Suspek Ebola Melonjak Jadi 543 Kasus, 136 Orang Meninggal Tersebar di Wilayah Ini
GH News May 20, 2026 03:09 PM
Jakarta -

Kasus suspek Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) melonjak di angka 543 orang, 136 pasien dilaporkan meninggal dunia, baru 32 di antaranya yang terkonfirmasi Ebola strain Bundibugyo, jenis yang belum tersedia terapi serta vaksin.

Menteri Kesehatan RD Kongo Roger Kamba mengatakan investigasi masih berlangsung. Pasalnya, hingga kini, asal wabah terbilang belum jelas.

Di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Adelheid Marschang Ancia mengatakan otoritas kesehatan hingga kini juga belum berhasil mengidentifikasi 'patient zero' atau kasus pertama.

"Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia," ujarnya, seraya menambahkan bahwa jenazah kemudian dibawa ke Mongbwalu, tempat paparan saat prosesi pemakaman kemungkinan ikut memicu penularan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC) Jean Kaseya mengatakan kasus indeks sebenarnya bahkan belum ditemukan.

"Wabah ini dimulai pada April. Sampai sekarang kami belum mengetahui kasus indeksnya. Itu berarti kami belum tahu seberapa besar skala wabah ini," kata Kaseya pada 16 Mei, dikutip dari Xinhua, Selasa (20/5).

Hasil sequencing menunjukkan virus yang saat ini beredar berasal dari hutan, mengindikasikan kontaminasi baru dari alam liar, bukan kemunculan rantai virus lama.

Menteri Kesehatan RD Kongo itu juga mengakui adanya penolakan dari masyarakat di beberapa wilayah terdampak. Sebagian keluarga awalnya percaya penyakit disebabkan oleh kutukan atau kekuatan mistis, bukan virus.

Karenanya, pelaporan terbilang terlambat dan penyebaran penyakit semakin meluas.

Namun, rumor tersebut mulai berkurang sejak pemerintah resmi menetapkan status wabah dan rutin memberikan penjelasan kepada publik.

'Gap' Vaksin

Wabah kali ini disebabkan strain Bundibugyo dari virus Ebola, jenis yang lebih jarang ditemukan dan pertama kali teridentifikasi di Uganda pada 2007, lalu memicu wabah di wilayah Isiro, RD Kongo, pada 2012.

Menurut Jean-Jacques Muyembe, Direktur Jenderal National Institute of Biomedical Research, hasil pemetaan genom menunjukkan virus yang kini beredar merupakan varian Bundibugyo Ebola yang berbeda dari varian yang ditemukan di Uganda pada 2007 maupun di RD Kongo pada 2012.

Kamba mengatakan belum adanya vaksin dan pengobatan khusus menjadi sumber kekhawatiran. Meski begitu, RD Kongo memiliki pengalaman panjang dalam menangani Ebola.

Ia menyebut respons akan difokuskan pada deteksi cepat, isolasi pasien, perlindungan tenaga kesehatan, serta pemakaman yang aman.

Kelompok penasihat teknis WHO dijadwalkan menggelar pertemuan pada Selasa untuk membahas kandidat vaksin potensial. Ancia mengatakan Ervebo, vaksin untuk virus Ebola strain Zaire, sedang dipertimbangkan, meski diperkirakan baru tersedia dalam waktu sekitar dua bulan.

Sementara itu, Kaseya menyebut terdapat tiga kandidat vaksin yang tengah ditinjau, termasuk Ervebo. Untuk sementara, Ervebo kemungkinan dapat memberikan tingkat 'perlindungan silang' terhadap strain Bundibugyo, tetapi studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan efektivitasnya, kata Muyembe.

Menurutnya, beberapa kandidat vaksin sebenarnya sudah masuk tahap penelitian, tetapi pengembangannya membutuhkan waktu.

"Pada saat epidemi berakhir, mungkin kita baru menemukan vaksinnya," ujarnya.

Wilayah yang Sudah Catat Kasus Ebola

Wabah ini muncul di wilayah yang sebelumnya sudah terbebani konflik, pengungsian, dan lemahnya kapasitas layanan kesehatan.

Badan Pengungsi PBB pada Selasa mengatakan sebanyak 11 ribu pengungsi asal Sudan Selatan di Ituri membutuhkan bantuan pencegahan, sementara lebih dari 2.000 pengungsi Rwanda dan Burundi di Goma memerlukan perlengkapan sanitasi.

Kasus terkonfirmasi juga ditemukan di Butembo dan Goma di provinsi Kivu Utara. Goma merupakan salah satu pusat kota terbesar di timur RD Kongo sekaligus kota perbatasan penting dengan Rwanda yang sejak awal 2025 berada di bawah kendali kelompok pemberontak March 23 Movement (M23).

Juru bicara pemerintah Patrick Muyaya mengatakan penguasaan Goma oleh kelompok pemberontak menghambat pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak, dan pengiriman sampel, karena kota itu memiliki salah satu laboratorium terbaik di negara tersebut.

Uganda juga telah mengonfirmasi dua kasus impor di Kampala, termasuk satu kematian, menurut WHO. Pada Minggu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menetapkan wabah di RD Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern karena khawatir terhadap 'skala dan kecepatan' penyebaran epidemi.Sembunyikan kutipan teks

Africa CDC kemudian menetapkan wabah tersebut sebagai Public Health Emergency of Continental Security, yang disebut akan memperkuat koordinasi regional dan mempercepat mobilisasi sumber daya.

Negara-negara tetangga seperti Rwanda, Burundi, dan Tanzania juga meningkatkan pengawasan, pemeriksaan perbatasan, serta langkah kesiapsiagaan darurat.

Menurut sumber lokal, Rwanda telah menangguhkan pergerakan melalui sejumlah jalur utama yang menghubungkan Goma dan kota perbatasan Gisenyi di Rwanda. Hanya warga negara masing-masing yang diperbolehkan melintas untuk kembali ke negaranya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.