Andi Angga Diculik Israel, Sang Ayah Sedih Campur Bangga: Angga Berjuang dalam Misi Kemanusiaan
Sakinah Sudin May 20, 2026 09:22 AM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU – Kabar diculiknya relawan kemanusiaan asal Sulawesi Selatan (Sulsel), Andi Angga Prasadewa (33), oleh zionis Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina, mengejutkan keluarga.

Meski diliputi rasa sedih, Andi Hamzah (54) ayah Angga mengaku bangga terhadap perjuangan anaknya dalam membantu rakyat Palestina.

Hal itu disampaikan Andi Hamzah saat ditemui Tribun-Timur.com di kediamannya di Dusun Kariako, Desa Buntu Karya, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulsel.

“Perasaan saya waktu itu, saya terima. Tapi antara sedih dan bangga," kata Andi Hamzah di gazebo samping rumahnya yang berhadapan persis dengan Jl Poros Makassar-Palopo itu, Selasa (19/5/2026) sekitar pukul 19.41 Wita malam.

"Karena Angga berjuang dalam misi kemanusiaan. Saya serahkan ke Allah SWT,” imbuhnya.

Menurutnya, Angga memang sudah lama tertarik pada aktivitas kemanusiaan.

Andi Hamzah menyebut karakter sosial anaknya terbentuk sejak menempuh pendidikan di Pondok Pesantren IMMIM Makassar.

“Sudah lama Andi Angga ini tertarik pada hal kemanusiaan. Mungkin karena anak saya ini enam tahun belajar di IMMIM Makassar. Di sana pengetahuan agamanya dibentuk,” katanya.

Andi Hamzah mengungkap, Angga menempuh pendidikan TK hingga SD di Kota Palopo sebelum melanjutkan pendidikan di Makassar.

Setelah itu ia kuliah di Universitas Cenderawasih, Papua.

“Pasca kuliah di Papua, Universitas Cenderawasih, selalu ikut kegiatan kemanusiaan,” jelas Andi Hamzah.

Andi Hamzah mengungkapkan, ini juga bukan kali pertama Angga mengikuti misi kemanusiaan untuk Palestina.

Sebelumnya, ia disebut pernah terlibat dalam agenda serupa menuju Gaza.

Selain itu, Angga juga aktif membantu korban bencana di Indonesia.

“Pasca bencana Aceh kemarin dia ikut rombongan. Termasuk banjir bandang di Luwu tahun 2024 lalu,” kata Andi Hamzah.

Ia menambahkan, keluarga mendukung penuh keputusan Angga terlibat dalam misi kemanusiaan internasional tersebut.

“Kami mendukung. Ini urusan yang diridhoi Allah SWT,” katanya.

Komunikasi Terakhir

Sementara itu, ibu Angga, Sutrawati Kaharuddin (52) tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ditemui awak Tribun-Timur.com di kediamannya Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Kota Makassar, Selasa (19/5/2026).

Sutrawati mengaku sudah memiliki firasat sebelum putranya dilaporkan ditangkap pasukan zionis Israel di perairan internasional dekat Siprus, Mediterania Timur.

Ibu dua anak ini kemudian menceritakan komunikasi terakhirnya dengan sang anak yang sedang menjalankan misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza Palestina.

Menurut Sutrawati, Andi Angga berangkat dari Turki melalui Marmaris Cruise Port bersama puluhan kapal yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.

“Anak saya itu kan berangkat ke Gaza lewat jalur laut dari Turki di Marmaris (Cruise Port), terus ada 56 kapal, infonya begitu 56 kapal,” tutur Sutrawati lirih sembari mengusap air mata.

Ia menyebutkan, kabar penangkapan mulai menguat setelah komunikasi dengan Andi Angga mendadak terputus di tengah perjalanan menuju Gaza.

“Di perjalanan itu sebelum sampai di 250 mil dari laut itu, itu ada (kabar ditangkap) di ini sama zionis Israel,” ujarnya.

Sutrawati mengaku awalnya belum menerima informasi resmi dari pihak mana pun.

