Analisis Guru Besar Universitas Jambi Prof Haryadi, Dampak Dolar Naik ke Jambi
asto s May 20, 2026 11:11 AM

Analisis Guru Besar Universitas Jambi Prof Haryadi, Dampak Dolar Naik ke Jambi

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah merupakan satu di antara persoalan ekonomi yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Jika dolar AS semakin naik, mengapa bisa berdampak ke warga Jambi? Berikut penjelasan 
Prof Haryadi Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi:

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan cukup besar. Pada 19 Mei 2026, kurs dolar AS berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS.

Sebelumnya, pada awal tahun 2026, nilai tukar rupiah masih berada di sekitar Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS, pelemahan itu menunjukkan bahwa dolar semakin kuat sementara rupiah melemah.

Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor global, satu diantaranya adalah kebijakan suku bunga tinggi oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).

Ketika suku bunga AS tinggi, investor dunia cenderung menyimpan uang dalam bentuk dolar karena dianggap lebih menguntungkan dan aman.

Selain itu, kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil juga menyebabkan dolar menjadi mata uang yang paling dicari.

Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan dan melemah.

Dampak ke Sektor Riil

Sehingga, kondisi itu memberikan dampak luas terhadap sektor riil masyarakat, termasuk di daerah seperti Provinsi Jambi.

Sektor riil merupakan sektor ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa secara langsung, seperti pertanian, perdagangan, industri kecil, transportasi, hingga UMKM. 

Ketika dolar naik, sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak karena banyak kegiatan produksi di Indonesia masih bergantung pada barang impor atau bahan baku yang dibeli menggunakan dolar AS.

Satu di antara dampak paling nyata adalah kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Sebab, banyak barang konsumsi sehari-hari dipengaruhi oleh harga internasional yang menggunakan dolar. 

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal, sehingga harga barang di pasar ikut meningkat. Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, bahan pangan, hingga barang rumah tangga lainnya.

Harga Pupuk Ikut Terdampak

Kenaikan dolar juga memengaruhi harga pupuk. Memang, Indonesia memproduksi pupuk sendiri melalui berbagai perusahaan nasional. 

Namun, Indonesia masih mengimpor beberapa bahan baku pupuk seperti kalium (potash), fosfat, sulfur, dan amonia dari luar negeri. 

Ketika dolar menguat, biaya impor bahan baku tersebut menjadi lebihmahal sehingga harga pupuk meningkat.

Hal itu sangat dirasakan oleh petani di daerah, seperti Jambi yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. 

Sebab, Provinsi Jambi dikenal sebagai daerah penghasil sawit, karet, dan pinang. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor perkebunan dan pertanian. 

Dampak ke CPO di Jambi

Indonesia memang merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dan produsen minyak goreng utama.

Namun, harga minyak goreng dalam negeri tetap dipengaruhi pasar internasional karena minyak sawit mentah (CPO) dijual menggunakan dolar AS.

Ketika harga dolar naik atau harga CPO dunia meningkat, produsen cenderung mengikuti harga pasar internasional, sehingga harga minyak goreng di dalam negeri ikut naik. 

Selain itu, industri minyak goreng juga masih membutuhkan bahan pendukung impor seperti mesin, bahan kimia, dan kemasan tertentu yang dibayar menggunakan dolar.

Secara Riil Petani Kecil Tidak Dapat Manfaat

Secara teori, kenaikan dolar sebenarnya dapat memberikan keuntungan bagi eksportir, karena hasil ekspor dijual dalam dolar AS. Ketika dolar naik, nilai pendapatan ekspor dalam rupiah juga meningkat. 

Namun, manfaat tersebut tidak selalu dirasakan secara langsung oleh petani kecil. 

Petani sawit dan karet di Jambi tetap menghadapi kenaikan biaya produksi akibat mahalnya pupuk, pestisida, dan alat pertanian.

Biaya transportasi juga meningkat, karena harga bahan bakar dan suku cadang kendaraan ikut naik. 

Akibatnya, meskipun harga komoditas terkadang naik, keuntungan petani tidak meningkat secara signifikan karena pengeluaran mereka juga bertambah besar.

Dampak Terhadap UMKM Jambi

Kenaikan dolar juga berdampak pada sektor UMKM di Jambi. Sebab, banyak usaha kecil menggunakan bahan baku atau peralatan yang harganya dipengaruhi dolar.

