sebelumnya karena belum begitu kering.
Baca juga: Popda 2026 Resmi Digelar, Ini Target dan Fokus Kalsel Terhadap Atlet Usia Dini
Kamarudin biasanya menjual karet setiap tiga hari setelah disadap. Namun ada pula petani yang menjual satu minggu setelah disadap.
Kendati hanya memiliki kurang lebih 150 pohon yang produktif, Kamarudin tetap bersyukur karena harga karet naik, walaupun harga harga kebutuhan pokok rumah tangga juga telah naik. Terutama bahan bakar minyak sepeda motor untuk ke kebun.
Di sisi lain, Gamsani, setelah membeli karet petani, tidak langsung menjualnya ke pabril. Karet dibiarkannya lebih mengering. Biasanya Gamsani menjual seminggu setelah membeli dari petani atau hingga mencapai dua ton.
Empat bulan belakangan, ujarnya, harga karet mulai tinggi. Ia kadang menjualnya di harga Rp 17 ribu hingga Rp 18 ribu. Ini merupakan harga paling tinggi selama 14 tahun menggeluti pekerjaan tersebut.
Melonjaknya harga karet juga dirasakan Isyayar Apata Sumba, petani di Desa Mangkupum Kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong. “Di Mangkupum antara Rp 15 ribu dan Rp 16 ribu. Di tempat lain saya dengar ada yang sampai Rp 17 ribu,” katanya.
Isyayar memiliki kebun lebih dari tiga hektare. Penyadapan dilakukan setiap hari dan dijual kepada pengepul sekali dalam sepekan. “Kalau untuk penyakit gugur daun, tidak terjadi pada karet saya, jadi produksi normal saja sampai saat ini,” katanya.
Kabid Perkebunan DKP3 Tabalong, Anik Patsih Wati, saat dikonfirmasi menyampaikan ada beberapa faktor yang menjadi pemicu melonjaknya harga karet. Di antaranya adanya kenaikan kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Untuk diketahui pada perdagangan Senin, satu dolar AS sudah sekitar Rp 17.600. Selain itu, kenaikan harga berkaitan stok karet berkurang akibat banyak yang beralih ke komoditi lain.
Di Tabalong, lanjutnya, rata-rata harga karet di kisaran Rp 16 ribu-Rp 17 ribu. “Itu harga rata-rata. Masing-masing wilayah berbeda, ada yang lebih rendah dari itu, ada yang lebih tinggi dari itu,” kata Anik.
Sayangnya, lanjut Anik, penyakit gugur daun masih terjadi dan berdampak pada berkurangnya hasil sadapan. “Apabila ada hujan disertai cuaca panas yang tinggi, dipastikan akan terjadi gugur daun,” terangnya. (banjarmasinpost.co.id/isty rohayanti)