Namun, ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika pesan WhatsApp yang dikirim ke Andi Angga hanya centang satu.

“Waktu itu rumah sakit juga belum, mungkin anak saya yang dihubungi karena anak saya masuk ke grup. Tapi karena anak saya juga selalu khawatir dengan saya, jadi dia pelan-pelan kalau ingin nggak langsung menentukan,” katanya.

“Mungkin Lembaga Rumah Zakat sudah menyampaikan, tapi karena saya namanya firasat ibu, saya selalu khawatir dengan anak. Waktu putus kontak saya itu jam 3 sore, sudah centang 1 WhatsAppnya dan itu saya mulai curiga di situ, saya sudah khawatir karena saya sudah WA di situ sebelumnya,” tambah Sutrawati.

Sebelum kontak terputus, Sutrawati mengaku terus mengingatkan putranya agar selalu berdoa dan memperbanyak istighfar selama berada di perjalanan laut.

“Biasanya kan dia jawab, baru saya selalu bilang ya Allah, jaga anakku ya Allah, selalu saya kunci dengan memanjatkan doa kepada Allah,” katanya sambil menahan tangis.

Menurut Sutrawati, Andi Angga masih sempat membalas pesan terakhirnya sebelum komunikasi benar-benar hilang.

“Terus dia selalu jawab ya Rabb, terima kasih bunda. Tapi itu sudah tidak ada lagi jawabannya, waktu itu sudah centang 1 WhatsAppnya jam 3 sore kemarin,” lanjutnya.

Ia mengatakan, putranya sempat mengeluhkan mabuk laut selama perjalanan menuju Gaza.

Karena itu, ia terus mengingatkan Andi Angga agar tetap tenang dan berserah diri kepada Tuhan.

“Jam 3 kemarin, dia masih jawab WhatsApp saya. Setelah itu saya jawab, kakak, bunda sangat khawatir, kakak hati-hati di sana. Banyak doa, istighfar, sekecil apapun itu perserahkan sama Allah. Selalu minta pertunjuk sama Allah. Kan itu hari dia bilang saya mabuk apa begitu kan, mabuk laut terus,” ujarnya.

“Kakak dia itu mabuk orang, minta juga sama Allah ya Allah, ini pokoknya apapun itu. Iya, selalu ingat Allah,” sambung Sutrawati.

Saat ditanya mengenai komunikasi terakhir dengan putranya, Sutrawati mengaku hanya bisa mengingat pesan-pesan doa yang terus ia sampaikan.

“Komunikasi terakhirnya itu, ya itu saya cuma ingatkan supaya kakak (Andi Angga) berbanyak beristighfar,” katanya.

Ia juga mengaku sudah memiliki firasat sejak dini hari sebelum kabar penangkapan itu benar-benar terjadi.

“Ini saya kan sudah ada gambaran resikonya, bagaimana terus saat intercept gitu. Terus saya juga kan, sudah ada firasat lah saya, sudah memang ada firasat malamnya itu. Karena subuh-subuh saya bangun, sudah ada firasat waktu bangun tidur,” ungkapnya.

Kecurigaan Sutrawati semakin kuat ketika Andi Angga menitip pesan kepada adiknya apabila sewaktu-waktu tidak bisa lagi dihubungi.

“Makanya saya selalu ingat, jam tiga itu saya lihat, oh sudah tidak ada ini, sudah centang satu WhatsApp-nya. Dan itu dia pesan sama adiknya, dia bilang, nanti sampaikan ke bunda ya kalau ini jangan kaget, kalau sudah tidak bisa dihubungi berarti saya sudah buang HP, dia buang ke laut HP-nya. Karena mungkin begitu ya waktu pelatihannya,” tutup Sutrawati.

Rombongan WNI yang terdiri dari aktivis kemanusiaan dan jurnalis itu tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla untuk membawa bantuan bagi warga Palestina.

Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengumumkan lima orang WNI menjadi korban dalam insiden tersebut.

Salah satunya ialah Angga.

Angga berada dalam kapal Josef bersama relawan internasional lainnya.

Ia merupakan delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bersama Rumah Zakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.