BATAM, TRIBUNBATAM.id - Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan istrinya, Erlita Sari akan berangkat haji ke Tanah Suci besok, Kamis (21/5/2026).
Setelah menggelar walimatus safar di kediamannya di Kecamatan Batam Kota, Minggu (10/5/2026), orang nomor satu di Pemerintah Kota Batam itu dijadwalkan masuk Asrama Haji Batam hari ini, Rabu (20/5/2026) bersama ratusan Calon Jemaah Haji (CJH) Kelompok Terbang (Kloter) 25 Embarkasi Batam.
Selama lebih kurang 40 hari di Tanah Suci, tugas Amsakar di pemerintahan maupun di BP Batam akan dijalankan wakilnya, Li Claudia Chandra sebagai Pelaksana Tugas Wali Kota Batam dan Kepala BP Batam.
Pantauan Tribunbatam.id di akun Facebook-nya, Amsakar menuliskan pesan menyentuh jelang keberangkatannya ke Tanah Suci.
Tulisan yang disebutnya Catatan Pelepas Penat itu diunggah Sabtu (16/5/2026) lalu sekira pukul 17.41 WIB.
Catatan berjudul 'Mohon Maaf dan Doa' tersebut hingga hari ini, Rabu (20/5/2026) sudah disukai 583 pengguna Facebook dan empat kali diteruskan.
Insya Allah, Kamis 21 Mei 2026 ini, saya dan istri akan berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Perjalanan ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia adalah buah dari kesabaran panjang -dari cicilan pertama yang saya setorkan kurang lebih 15 tahun silam, hingga hari ini ketika panggilan itu datang. Setiap rupiah yang disisihkan selama bertahun-tahun terasa seperti doa yang perlahan-lahan menemukan jawabannya.
Menjelang keberangkatan ini, ada satu hal yang lebih dulu ingin saya sampaikan dari lubuk hati yang paling dalam: sebuah permohonan maaf yang tulus kepada seluruh masyarakat Batam. Maaf atas segala salah dan silaf selama saya bergaul dan mengemban amanah tugas di tengah-tengah kehidupan bersama. Saya dan keluarga sangat memahami bahwa menjalankan tugas di era transformasi informasi yang sedemikian deras ini, kami tidak akan pernah lepas dari sorotan. Kami dilihat, diamati, diperbincangkan, bahkan dikritisi dari berbagai sudut pandang. Itu adalah hal yang wajar, bahkan sehat dalam kehidupan demokrasi.
Saat saya menyampaikan sambutan, mungkin ada yang menilai saya hanya pandai berpidato. Saat turun ke lapangan, bisa jadi saya dianggap sedang sibuk pencitraan. Saat merangkul warga, mungkin saya dipandang sok akrab. Saat banyak bepergian, tak tertutup kemungkinan saya dianggap terlalu sibuk ke luar daerah. Bahkan saat memilih diam pun, pertanyaan tetap datang: mana suaranya Pak Amsakar?
Saya menerima semua itu dengan lapang dada. Kosekuensi sebuah kepemimpinan. Tidak satupun dari apa yang saya lakukan bebas dari interpretasi, dan saya menyadari itu. Saya teringat pesan tokoh bangsa, Buya Syafii Ma'arif, "Kritik adalah vitamin bagi yang menjalankan kekuasaan." Oleh sebab itu, berbagai sudut pandang tersebut, saya jadikan sebagai suplemen. Energi tambahan untuk terus melangkah dalam menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik-baiknya. Dengan satu tujuan: Batam Maju untuk semua kalangan.
Karena saya tahu menjadi pemimpin daerah bukan berarti menjadi orang yang selalu menyenangkan semua pihak. Ada yang suka, ada yang tidak. Ada yang setuju, ada yang menolak. Ada yang merasa diuntungkan, ada pula yang merasa sebaliknya. Itulah dinamika yang tidak bisa dihindari, dan saya menerimanya sebagai bagian dari tanggung jawab yang saya pikul.
Karena itu, dari hati yang paling jujur, saya mohon maaf jika ada cakap yang tersalah ucap, jika ada kata yang tersalah nada, jika ada keputusan yang terasa menyakitkan. Saya hanyalah manusia biasa yang terus belajar. Selain permohonan maaf, saya juga memohon doa dari seluruh masyarakat Batam semoga perjalanan kami dari keberangkatan, pelaksanaan ibadah, hingga kepulangan kembali ke Tanah Air semuanya berjalan lancar, dimudahkan Allah, dan kami senantiasa diberi kesehatan.
Kepada seluruh tokoh dan masyarakat Batam, saya juga menitipkan Ibu Wakil, Ibu Li Claudia Chandra, kiranya beliau senantiasa mendapat dukungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan kebijakan daerah selama saya menunaikan ibadah haji.
Dan di ujung semua kata ini, izinkan saya meminjam bait puisi Chairil Anwar yang selalu saya pegang: "Kami telah coba apa yang kami bisa, tapi kerja belum selesai, belum apa-apa." Masih banyak yang harus dikerjakan. Masih banyak yang harus diperbaiki. Maka kepada siapapun, masyarakat yang mencintai Kota Batam, mari kita bersama-sama membangun narasi yang positif dan produktif untuk Batam yang kita cintai.
Dan doa saya yang paling dalam sebelum melangkah: "Yaa Rabbi, jauhkanlah kami menjadi orang yang sibuk mencari semut di seberang lautan, tetapi jadikanlah kami orang yang sibuk mengarifi kelemahan diri." (*)