Kisah Ilham, Seorang Pelajar dari Pangandaran yang Menekuni Dunia Wayang Sejak Kecil
ferri amiril May 20, 2026 02:35 PM

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna


TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Di saat sebagian remaja menghabiskan waktu dengan gawai dan permainan modern, Muhamad Ilham Alfarizi (17) justru tenggelam dalam dunia wayang golek. 

Jemari kecilnya sejak dulu akrab memainkan boneka kayu di atas gebog atau batang pisang, diiringi alunan gamelan yang menghidupkan suasana.

Siswa kelas XI IPS SMAN 1 Parigi itu memilih wayang golek bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari hidupnya. 

Di sebuah ranggon saung sederhana berdinding anyaman bambu dan beralaskan papan kayu, Ilham menghabiskan waktu untuk belajar mendalang sekaligus membuat wayang.

Ranggon itu dibangun sang ayah, Yadi Suryadi (49), sebagai bentuk dukungan terhadap bakat anaknya.

Baca juga: Bupati Pangandaran Tampil Nyentrik di Acara Milangkala Tatar Sunda di Bandung

"Awalnya saya hanya ingin mengenalkan wayang agar tetap lestari. Ternyata Ilham sangat suka. Waktu TK sampai SD, wayang itu sering dibawanya," ujar Yadi kepada Tribun melalui WhatsApp, Rabu (20/5/2026) pagi.

Kecintaan Ilham terhadap wayang bermula sejak usia tiga tahun, ketika sang ayah memberinya wayang tokoh Batara Rama. 

Tokoh ksatria bijaksana dalam kisah Ramayana itu menjadi wayang pertama yang dimiliki Ilham sekaligus awal perjalanan panjangnya mengenal seni tradisi Sunda.

Seiring waktu, rasa penasaran Ilham semakin besar. Ia rajin menonton pertunjukan wayang golek di berbagai tempat. 

Dari situ, ia dipertemukan dengan maestro wayang golek Pangandaran, Dalang Enju atau Abah Enju (70), seniman asal Desa Bojong Kecamatan Parigi yang dikenal sebagai tokoh budaya Sunda.

"Abah sangat senang masih ada anak seusia Ilham yang mencintai wayang golek. Bahkan sekarang sangat jarang anak muda yang mau belajar wayang," ucapnya.

Pertemuan itu menjadi titik penting bagi Ilham. Ia mulai belajar teknik mendalang hingga proses pembuatan wayang golek secara langsung dari sang maestro. 

Meski pertunjukan wayang kerap selesai dini hari, semangat Ilham tak pernah surut. Ia tetap datang ke sekolah tepat waktu tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar.

Wali kelasnya, Lia Siti Nurlaela, menyebut Ilham merupakan satu siswa yang berprestasi dan bertanggung jawab.

"Ilham anak yang memiliki potensi tinggi, bisa dipercaya, dan tidak pernah memiliki catatan buruk di sekolah," kata Lia.

Ketekunan Ilham akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2025, ia tampil sebagai dalang dalam acara Gelar Karya P5 di sekolahnya. Penampilannya menjadi satu bentuk pelestarian budaya di lingkungan pendidikan.

Tak hanya mendalang, Ilham pun belajar membuat wayang golek dari kayu albasia. Kayu tersebut dipilih karena teksturnya tidak terlalu keras sehingga mudah diukir. 

Proses pembuatannya dimulai dari pembentukan dasar, pengukiran motif khas Pangandaran yang lebih dalam dan detail, hingga tahap pengecatan akhir yang membutuhkan ketelitian tinggi.

Untuk membuat satu kepala wayang, Ilham membutuhkan waktu sekitar tiga hari hingga satu minggu.

Setelah lulus sekolah, Ia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Budaya Indonesia Bandung jurusan seni pertunjukan.

Di tengah perkembangan teknologi digital, Ilham membuktikan bahwa budaya tradisional masih bisa hidup di tangan generasi muda. 

Karya-karyanya, kini dipasarkan melalui akun TikTok pribadinya @baskom.tijungkir. Satu kepala wayang hasil buatannya dijual mulai Rp100 ribu hingga Rp 300 ribu.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.