TRIBUNTRENDS.COM - Presiden Prabowo Subianto menghadiri sidang paripurna DPR RI bertajuk “Penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027” di Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Dalam forum tersebut, Prabowo menyampaikan pandangannya terkait kondisi ekonomi Indonesia dalam rentang panjang.
Ia menyinggung data pendapatan negara selama 22 tahun, dari periode 2004 hingga 2025.
Menurutnya, jika melihat sejarah, mustahil perekonomian Indonesia bisa bangkit dengan mudah.
Hal itu disebabkan oleh berbagai tantangan seperti intervensi pihak asing yang terus terjadi.
Selain itu, ia juga menyebut adanya berbagai pemberontakan di sejumlah daerah yang turut memengaruhi stabilitas negara.
Prabowo kemudian menyinggung masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto sebagai bagian dari perjalanan sejarah tersebut.
Baca juga: Janji Tingkatkan Kesejahteraan Warga, Prabowo Sebut Rakyat Tak Bermimpi Kaya, Cuma Ingin Hidup Layak
Meski penuh tantangan, ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap mampu berkembang dan bangkit dari masa sulit.
"Indonesia disibukkan oleh intervensi asing, pemberontakan demi pemberontakan, tidak mungkin kita bangun ekonomi kita. Di awal Orde Baru pun kita dikacaukan oleh banyak masalah, tapi alhamdulillah kita telah bangun ekonomi kita," tutur Prabowo, dikutip dari YouTube TV Parlemen.
Ia kemudian menambahkan, selama berdiri, Indonesia tidak pernah mengalami kerugian sebab kuota ekspor jauh lebih banyak ketimbang impor.
Merujuk pada hal itu, Prabowo menilai Indonesia seharusnya tidak akan mengalami krisis ekonomi.
"Negara kita tidak pernah rugi, satu tahun pun kita tidak pernah rugi. Ekspor kita selalu lebih daripada impor kita."
"Kalau ilmu dagang, berarti yang kita jual lebih banyak daripada yang kita beli, harusnya negara ini tidak pernah akan mengalami krisis ekonomi," katanya.
Namun, imbuh Prabowo, perekonomian Indonesia justru tengah tidak baik-baik saja.
Lantaran, dari keuntungan selama 22 tahun yang nilainya mencapai 436 miliar dolar AS, tersisa kurang dari setengah pengeluaran negara sebanyak 343 miliar dolar AS.
Artinya, pendapatan negara hanya tersisa 93 miliar dolar AS.
"Tapi apa yang terjadi? Yang terjadi adalah keuntungan kita, yang selama 22 tahun adalah 436 miliar dolar AS, (justru) yang keluar adalah 343 miliar dolar."
"Berarti, selama 22 tahun, kekayaan kita yang tinggal (tersisa) di Indonesia adalah 436 miliar dikurangi 343 miliar," pungkasnya.
Sementara itu, sebelumnya Prabowo Subianto memastikan kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja.
Hal ini disampaikan Prabowo ketika menyindir sejumlah pihak yang mengkhawatirkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Prabowo menilai hal tersebut tak perlu dirisaukan, sebab orang desa tak memakai dolar dalam bertransaksi.
"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" katanya dalam peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Baca juga: Anies Baswedan Kritik Pemerintahan Prabowo, Soroti Rupiah hingga Daya Beli Masyarakat
Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan saat menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR RI terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.
Dalam kesempatan itu, Prabowo menyinggung kesuksesan produk permen kopi Kopiko yang diproduksi PT Mayora Indah Tbk hingga dikenal di lebih dari 100 negara.
Ia berkelakar bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari sosok Presiden Indonesia yang gemar mempromosikan kopi di berbagai kesempatan.
Pernyataan itu langsung mengundang tawa para anggota dewan yang hadir di Gedung Nusantara DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Prabowo juga memuji peran besar sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan memperluas pasar produk Indonesia ke mancanegara.
Menurutnya, perusahaan seperti Mayora mampu membuktikan bahwa produk lokal dapat bersaing di tingkat internasional.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut Kopiko memiliki “brand ambassador” yang kuat karena dirinya kerap terlihat menikmati kopi di berbagai acara resmi maupun kunjungan luar negeri.
Di tengah pidato, Ketua Umum Partai Gerindra itu bahkan sempat meminta izin kepada Ketua DPR RI Puan Maharani untuk menyeruput kopi yang telah disediakan panitia.
Momen santai tersebut membuat suasana rapat menjadi lebih cair di tengah pembahasan agenda ekonomi negara.
Prabowo kemudian kembali berkelakar dengan menyebut Kopiko pasti senang memiliki presiden yang gemar minum kopi.
Baca juga: Imbas Rupiah Melemah: Petani Menjerit, Ancaman PHK Pegawai, Prabowo Sebut Orang Desa Tak Pakai Dolar
“Mayora berhasil memasarkan Kopiko di lebih dari 100 negara karena mereka memiliki brand ambassador,
Presidennya juga mendorong minum kopi di mana-mana,” kata Prabowo di Gedung Nusantara DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Ketua Umum Partai Gerindra itu kemudian meminta izin kepada Ketua DPR RI Puan Maharani untuk menyeruput kopi yang disediakan panitia.
“Kopiko seneng Presidennya peminum kopi,” lanjut Prabowo kembali berkelakar.
Selain Mayora, Prabowo juga memuji PT Indofood Sukses Makmur yang memproduksi mi instan merek Indomie.
Menurutnya, saat berkunjung ke Eropa, ia mendapati banyak penduduk benua biru yang mengonsumsi Indomie.
Baca juga: Purbaya Klarifikasi Ucapan Presiden Prabowo Orang Desa Tak Pakai Dollar, Minta Jangan Salah Tafsir
“Bagaimanapun perusahaan seperti Indofood sudah dipasarkan di seluruh dunia. Kalau saya ke Eropa, banyak orang Eropa nyarinya Indomie,” ujar Prabowo.
“Bahkan banyak negara Afrika menganggap itu produk mereka,” lanjutnya.
Menurut Prabowo, pemerintah harus mendorong perusahaan-perusahaan swasta yang unggul.
Baca juga: Kata Prabowo Orang Desa Tak Pakai Dolar, Gerindra Anggap Solutif, Sebut Bahasa Pemimpin untuk Rakyat
Ia tidak mau dianggap pemerintah akan mengambil alih seluruh lini perekonomian.
Pemerintah ingin swasta menemukan bisa berperan lebih besar dalam perekonomian namun pada jalan yang benar.
“Tapi sebaliknya kita tidak boleh merasa bahwa negara akan berbuat semuanya,
Kita tidak ingin, kita ingin justru menemukan peran swasta yang lebih besar tapi besar tapi bener jangan besar tidak bener,” kata dia.
(TribunTrends/Tribunnews/Pravitri Retno/Kompas.com)