TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Semarang dan Solo tercatat sebagai wilayah dengan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) terendah di Jawa Tengah (Jateng).
Data ini terungkap dalam Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Jateng 2025, yang menunjukkan kedua kota tersebut memiliki TFR sebesar 1,77.
TFR merupakan indikator yang menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan selama masa reproduksi, yaitu usia 15–49 tahun.
Baca juga: Jadwal Lokasi Samsat Keliling Solo Rabu 20 Mei 2026 : Hari Ini Ada di Pusat Oleh-oleh Jongke
Angka ini menjadi salah satu ukuran penting untuk memahami tren fertilitas dan dinamika kependudukan di suatu wilayah.
Menurut SUPAS 2025, TFR Jawa Tengah berada di angka 2,05, sedikit menurun dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 (LF SP2020) yang mencatat 2,09.
Penurunan TFR di Jateng juga terlihat dalam jangka panjang. Sejak Sensus Penduduk 2010 (SP2010) yang mencatat TFR 2,20, angka fertilitas di provinsi ini terus mengalami penurunan.
Meski penurunan saat ini tidak secepat periode sebelumnya, tren tersebut menunjukkan Jateng telah mencapai level penggantian penduduk (replacement level), yaitu kondisi di mana setiap generasi cukup menggantikan generasi sebelumnya.
Baca juga: Daftar Angka Kelahiran Tertinggi di Jawa Tengah Menurut SUPAS 2025 : Solo Justru Rendah, Ada Apa?
Meskipun tren penurunan fertilitas terlihat secara umum, perbedaan antarwilayah di Jateng masih cukup signifikan.
Selain Kota Semarang dan Solo yang mencatat TFR terendah, Kabupaten Wonosobo justru mencatat TFR tertinggi, yakni 2,21.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi sosial, budaya, ekonomi, serta akses terhadap layanan kesehatan reproduksi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi pembangunan kependudukan perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.
Selain TFR, BPS Jateng juga memantau Age Specific Fertility Rate (ASFR), yaitu jumlah kelahiran per 1.000 perempuan pada kelompok usia tertentu. Data SUPAS 2025 menunjukkan penurunan signifikan pada kelompok usia muda, khususnya 15–24 tahun.
Pada kelompok usia 15–19 tahun, ASFR turun tajam dari 38,60 kelahiran per 1.000 perempuan pada SP2010 menjadi 15,01 pada SUPAS 2025.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Solo Hari Ini Rabu 20 Mei 2026 : Potensi Hujan Ringan Menurut BMKG
Meski demikian, puncak fertilitas tetap berada pada kelompok usia 25–29 tahun, yang justru meningkat dari 122,30 menjadi 128,58 kelahiran per 1.000 perempuan.
Tren ini menunjukkan perempuan menunda memiliki anak hingga usia lebih matang, kemungkinan terkait pendidikan, pekerjaan, dan perencanaan keluarga.
Indikator lain yang juga diperhatikan adalah Crude Birth Rate (CBR), yang menunjukkan jumlah kelahiran hidup per 1.000 penduduk dalam satu tahun.
Hasil SUPAS 2025 mencatat CBR Jateng sebesar 14,95, turun 0,75 poin dibandingkan LF SP2020.
Sementara itu, Angka Prevalensi Kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate/CPR) menunjukkan persentase perempuan menikah usia 15–49 tahun atau pasangannya yang menggunakan alat kontrasepsi, baik modern maupun tradisional. Berdasarkan SUPAS 2025, CPR Jateng mencapai 63,63 persen, mencerminkan peningkatan kesadaran dan akses terhadap perencanaan keluarga.
(*)