Jakarta (ANTARA) - Pembukaan program studi (prodi) baru, Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan.
"Kita menyambut lahirnya program studi baru di bawah naungan PPDS Fakultas Kedokteran Untan, yaitu Program Spesialis Anestesiologi dan Magister Ilmu Farmasi, sebagai capaian nyata program akselerasi pemenuhan dan distribusi tenaga medis spesialis/subspesialis di Indonesia dalam mewujudkan Asta Cita dan Indonesia Sehat 2045," kata dia dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan hal itu saat meresmikan Prodi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Prodi Magister Ilmu Farmasi Fakultas Kedokteran Untan Pontianak, Selasa (19/5).
Ia menegaskan persoalan utama layanan kesehatan nasional bukan hanya keterbatasan jumlah dokter spesialis, tetapi juga distribusi tenaga medis yang belum merata di setiap wilayah.
Maka dari itu, pemerintah mendorong peningkatan jumlah tenaga dokter yang berasal dari putra putri daerah agar dapat memperkuat layanan kesehatan sekaligus menjawab tantangan distribusi tenaga medis.
"Pemerintah memberikan kebijakan khusus untuk meningkatkan jumlah tenaga dokter yang diambil dari putra putri daerah sehingga selain meningkatkan mutu layanan kesehatan, juga dapat mengurangi problem distribusi tenaga medis," ujarnya.
Ia menekankan pendidikan kedokteran harus melahirkan tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki karakter dan empati sosial yang kuat.
Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, rumah sakit pendidikan, dunia industri, dan organisasi profesi melalui Sistem Kesehatan Akademik.
Ia mendorong pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Kalimantan Barat agar seluruh perguruan tinggi dapat bergerak bersama menyelesaikan berbagai persoalan strategis daerah melalui riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak.
"Kalau selama ini perguruan tinggi berjalan sendiri-sendiri, hasilnya hanya memberikan resonansi lokal. Tetapi kalau bergerak bersama melalui konsorsium, dampaknya akan jauh lebih besar dalam menyelesaikan persoalan daerah," ucap Wamendiktisaintek Fauzan.
Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus kepada peningkatan jumlah tenaga medis di Indonesia, dengan terus memperluas akses pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di berbagai perguruan tinggi.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemdiktisaintek bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan para pemangku kepentingan membentuk Satgas Akselerasi Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan Tinggi untuk Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan melalui Sistem Kesehatan Akademik.
Hingga saat ini, Kemdiktisaintek telah membuka 160 prodi baru terdiri atas 128 program dokter spesialis dan 32 program dokter subspesialis. Dengan penambahan tersebut, total prodi PPDS di Indonesia meningkat menjadi 526 prodi dari sebelumnya 366 prodi.
Program percepatan ini juga diarahkan pada wilayah-wilayah yang selama ini masih mengalami kekurangan dokter spesialis dan baru pertama kali memiliki program PPDS sendiri, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.