UMKM yang dimaksud seperti usaha percetakan, konveksi, elektronik, hingga kuliner. Ketika biaya produksi naik, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual produk mereka. 

Namun, daya beli masyarakat yang menurun membuat penjualan ikut menurun. Kondisi ini menyebabkan banyak UMKM mengalami penurunan pendapatan bahkan kesulitan mempertahankan usaha.

Dampak lain yang cukup serius adalah terhadap lapangan kerja, sebab perusahaan yang mengalami kenaikan biaya operasional biasanya melakukan penghematan untuk menjagakeuangan perusahaan. 

Penghematan tersebut dapat berupa pengurangan tenaga kerja, pembatasan perekrutan pegawai baru, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Akibatnya, tingkat pengangguran dapat meningkat dan kesejahteraan masyarakat menurun.

Dampak di Bidang Pendidikan dan Kesehatan

kenaikan dolar juga memberikan pengaruh tidak langsung pada bidang pendidikan dan kesehatan

Sebab, banyak alat kesehatan, obat-obatan, dan teknologi pendidikan masih diimpor dari luar negeri. Ketika dolar naik, biaya pengadaan barang-barang tersebut menjadi lebih mahal. 

Rumah sakit dan sekolah swasta mungkin akan menaikkan biaya layanan, sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperolehpendidikan dan layanan kesehatan yang layak.

Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jambi juga merasakan kenaikan harga barang elektronik dan kendaraan. 

Produk seperti telepon genggam, komputer, televisi, suku cadang kendaraan banyak menggunakan komponen impor. 

Ketika dolar menguat, harga barang tersebut menjadi lebih mahal, sehingga masyarakat cenderung menunda pembelian.

Kenaikan Dolar Tidak Selalu Berdampak Negatif

Meski demikian, kenaikan dolar tidak selalu berdampak negatif. 

Daerah penghasil komoditas ekspor seperti Jambi tetap memiliki peluang memperoleh keuntungan dari meningkatnya nilai ekspor sawit dan karet. 

Jika dikelola dengan baik, kondisi itu dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan daerah dan memperkuat ekonomi lokal.

Pemerintah daerah dapat memanfaatkan situasi itu dengan memperkuat industri pengolahan hasil perkebunanagar nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati masyarakat daerah.

Pemerintah memiliki peran penting dalam mengurangi dampak kenaikan dolar terhadap masyarakat. Bank Indonesia biasanya melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, seperti intervensi pasar dan pengaturan suku bunga. 

Selain itu, pemerintah juga dapat memberikan subsidi pupuk, bantuan sosial, dan dukungan terhadap UMKM, agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Di Jambi, pemerintah daerah dapat membantu masyarakat dengan memberikan bantuan pertanian, pelatihan usaha, aksesmodal murah, dan memperluas pemasaran produk lokal.

Penguatan ekonomi lokal sangat penting agar masyarakattidak terlalu bergantung pada barang impor dan lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global.

Di satu sisi, masyarakat juga perlu meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan ekonomi.

Masyarakat dapat mulai mengurangi ketergantungan pada produk impor dan lebih mendukung penggunaan produk lokal.

Selain itu, pelaku usaha juga perlu melakukan inovasi dan efisiensi agar biayaproduksi tidak terlalu tinggi.

Secara keseluruhan, kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah memberikan dampak besar terhadap sektor riil masyarakat Indonesia, termasuk di Provinsi Jambi.

Dampak tersebut terlihat pada kenaikan harga barang, meningkatnya biaya produksi, menurunnya daya beli masyarakat, hingga ancaman terhadap lapangan kerja dan keberlangsungan UMKM. 

Walaupun terdapat peluang bagi sektor ekspor, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat kecil. 

Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat ekonomi daerah dan meningkatkan kemandirian ekonomi nasional agar mampu menghadapi gejolak nilai tukar dolar di masa mendatang. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Produsen Tempe Tahu di Jambi Ketar Ketir Dolar Menguat, Terungkap Bahan Bakunya

Baca juga: Bingung Iqbal Cari Keadilan: PN Jambi Nyatakan Bebas, MA Hukum 2 Tahun Penjara

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.