TRIBUNTRENDS.COM - Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, kebahagiaan besar menyelimuti rumah sederhana milik Sugiarto di Dusun Duwet, Desa Karangrejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar.
Salah satu sapi kontes peliharaannya terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo Subianto untuk Iduladha tahun ini.
Sapi jenis simental bernama “Ragil” itu bukan sapi biasa. Dengan bobot mencapai 1.103 kilogram atau lebih dari satu ton, Ragil menjadi salah satu sapi unggulan yang mencuri perhatian dalam berbagai ajang kontes ternak.
Presiden Prabowo disebut membeli sapi tersebut dengan harga fantastis, yakni Rp110 juta.
Baca juga: Selama Ini Dikira Ramai, Kabupaten Karanganyar Ternyata Masuk Daftar Daerah yang Dijauhi Wisatawan
Bagi Sugiarto, terpilihnya Ragil menjadi sapi kurban Presiden merupakan kebanggaan besar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Siapa sih yang tidak senang, peternak lokal (Karanganyar) bisa dipilih untuk sapi kurban Presiden Prabowo, tentu bangga sekali,” kata Sugiarto kepada awak media dikutip TribunTrends, Rabu (20/5/2026).
Ia mengaku awalnya hanya menekuni dunia kontes sapi sebagai hobi. Namun dari kegemarannya itu, justru lahir pencapaian yang kini menjadi kebanggaan keluarga sekaligus masyarakat sekitar.
Perjalanan Ragil hingga akhirnya dipilih pemerintah ternyata tidak instan.
Sugiarto menjelaskan, sapi tersebut telah beberapa kali mengikuti kontes sapi di berbagai daerah.
Ajang pertama diikuti di Boyolali. Setelah itu Ragil kembali dibawa mengikuti kompetisi di Jember hingga Wonosobo.
Dari berbagai kontes tersebut, kualitas fisik dan kesehatan Ragil mulai dikenal luas, termasuk oleh dinas peternakan.
“Ikut kontes sapi harus mengurus SKKH dan surat kesehatan. Jadi dinas sudah tahu kondisi sapi saya. Lalu saya ditawari untuk diusulkan sapi kurban Presiden,” ujarnya.
Prestasi Ragil juga cukup membanggakan. Dalam beberapa ajang kontes, sapi itu konsisten masuk jajaran 10 besar.
Di Boyolali, Ragil menempati posisi kedelapan. Pada ajang Bupati Cup Jember, sapi tersebut berhasil meraih posisi keempat. Sementara di Wonosobo, Ragil berada di peringkat keenam.
“Alhamdulillah selalu masuk 10 besar,” katanya.
Baca juga: Video Peresmian Jembatan 4 Meter di Karanganyar Viral, Meriah dan Dihadiri Bupati hingga Kapolres
Meski kini sapinya dibeli Presiden, Sugiarto menegaskan dirinya bukan peternak besar yang fokus pada bisnis pembibitan.
Menurutnya, aktivitas memelihara sapi kontes lebih banyak berawal dari kecintaan dan hobi pribadi.
Ragil sendiri tidak dipelihara sejak lahir.
Sapi tersebut dibeli ketika usianya sekitar satu tahun lebih sedikit. Kini umur Ragil mencapai sekitar dua tahun enam bulan.
Ada cerita tersendiri di balik nama sapi tersebut.
Sugiarto mengungkapkan, nama “Ragil” diambil dari nama adiknya yang dulu ikut merawat sapi itu.
Namun karena sang adik kini bekerja di luar negeri, seluruh perawatan akhirnya dilanjutkan oleh dirinya.
“Dulu yang merawat adik saya yang ragil, jadi saya namakan Ragil,” katanya.
Baca juga: Di Balik Megahnya 146 Kopdes Merah Putih Karanganyar, Kades Ngaku Masih Gelap Soal Sistem Permodalan
Menjelang Idul Adha, Sugiarto mengaku tidak memberikan perlakuan berlebihan kepada Ragil. Ia tetap merawat sapi itu seperti biasa dengan menjaga pola makan dan kesehatannya.
Selain pakan rutin, Ragil juga diberi tambahan empon-empon atau rempah-rempah tradisional Jawa seperti jahe dan kunyit untuk menjaga stamina.
“Perawatannya sama seperti biasa, dikasih empon-empon juga,” ujarnya.
Saat ini kandang Ragil juga dibatasi dari terlalu banyak kunjungan warga agar sapi tidak stres sebelum dikirim.
“Takut stres kalau terlalu banyak yang melihat,” katanya.
Meski sudah dipastikan terpilih menjadi sapi kurban Presiden, Sugiarto mengaku masih menunggu surat resmi terkait jadwal pengambilan Ragil.
Di kandangnya sendiri, ia masih memiliki tiga sapi muda lain yang dipersiapkan untuk mengikuti kontes berikutnya.
Keberhasilan Ragil kini menjadi pengalaman pertama sekaligus pencapaian terbesar bagi Sugiarto selama menekuni dunia peternakan sapi kontes.
Ia berharap kisah tersebut dapat menjadi motivasi bagi peternak lokal lain agar terus meningkatkan kualitas ternak mereka dan berani bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)